Sidrap, katasulsel.com — Tidak semua “operasi” polisi berakhir dengan penangkapan.
Ada yang berakhir dengan senyum petani.
Kamis siang itu, 13 Agustus 2026, hamparan sawah di Desa Aka-Akae, Kecamatan Watang Sidenreng, tidak sedang menghadapi hama. Tidak pula diterpa banjir.
Musuhnya justru sesuatu yang tak terlihat bergerak, tetapi perlahan mengancam: kekeringan.
Saluran air yang biasanya menghidupi tanaman padi mulai kehilangan debit. Tanah retak. Padi mulai merunduk kehausan.
Di tengah kondisi itu, suara mesin besar terdengar mendekat.
Bukan traktor.
Bukan pula pompa air.
Melainkan kendaraan taktis water cannon milik Polres Sidrap.
Kendaraan yang lazimnya hadir di tengah demonstrasi dan keramaian massa itu kali ini mengambil peran yang sama sekali berbeda.
Ia datang membawa air.
Datang membawa harapan.
Personel Satuan Samapta Polres Sidrap yang dipimpin Kasat Samapta AKP Aiyub mengarahkan semprotan air ke lahan persawahan milik H. Mustamin (50) seluas sekitar 80 are.
Satu per satu petak sawah yang mulai mengering mendapat pasokan air darurat.
Pemandangan itu menarik perhatian warga sekitar.
Jarang ada kendaraan pengendali massa bekerja di tengah hamparan padi.
Namun di Sidrap, daerah yang hidup dari sektor pertanian, situasinya berbeda.
Ketika sawah membutuhkan bantuan, semua sumber daya bisa bergerak.
Karena di daerah yang dijuluki lumbung pangan Sulawesi Selatan ini, menjaga sawah sama artinya menjaga kehidupan ribuan keluarga.
H. Mustamin mengaku lega melihat tanamannya kembali mendapatkan air.
Baginya, bantuan itu bukan sekadar semprotan dari kendaraan polisi.
Melainkan penyelamat bagi tanaman yang selama beberapa hari terakhir mulai terancam kekeringan.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Polres Sidrap yang telah membantu kami,” katanya.
Di balik aksi sederhana itu tersimpan pesan yang lebih besar.
Bahwa tugas kepolisian tidak selalu hadir dalam bentuk patroli atau penegakan hukum.
Kadang hadir dalam bentuk kepedulian.
Kadang hadir dalam bentuk air.
Dan siang itu, di Desa Aka-Akae, water cannon tidak sedang mengurai kerumunan.
Ia sedang menjaga bulir-bulir padi agar tetap tumbuh.
Sebab di Sidrap, menjaga keamanan bukan hanya menjaga manusia.
Tetapi juga menjaga sawah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
