Sidrap, Katasulsel.com — Di balik hamparan sawah yang menghijau dan geliat ekonomi yang terus tumbuh, Kabupaten Sidenreng Rappang kembali mencatat kabar yang membanggakan.
Kali ini bukan soal panen raya, bukan pula prestasi olahraga atau penghargaan seremonial.
Yang dicatat adalah sesuatu yang jauh lebih penting: semakin sedikit warga Sidrap yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia menunjukkan angka kemiskinan ekstrem di Kabupaten Sidrap pada tahun 2025 turun menjadi 0,94 persen. Setahun sebelumnya, angka tersebut masih berada di level 1,57 persen.
Artinya, dalam satu tahun terakhir, Sidrap berhasil menurunkan kemiskinan ekstrem sebesar 0,63 persen.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat kecil.
Namun bagi keluarga yang berhasil keluar dari kondisi hidup paling rentan, angka tersebut adalah perubahan besar.
Sebab kemiskinan ekstrem bukan sekadar soal penghasilan rendah.
Ia adalah kondisi ketika kebutuhan dasar hidup sering kali sulit terpenuhi.
Sidrap di Puncak Sulawesi Selatan
Capaian tersebut menempatkan Sidrap sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem terendah di Sulawesi Selatan.
Bahkan, di kawasan Pulau Sulawesi, Sidrap menjadi salah satu daerah dengan angka kemiskinan ekstrem paling rendah.
Ini bukan pencapaian yang datang dalam semalam.
Di balik angka itu terdapat ribuan jam kerja aparat pemerintah, pendamping sosial, penyuluh pertanian, tenaga kesehatan, guru, aparat desa, hingga masyarakat yang ikut bergerak bersama.
Ketika Sawah Menjadi Benteng Kesejahteraan
Banyak pihak menilai keberhasilan Sidrap tidak bisa dilepaskan dari strategi pembangunan yang bertumpu pada kekuatan daerah sendiri.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, sektor pertanian menjadi mesin utama yang menggerakkan ekonomi masyarakat.
Ketika produksi meningkat, petani memperoleh pendapatan yang lebih baik.
Ketika pendapatan membaik, daya beli masyarakat ikut naik.
Dan ketika ekonomi desa bergerak, peluang keluar dari kemiskinan menjadi semakin besar.
Karena itu, keberhasilan menekan kemiskinan ekstrem di Sidrap tidak hanya lahir dari bantuan sosial, tetapi juga dari upaya memperkuat sumber penghasilan masyarakat.
Warisan Kerja Bersama
Di bawah kepemimpinan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, berbagai program pengentasan kemiskinan dijalankan secara simultan.
Mulai dari penguatan sektor pertanian, pemberdayaan UMKM, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran, hingga pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Hasilnya kini mulai terlihat.
Sidrap tidak hanya berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem, tetapi juga sebelumnya mendapat pengakuan dari Menteri Dalam Negeri sebagai Kabupaten Terbaik I Regional Sulawesi dalam Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting.
Penghargaan itu kini seperti menemukan pembenarannya melalui data terbaru yang dirilis BPS.
Lebih dari Sekadar Statistik
Bupati Syaharuddin Alrif menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hanya soal angka.
Menurutnya, setiap penurunan statistik kemiskinan sesungguhnya merepresentasikan perubahan hidup masyarakat.
“Penurunan kemiskinan ekstrem ini adalah bukti bahwa pembangunan yang terarah, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan masyarakat mampu menghasilkan perubahan nyata,” ujarnya.
Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya gedung yang berdiri atau jalan yang terbangun.
Tetapi juga berapa banyak warga yang kehidupannya menjadi lebih baik.
Sidrap dan Mimpi Menjadi Daerah Sejahtera
Angka 0,94 persen memang belum berarti pekerjaan selesai.
Masih ada warga yang membutuhkan perhatian.
Masih ada keluarga yang harus dibantu agar benar-benar keluar dari kemiskinan.
Namun setidaknya, data terbaru ini menunjukkan bahwa Sidrap sedang bergerak ke arah yang benar.
Dan di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi banyak daerah, Bumi Nene Mallomo berhasil mengirimkan pesan optimistis:
Bahwa kemiskinan bisa ditekan, kesejahteraan bisa ditingkatkan, dan pembangunan yang tepat sasaran benar-benar mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Kini, ketika angka kemiskinan ekstrem Sidrap telah turun di bawah satu persen, yang tersisa bukan hanya kebanggaan.
Tetapi juga harapan bahwa suatu hari nanti, tidak ada lagi warga Sidrap yang harus hidup dalam kemiskinan ekstrem.(*)
