Sidrap, Katasulsel.com — Di tengah era ketika jabatan sering diukur dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki, sebagian masyarakat justru memiliki ukuran yang berbeda: seberapa dekat seorang pemimpin dengan rakyatnya.
Ukuran itulah yang menjadi dasar pembaca Katasulsel.com dalam Polling “Camat Merakyat” yang diumumkan 3 Juni 2026 lalu.
Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Andi Mukti Ali, camat yang berhasil menempati posisi kedua dalam polling tersebut setelah Rdwan Bachtiar, camat Tellu Limpoe.
Bagi sebagian orang, capaian itu mungkin hanya angka. Namun baginya, penghargaan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam.
“Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT atas capaian ini. Ini bukan hanya kebanggaan bagi saya pribadi, tetapi juga bagi seluruh masyarakat dan jajaran pemerintahan di kecamatan yang saya pimpin,” ujarnya saat diwawancarai Katasulsel.com, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan semata-mata tentang dirinya, melainkan refleksi hubungan yang terbangun antara pemerintah dan masyarakat.
Ia meyakini, kedekatan dengan warga bukan sekadar strategi birokrasi, melainkan fondasi utama dalam menciptakan pelayanan publik yang efektif.
Karena itu, hasil polling yang diberikan masyarakat dianggap sebagai bentuk kepercayaan yang harus dijaga, bukan dirayakan secara berlebihan.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat, perangkat desa dan kelurahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta semua pihak yang selama ini menjadi mitra dalam membangun daerah,” katanya.
Penghargaan yang Menjadi Pengingat
Menariknya, camat tersebut tidak memandang posisi kedua sebagai garis akhir.
Sebaliknya, ia menganggap hasil polling sebagai pengingat bahwa tugas melayani masyarakat masih harus terus ditingkatkan.
Baginya, penghargaan yang datang dari masyarakat justru menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar.
“Kepercayaan ini menjadi motivasi untuk terus hadir di tengah masyarakat, mendengar aspirasi mereka, dan memberikan pelayanan yang cepat, ramah, serta responsif,” ujarnya.
Pandangan itu menunjukkan satu hal penting: pemimpin yang dekat dengan rakyat bukan lahir dari pencitraan sesaat, melainkan dari konsistensi hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Karier yang Dibangun dari Pengabdian
Saat ditanya mengenai perjalanan hingga dipercaya menjadi camat, ia mengaku tidak ada jalan pintas dalam karier yang dijalaninya.
Setiap jabatan yang pernah diemban menjadi ruang belajar untuk memahami kebutuhan masyarakat sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan publik.
Menurutnya, pengalaman bertugas di berbagai posisi pemerintahan mengajarkan bahwa inti dari birokrasi bukanlah kekuasaan, melainkan pengabdian.
Dari situlah ia membangun prinsip kepemimpinan yang sederhana: mendengar lebih banyak, bekerja lebih nyata, dan selalu membuka ruang komunikasi dengan masyarakat.
Ketika Warga Menjadi Juri
Polling Camat Merakyat yang digelar Katasulsel.com pada dasarnya bukan sekadar kompetisi popularitas.
Lebih dari itu, polling tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan apresiasi kepada pemimpin yang mereka nilai dekat, mudah ditemui, dan responsif terhadap kebutuhan warga.
Karena itu, hasil yang diperoleh para peserta bukan hanya angka dukungan, tetapi juga gambaran tingkat kepercayaan publik.
Bagi sang peraih posisi kedua, penghargaan itu akan menjadi bahan bakar untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.
“Menjadi Juara 2 bukan akhir perjalanan. Justru ini menjadi penyemangat agar kami bisa bekerja lebih baik lagi demi mewujudkan kecamatan yang maju, sejahtera, dan harmonis,” tuturnya.
Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari predikat “Camat Merakyat”: bukan tentang siapa yang paling banyak dikenal, tetapi siapa yang paling banyak dirasakan kehadirannya oleh masyarakat.(*)
