Jakarta, Katasulsel.com — Tidak semua kritik terhadap kebijakan pemerintah mendapat perhatian luas. Setiap hari, media sosial dipenuhi komentar, unggahan, dan perdebatan yang silih berganti. Sebagian viral sesaat lalu menghilang, sebagian lainnya tenggelam tanpa jejak. Namun dalam beberapa hari terakhir, sebuah potongan perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru membuat publik berhenti sejenak dan memperhatikan sosok yang menyampaikannya.

Sosok itu adalah Fatimah Az-Zahra, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2026.

Dalam diskusi yang disiarkan CNN Indonesia, Fatimah mempertanyakan prioritas pembangunan yang ditempuh pemerintah. Ketika MBG dipaparkan sebagai program yang dapat meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus memberi dampak ekonomi, ia mengajukan pertanyaan lain: bagaimana dengan persoalan pendidikan dan infrastruktur yang hingga kini masih menjadi tantangan di berbagai daerah?

Perdebatan mengenai substansi MBG bukanlah hal baru. Yang menarik perhatian publik justru cara pertanyaan itu disampaikan. Tanpa retorika yang berlebihan, tanpa serangan personal, dan tanpa upaya menciptakan kontroversi, Fatimah menyampaikan kritik dalam kerangka argumentasi yang runtut. Di tengah ruang publik yang sering diwarnai polarisasi, pendekatan seperti itu menjadi sesuatu yang relatif jarang ditemukan.

Respons publik pun bermunculan. Potongan video perdebatan tersebut beredar luas di berbagai platform media sosial dan memicu diskusi yang melampaui isu MBG itu sendiri. Perbincangan berkembang pada satu pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana suara mahasiswa masih memiliki tempat dalam perdebatan kebijakan publik di Indonesia?

Bagi Fatimah, keterlibatan dalam isu publik bukan sesuatu yang hadir secara tiba-tiba. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2023 itu telah aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai Head of Student Legislative Commission DPM UI 2025 dan Head of CORE FKUI 2024. Di bidang akademik, ia bersama tim risetnya meraih Juara I dalam kompetisi nasional The 17th Liver Update pada 2025.

Latar belakang tersebut menunjukkan bahwa aktivitas akademik dan keterlibatan sosial tidak selalu berada pada dua kutub yang berlawanan. Di tengah jadwal kuliah yang padat, Fatimah tetap memilih terlibat dalam berbagai diskusi dan agenda kemahasiswaan yang berkaitan dengan isu-isu publik.

Dalam sebuah wawancara, ia mengaku bahwa rasa lelah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas tersebut. Namun menurutnya, semangat kembali muncul ketika gagasan yang diperjuangkan mulai mendapat perhatian.

“Ketika kita melihat apa yang kita lakukan perlahan-lahan mulai berdampak dan suara-suara kita mulai didengar, di situ kita menjadi semangat lagi,” ujarnya.

Pandangan serupa terlihat ketika ia berbicara mengenai peran mahasiswa di era media sosial. Menurutnya, menyampaikan sikap melalui platform digital tetap merupakan bentuk partisipasi warga negara selama dilakukan secara bertanggung jawab.

“Yang tidak boleh itu diam saja ketika Indonesia tidak baik-baik saja,” katanya.

Terlepas dari pro dan kontra yang menyertai pandangannya mengenai MBG, kemunculan Fatimah Az-Zahra memperlihatkan bahwa kampus masih menjadi salah satu ruang tempat gagasan dan kritik lahir. Perdebatan yang membuat namanya dikenal luas mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun respons yang muncul setelahnya menunjukkan bahwa argumentasi yang disampaikan secara jelas dan terukur masih mampu menarik perhatian publik.

Di tengah derasnya arus informasi yang terus bergerak, mungkin itulah alasan mengapa banyak orang memperhatikan Fatimah Az-Zahra. Bukan semata karena ia berbicara, melainkan karena apa yang ia sampaikan berhasil mengundang orang untuk ikut berpikir.(*)

Topik Populer: Headline Viral