Luwu Timur, katasulsel.com — Viralnya video pengisian BBM dalam jumlah besar di SPBU Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, langsung menyulut perhatian warga.

Dalam rekaman yang beredar luas di media sosial, disebutkan sebuah mobil jenis Isuzu Panther melakukan pengisian solar subsidi hingga mencapai Rp5 juta.

Video itu direkam oleh warga yang sedang antre solar. Terlihat kendaraan tersebut mengisi BBM dalam durasi cukup lama, memicu kecurigaan orang-orang di lokasi.

Banyak yang menduga mobil itu sudah dimodifikasi, khususnya pada tangki, agar bisa menampung solar dalam jumlah jauh di atas kapasitas normal.

Kecurigaan warga bukan tanpa alasan. Dengan harga solar subsidi sekitar Rp6.800 per liter, angka Rp5 juta dinilai sangat tidak masuk akal untuk satu kendaraan pribadi.

Dugaan pun mengarah pada praktik pelangsir atau bahkan jaringan mafia BBM subsidi yang selama ini sering dikeluhkan masyarakat.

Di lapangan, kondisi seperti ini memang sering jadi sumber keresahan. Warga yang benar-benar membutuhkan solar subsidi untuk aktivitas sehari-hari, seperti nelayan atau petani, justru harus antre panjang.

Sementara ada dugaan pihak tertentu bisa mengisi dalam jumlah besar tanpa hambatan.

Desakan pun muncul agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum turun tangan.

Warga meminta pengawasan diperketat dan tidak ada lagi toleransi terhadap praktik curang yang merugikan banyak orang.

Menanggapi viralnya video tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi akhirnya buka suara.

Bersama pihak kepolisian, mereka langsung melakukan pengecekan awal dengan memanggil pengelola SPBU serta menelusuri data transaksi dan rekaman CCTV.

Hasil sementara justru menunjukkan fakta berbeda dari narasi yang beredar. Nilai transaksi pengisian BBM itu disebut hanya berada di kisaran Rp500 ribuan, bukan Rp5 juta seperti yang viral.

Sales Branch Manager Sulselbar I Fuel, Mohammad Yoga Prabowo, menjelaskan bahwa data transaksi dan rekaman CCTV sudah diperiksa.

Dari hasil awal, pengisian tersebut tercatat sebagai transaksi yang berlangsung normal, dan sudah diklarifikasi bersama pihak SPBU serta kepolisian.

Meski begitu, persoalan tidak berhenti di situ. Pertamina justru menemukan kejanggalan lain. Nilai transaksi sekitar Rp500 ribu tetap dinilai tidak sepenuhnya wajar jika dibandingkan dengan kapasitas tangki standar kendaraan tersebut.

Sebagai gambaran, tangki Isuzu Panther umumnya hanya mampu menampung sekitar 55 liter.

Jika dihitung dengan harga solar subsidi, total pengisian seharusnya berada di kisaran Rp374 ribu. Selisih inilah yang kemudian memicu investigasi lanjutan.

……………..

Pihak Pertamina Patra Niaga menegaskan akan mendalami kasus ini lebih jauh. Jika ditemukan adanya pelanggaran, baik dari sisi kendaraan maupun pengelola SPBU, sanksi tegas dipastikan akan diberikan sesuai aturan yang berlaku.

Di sisi lain, Area Manager Communication Pertamina wilayah Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menyampaikan bahwa laporan dari masyarakat sangat penting dalam pengawasan distribusi BBM subsidi.

Ia mengapresiasi warga yang aktif melaporkan kejadian di lapangan.

Kasus ini kembali membuka fakta lama: distribusi BBM subsidi masih menyimpan banyak celah.

Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga agar subsidi tepat sasaran. Tapi di sisi lain, dugaan penyalahgunaan masih terus muncul dengan berbagai modus.

Bagi masyarakat kecil, persoalan ini bukan sekadar angka atau selisih transaksi. Ini soal akses terhadap energi yang seharusnya mereka dapatkan dengan adil.

Ketika ada pihak yang diduga bermain, dampaknya langsung terasa di antrean panjang dan kelangkaan di lapangan.

Kini, publik menunggu hasil investigasi lanjutan. Apakah ini hanya kesalahpahaman akibat video viral, atau justru pintu masuk untuk membongkar praktik yang lebih besar.

Yang jelas, kepercayaan masyarakat terhadap distribusi BBM subsidi sangat bergantung pada seberapa transparan dan tegas penanganan kasus seperti ini. (*)

Merangkai data dan peristiwa menjadi narasi yang hidup dan informatif