Sidrap, katasulsel.com — Di tengah meningkatnya transmisi Campak yang dikenal memiliki basic reproduction number (R0) tinggi dan sangat infeksius melalui droplet maupun airborne, Kabupaten Sidenreng Rappang menegaskan situasi masih berada dalam batas terkendali.

Hingga kini, tidak tercatat adanya kasus kematian, meski terjadi akumulasi kasus dalam beberapa bulan terakhir.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Sidrap, Dr Ishak Kenre, menyebut respons daerah berjalan dengan pendekatan berbasis surveilans aktif, tata laksana klinis terstandar, serta penguatan sistem kewaspadaan dini.

“Seluruh kasus kami tangani dengan clinical management sesuai pedoman, disertai epidemiological surveillance yang ketat. Yang paling penting, tidak ada fatality case di Sidrap,” ujarnya.

Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kementerian Kesehatan mencatat 117 kasus suspek sejak Januari hingga minggu ke-17 tahun 2026, dengan 20 kasus terkonfirmasi positif.

Mayoritas terjadi pada anak usia di bawah 15 tahun, namun tren kasus pada kelompok dewasa mulai muncul sebagai indikator adanya immunity gap dalam populasi.

Fenomena ini menjadi perhatian karena mengindikasikan kemungkinan penurunan cakupan imunisasi dasar maupun kekebalan yang tidak bertahan (waning immunity), sehingga membuka celah transmisi di komunitas dengan mobilitas tinggi.

Sejumlah kasus juga sempat tertangani di fasilitas layanan kesehatan seperti RSUD Nene Mallomo, yang memperlihatkan pola klinis khas campak mulai dari demam tinggi, konjungtivitis, batuk, hingga rash makulopapular yang menyebar sistemik.

Dalam konteks pengendalian, Dinas Kesehatan Sidrap mengaktifkan respons berbasis outbreak investigation, termasuk contact tracing, line listing kasus, serta pengambilan spesimen untuk konfirmasi laboratorium. Pendekatan ini bertujuan memutus rantai penularan (chain of transmission) sedini mungkin.

Di sisi layanan kesehatan, penguatan infection prevention and control (IPC) diperketat melalui triase berbasis gejala infeksius, isolasi pasien, serta penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk mencegah nosokomial transmission di fasilitas kesehatan.

Upaya proteksi tenaga kesehatan juga diperkuat melalui vaksinasi Vaksin MR, yang saat ini dilaksanakan di berbagai fasilitas, termasuk RSUD Arifin Nu’mang. Langkah ini menjadi bagian dari strategi membangun barrier imunologis pada kelompok dengan risiko paparan tertinggi.

Selain intervensi klinis, Sidrap juga memperkuat surveillance sensitivity melalui pelaporan cepat kasus suspek dalam 24 jam, serta integrasi data dengan sistem nasional SKDR untuk memastikan deteksi dini potensi klaster.

“Campak ini bukan sekadar kasus individu, tapi potensi cluster outbreak jika surveillance terlambat. Karena itu kami perkuat dari hulu sampai hilir,” kata Dr Ishak.

Di tingkat komunitas, strategi public health intervention difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi, khususnya melalui posyandu, serta penguatan herd immunity untuk menutup celah transmisi virus di populasi rentan.

Dengan kombinasi surveilans epidemiologi, respons klinis cepat, serta intervensi imunisasi terarah, Pemerintah Kabupaten Sidrap menyebut situasi masih terkendali dan belum mengarah pada kejadian luar biasa (KLB). (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.