Makassar, katasulsel.com — Sejarah Kota Makassar tidak bisa dilepaskan dari dinamika perdagangan global dan kekuatan maritim Nusantara. Kota ini bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Tallo pada penghujung abad ke-15, yang kala itu masih berada di bawah pengaruh Kerajaan Siang di wilayah Pangkajene.
Transformasi besar terjadi ketika Kerajaan Tallo bersatu dengan Kerajaan Gowa, membentuk kekuatan baru Gowa-Tallo yang kemudian berkembang menjadi pusat kekuasaan dan perdagangan di kawasan timur Indonesia.
Seiring meningkatnya aktivitas pertanian di hulu Sungai Tallo yang menyebabkan pendangkalan, pusat bandar dipindahkan ke muara Sungai Jeneberang. Di wilayah inilah dibangun pusat pemerintahan dan pertahanan, termasuk Benteng Somba Opu yang menjadi simbol kejayaan Makassar.
Pada masa keemasan, terutama di era Sultan Alauddin, Makassar berkembang menjadi bandar niaga internasional yang menghubungkan perdagangan dari Maluku, India, Timur Tengah hingga Cina. Komoditas utama seperti beras ditukar dengan rempah-rempah dan barang manufaktur.
Hanya dalam waktu sekitar satu abad, Makassar menjelma menjadi salah satu kota terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 100 ribu jiwa—melampaui kota-kota besar Eropa seperti Amsterdam pada masa itu.
Kejayaan ini didukung oleh keterbukaan Makassar sebagai kota kosmopolitan. Saudagar Melayu, Arab, India, hingga Eropa menjadikan kota ini sebagai simpul perdagangan global (global trading hub).
Masuknya Islam juga menjadi titik penting dalam sejarah kota ini. Penyebaran Islam dimulai oleh Dato’ Ri Bandang yang mengislamkan Raja Gowa XIV, yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sejak 9 November 1607, Makassar resmi menjadi kerajaan Islam—tanggal yang kini diperingati sebagai hari jadi Kota Makassar.
Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung selamanya. Konflik dengan VOC berujung pada Perjanjian Bungaya, yang menjadi awal kemunduran Kerajaan Gowa-Tallo.
Puncaknya terjadi pada 1669 ketika Benteng Somba Opu dihancurkan, dan Makassar jatuh ke tangan VOC. Kota ini kemudian direkonstruksi menjadi pusat kolonial dengan benteng baru bernama Fort Rotterdam.
Memasuki abad ke-18 hingga ke-19, Makassar sempat mengalami kemunduran sebelum akhirnya bangkit kembali sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Sejak itu, aktivitas ekonomi meningkat pesat dan Makassar kembali menjadi bandar internasional.
Pada awal abad ke-20, Makassar bahkan dijuluki sebagai “kota kecil terindah di Hindia Belanda” oleh penulis dunia Joseph Conrad, sekaligus menjadi pusat pemerintahan kolonial di Indonesia Timur.
Perjalanan panjang kota ini juga ditandai dengan perubahan nama menjadi Ujung Pandang pada tahun 1971, sebelum akhirnya dikembalikan menjadi Makassar pada 1999.
Kini, Makassar bukan hanya kota metropolitan di timur Indonesia, tetapi juga warisan sejarah panjang sebagai pusat perdagangan, peradaban, dan interaksi global.(*)
