Makassar, katasulsel.com — Banyak yang mengenal Makassar sebagai kota pelabuhan. Tapi tak banyak yang tahu, dalam catatan sejarah dunia, Makassar pernah menjadi salah satu kota paling maju dan kosmopolitan di planet ini—bahkan melampaui kota-kota besar Eropa pada zamannya.
Dalam lintasan sejarah Kota Makassar, kota ini bukan sekadar bandar niaga, melainkan global knowledge hub—pusat pertukaran ilmu, budaya, dan teknologi lintas benua.
Pada abad ke-17, saat sebagian besar kota di Eropa masih berkembang perlahan, Makassar sudah dihuni lebih dari 100 ribu jiwa. Sebagai perbandingan, Amsterdam saat itu bahkan belum menyentuh angka tersebut.
Namun yang paling mencengangkan bukan hanya jumlah penduduknya—melainkan cara berpikir pemimpinnya.
Di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa dan Tallo, Makassar berkembang sebagai kota terbuka (open port system), tempat saudagar Melayu, Arab, India, hingga Eropa bertemu tanpa sekat monopoli.
Makassar tidak sekadar berdagang—Makassar menyerap dunia.
Para sultan Gowa-Tallo dikenal memiliki visi jauh melampaui zamannya. Mereka memesan bola dunia, peta navigasi, hingga teropong canggih langsung dari Eropa—di saat benda-benda tersebut masih langka bahkan di benua asalnya.
Ini menjadikan Makassar sebagai salah satu “perpustakaan hidup” terbesar pada era itu—sebuah creative renaissance di timur Nusantara.
Tak hanya itu, kota ini juga menjadi pusat redistribusi komoditas global. Beras dari Sulawesi ditukar dengan rempah Maluku, lalu diperdagangkan kembali bersama barang dari India, Timur Tengah, dan Cina.
Yang unik, Makassar bahkan punya “ekonomi maritim spesialisasi”. Masyarakat pesisir, terutama dari kawasan Spermonde, menjelajah hingga Australia utara hanya untuk mencari teripang—komoditas premium bagi pasar Cina saat itu.
Artinya, globalisasi bukan barang baru bagi Makassar—ia sudah terjadi ratusan tahun lalu.
Namun, kejayaan itu harus runtuh akibat konflik geopolitik dengan VOC. Melalui Perjanjian Bungaya, Makassar dipaksa tunduk, hingga akhirnya Benteng Somba Opu dihancurkan pada 1669.
Sejak saat itu, wajah kota berubah drastis. Dari kota global menjadi kota kolonial yang dibatasi aktivitasnya.
VOC kemudian membangun ulang pusat kekuasaan di sekitar Fort Rotterdam, menjadikan Makassar hanya sebagai pos dagang, bukan lagi pusat peradaban.
Meski sempat “diredupkan”, jejak kejayaan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Hari ini, Makassar berdiri sebagai kota metropolitan di Indonesia Timur. Tapi di balik hiruk pikuk modernnya, tersimpan narasi besar: Makassar pernah menjadi kota dunia, jauh sebelum istilah globalisasi dikenal manusia. (*)
