Sidrap, Katasulsel.com — Senin, 26 Oktober 2026, Monumen Ganggawa di Pangkajene akan menjadi tempat bertemunya dua hal yang sering berjalan beriringan, tetapi belum tentu selalu searah: aspirasi pemuda dan kebijakan pemerintah.

Karang Taruna Kabupaten Sidenreng Rappang menyiapkan sebuah forum bertajuk Tudang Sipulung Kebangsaan: Forum Dialog Terbuka Pemuda Sidrap 2026. Persiapannya dikabarkan telah mencapai 80 persen.

Tetapi ukuran keberhasilan forum ini bukan seberapa ramai kursi terisi, berapa banyak pejabat datang, atau seberapa panjang daftar narasumber yang duduk di depan.

Ukuran sesungguhnya justru terletak pada apa yang terjadi setelah mikrofon dimatikan.

Apakah suara pemuda hanya menjadi bahan diskusi sehari, atau benar-benar masuk ke dalam agenda pembangunan daerah?

Pertanyaan itulah yang membuat forum ini menarik untuk diperhatikan.

Bukan sekadar memperingati Sumpah Pemuda

Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tingkat Kabupaten Sidrap, dengan tema “Mimbar Suara Pemuda: Dari Gagasan Menjadi Gerakan, Dari Aspirasi Menjadi Kebijakan, untuk Sidrap Maju dan Sejahtera”.

Tema itu membawa pesan yang cukup jelas. Pemuda tidak ingin sekadar hadir dalam seremoni, berfoto bersama, lalu pulang membawa dokumentasi kegiatan.

Mereka ingin gagasannya didengar. Lebih jauh, mereka ingin gagasan itu punya jalan menuju kebijakan.

Ketua Panitia, Muhammad Rizal, mengatakan persiapan kegiatan telah mencapai sekitar 80 persen. Panitia masih mematangkan kesiapan narasumber, distribusi undangan, peserta, dan kebutuhan teknis di lokasi.

“Alhamdulillah, persiapan panitia sudah mencapai sekitar 80 persen. Kami terus memastikan seluruh unsur pendukung kegiatan siap, baik narasumber, peserta, maupun teknis pelaksanaan. Harapan kami, kegiatan ini berjalan lancar dan menjadi ruang dialog yang produktif bagi kemajuan Sidrap,” ujar Rizal.

Undangan disiapkan untuk berbagai unsur, mulai dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD), organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, insan pers, lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa, pelajar, hingga komunitas pemuda.

Komposisi peserta yang beragam itu membuka peluang bagi forum untuk membicarakan persoalan daerah dari berbagai sudut pandang.

Namun, banyaknya unsur yang diundang baru menjadi modal awal. Dialog yang bermakna membutuhkan kesempatan berbicara yang setara, keterbukaan menerima kritik, dan kesediaan menindaklanjuti masukan.

Pejabat hadir, aspirasi jangan berhenti di ruangan

Ketua Karang Taruna Sidrap, Dr. Abdul Jabbar A., S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa Tudang Sipulung Kebangsaan tidak dimaksudkan sebagai agenda seremonial belaka.

Wakil Dekan I FISIP UMS Rappang itu ingin forum tersebut menjadi ruang silaturahmi, refleksi, sekaligus konsolidasi gagasan untuk menjawab tantangan pembangunan daerah.

“Melalui Tudang Sipulung Kebangsaan, kita ingin mempertemukan ide, gagasan, dan aspirasi pemuda dengan para pengambil kebijakan. Kita ingin pemuda tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi tampil sebagai bagian dari solusi, mitra strategis pemerintah, dan penggerak perubahan sosial,” katanya.

Pernyataan itu menyentuh persoalan mendasar dalam pembangunan daerah: partisipasi tidak cukup hanya dengan mengundang masyarakat ke sebuah forum.

Partisipasi menjadi berarti ketika masyarakat memiliki kesempatan menyampaikan persoalan, mendapatkan tanggapan, dan mengetahui apa yang akan dilakukan terhadap usulan mereka.

Pemuda, misalnya, bisa membawa persoalan lapangan kerja, pemberdayaan ekonomi, akses pendidikan, penyalahgunaan narkoba, keamanan lingkungan, hingga ruang bagi kreativitas dan inovasi anak muda.

Persoalannya bukan semata-mata apakah semua tema itu bisa dibicarakan. Yang lebih penting, apakah ada persoalan yang dipilih sebagai prioritas, siapa yang bertanggung jawab menanganinya, dan bagaimana perkembangan tindak lanjutnya bisa diketahui masyarakat.

Di titik itulah dialog bisa bergerak dari percakapan menuju kerja nyata.

Abdul Jabbar juga menekankan bahwa pembangunan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah.

“Sidrap Maju dan Sejahtera harus menjadi cita-cita bersama. Karena itu, perbedaan pandangan jangan menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi kekuatan untuk melahirkan gagasan dan solusi. Kita ingin membangun budaya dialog: saling mendengar, saling menghargai, dan bersama-sama bergerak untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Dari bupati hingga aktivis pemuda

Panitia merancang forum ini dengan menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah daerah, legislatif, TNI-Polri, lembaga pencegahan narkoba, akademisi, dan aktivis kepemudaan.

Nama-nama yang tercantum dalam publikasi kegiatan meliputi:

  • H. Syaharuddin Alrif — Bupati Sidenreng Rappang.
  • Nur Kanaah — Wakil Bupati Sidenreng Rappang.
  • H. Takyuddin Masse — Ketua DPRD Sidrap.
  • Letkol Inf. Andi Zulham Asdar — Dandim 1420 Sidrap.
  • AKBP Indra Waspada Yuda — Kapolres Sidrap.
  • M. Arsul — Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sidrap.
  • Syahril Said — Kepala BNNK Sidrap.
  • Dr. Muhammad Aries Yasin — Kepala Disporapar Sidrap.
  • Saifullah — akademisi dan aktivis pemuda.

Kehadiran unsur-unsur tersebut diharapkan membuka ruang diskusi tentang pembangunan kepemudaan, demokrasi, persatuan, keamanan dan ketertiban masyarakat, pencegahan narkoba, serta pemberdayaan ekonomi.

Daftar narasumber yang beragam memberi kesempatan untuk mempertemukan sudut pandang yang berbeda. Pemerintah memiliki kewenangan menjalankan program, legislatif menjalankan fungsi perwakilan dan pengawasan, aparat memiliki tugas sesuai bidangnya, sedangkan pemuda dan masyarakat membawa pengalaman langsung dari lingkungan masing-masing.

Akan tetapi, forum yang menghadirkan banyak pejabat juga memiliki tantangan tersendiri: jangan sampai peserta hanya menjadi pendengar, sementara pembicaraan didominasi paparan dari panggung.

Nama besar narasumber dapat menarik perhatian. Namun, kualitas dialog akan lebih ditentukan oleh pertanyaan yang diajukan, jawaban yang diberikan, dan ruang yang tersedia bagi suara peserta.

Yang ditunggu justru setelah acara selesai

Karang Taruna Sidrap berharap Tudang Sipulung Kebangsaan tidak berakhir sebagai diskusi sehari. Aspirasi yang muncul diharapkan dirangkum menjadi rekomendasi, agenda kolaborasi, dan gerakan bersama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Harapan tersebut membutuhkan mekanisme tindak lanjut yang jelas.

Misalnya, hasil dialog dirumuskan dalam dokumen rekomendasi, disampaikan kepada instansi terkait, lalu dipantau perkembangannya. Usulan yang belum dapat dilaksanakan pun perlu mendapat penjelasan, agar masyarakat mengetahui alasan dan jalur penyelesaiannya.

Dengan begitu, pemuda tidak sekadar merasa telah didengar. Mereka juga dapat melihat bagaimana gagasan mereka dipertimbangkan dalam proses pembangunan.

Tentu, tidak semua usulan harus langsung menjadi kebijakan. Ada persoalan yang membutuhkan kajian, anggaran, kewenangan, dan proses pengambilan keputusan. Tetapi keterbukaan mengenai proses itu sendiri merupakan bagian penting dari dialog yang sehat.

Di sinilah semangat Sumpah Pemuda memperoleh makna yang lebih konkret. Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan justru diuji ketika perbedaan dapat dibicarakan tanpa saling menyingkirkan.

Bagi Karang Taruna, pemuda perlu mengambil peran melalui kolaborasi lintas organisasi, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, pengembangan kapasitas, serta keterlibatan dalam pembangunan desa dan daerah.

Senin nanti, Monumen Ganggawa menjadi titik pertemuan yang direncanakan. Tetapi pekerjaan sesungguhnya tidak berhenti di sana.

Jika aspirasi berhasil dirumuskan menjadi rekomendasi, jika rekomendasi mendapatkan tanggapan, dan jika sebagian di antaranya berkembang menjadi tindakan nyata, forum ini akan memiliki arti lebih panjang daripada seremoni peringatan.

Sebab, masa depan Sidrap bukan hanya urusan mereka yang duduk di kursi pemerintahan. Pemuda juga memiliki kepentingan, gagasan, dan tanggung jawab terhadap daerahnya.

Dan ketika pemuda diberi ruang untuk bicara, pertanyaan berikutnya sederhana: siapa yang bersedia mendengar, dan apa yang akan dikerjakan setelahnya? (edy)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru