Tetapi justru di sinilah nilai penting Porprov. Hasil pertandingan harus menjadi bahan membaca kekuatan olahraga daerah, bukan sekadar bahan membuat perayaan ketika medali datang atau mencari alasan ketika hasil belum sesuai harapan.
Pemerintah daerah, KONI, pengurus cabang olahraga, dan pelatih perlu menjadikan kompetisi ini sebagai evaluasi terbuka.
Cabang olahraga mana yang berhasil? Nomor mana yang masih tertinggal? Atlet mana yang potensial dikembangkan untuk tingkat nasional? Di mana kelemahan pembinaan yang harus diperbaiki?
Pertanyaan seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar menghitung berapa kali nama daerah muncul di papan klasemen.
Porprov Bukan Hanya Panggung Pemenang
Pada akhirnya, Porprov bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium.
Ada atlet yang bertanding dengan segala keterbatasan. Ada pelatih yang bertahun-tahun mendampingi anak didiknya. Ada orang tua yang berharap anaknya bisa mengharumkan nama daerah.
Ada pula pemerintah daerah yang harus membuktikan bahwa anggaran pembinaan olahraga benar-benar menghasilkan sesuatu.
Pangkep sudah membuat kejutan. Makassar masih punya pekerjaan mengejar. Bone dan Wajo sedang menikmati atmosfer sebagai tuan rumah.
Untuk Enrekang, Pinrang, dan Parepare, pertandingan belum selesai.
Tetapi ada satu pesan yang sebaiknya dibawa pulang dari Porprov kali ini: jangan hanya sibuk mempersiapkan kontingen ketika pesta olahraga sudah dekat.
Siapkan atlet sejak jauh hari. Bangun kompetisi secara rutin. Perhatikan pelatih. Rawat bibit-bibit muda.
Sebab, medali emas yang terlihat berkilau di podium sesungguhnya merupakan hasil dari kerja panjang yang sering tidak terlihat.


