Sidrap, katasulsel.com β Musim kemarau mulai memperlihatkan taringnya. Debit air di sejumlah saluran irigasi menyusut, retakan tanah mulai muncul di petakan sawah, dan ancaman puso atau gagal panen perlahan menghantui petani. Namun, Kabupaten Sidenreng Rappang memilih tidak menunggu keadaan memburuk.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, turun langsung ke lapangan pada Ahad (26/7/2026). Di bawah terik matahari, ia menyusuri kawasan persawahan di Kelurahan Wette’e, Lajonga hingga Bapangi, Kecamatan Panca Lautang. Tujuannya satu, memastikan denyut produksi padi tetap hidup meski kemarau mulai menggempur.
Bagi Syaharuddin, Danau Sidenreng bukan sekadar bentang alam, melainkan “bendungan alami” yang harus dimanfaatkan untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan. Karena itu, ia menyiapkan strategi pompanisasi berskala besar agar air danau dapat dialirkan menuju lahan-lahan pertanian yang mulai mengalami kekeringan.
“Lahan pertanian di Wette’e, Lajonga, Lise hingga Alessalewo tidak boleh dibiarkan mengering, apalagi sampai gagal panen. Kita punya Danau Sidenreng dengan potensi air yang besar. Air itu harus hadir di sawah petani melalui sistem pompanisasi yang efektif,” tegas Syaharuddin Alrif.
Langkah cepat tersebut merupakan bagian dari strategi mitigasi menghadapi perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. Pemerintah Kabupaten Sidrap ingin memastikan fase vegetatif hingga generatif tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air yang cukup sehingga produktivitas gabah tidak mengalami penurunan.
Peninjauan lapangan itu juga menjadi momentum mendengar langsung suara petani. Dua persoalan utama mengemuka, yakni kebutuhan percepatan program Listrik Masuk Sawah (LMS) dan penambahan pompa irigasi berkapasitas besar.
Permintaan itu dinilai sangat rasional. Selama ini, banyak petani masih bergantung pada pompa berbahan bakar minyak yang biaya operasionalnya cukup tinggi. Kehadiran listrik di kawasan persawahan diyakini akan memangkas biaya produksi sekaligus mempercepat distribusi air ke lahan-lahan pertanian.
“Masukan dari petani sangat logis. Integrasi pompanisasi Danau Sidenreng dengan percepatan program Listrik Masuk Sawah akan segera kami tindak lanjuti. Tujuannya agar operasional pertanian semakin efisien, biaya produksi turun, dan hasil panen tetap maksimal,” ujar Syaharuddin.
Ia kemudian menginstruksikan dinas teknis untuk segera menyelesaikan pemetaan jaringan pompa, titik pengambilan air, kebutuhan instalasi listrik, hingga koordinasi lintas instansi agar program tersebut dapat direalisasikan secepatnya.
Panca Lautang sendiri merupakan salah satu kawasan strategis penyangga produksi beras di Kabupaten Sidrap. Wilayah ini memiliki kontribusi besar terhadap pencapaian Indeks Pertanaman (IP) yang selama ini menjadi kebanggaan daerah berjuluk lumbung pangan Sulawesi Selatan tersebut.
Keberhasilan menjaga ketersediaan air tidak hanya akan menyelamatkan musim tanam, tetapi juga mempertahankan produktivitas gabah, meningkatkan rendemen hasil panen, menjaga stok beras daerah, hingga memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman krisis iklim.
Turut mendampingi Bupati dalam peninjauan tersebut Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sidrap Andi Safari Renata, Camat Panca Lautang Muhammad Basri, serta jajaran pemerintah daerah.
Dengan skema pompanisasi yang tengah dipersiapkan, Pemkab Sidrap berharap aliran air dari Danau Sidenreng segera menghidupkan kembali jaringan irigasi menuju hamparan sawah di Wette’e, Lajonga, Lise, hingga Alessalewo. Bagi Syaharuddin Alrif, menjaga sawah tetap hijau bukan sekadar mempertahankan hasil panen, tetapi menjaga napas ekonomi petani sekaligus memastikan lumbung pangan Sidrap tetap berdiri kokoh menghadapi musim kemarau. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
