Reva Adi Utama: Tarkam Sulsel Itu Punya Harga Diri

SIDRAP β€” Turnamen antar kampung di Sulawesi Selatan memang punya daya pikat yang sulit dijelaskan.

Belum kickoff.

Belum ada undian grup.

Tetapi gaung Sidrap Cup 2026 sudah sampai ke pemain Liga 1.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Salah satunya datang dari kapten PSIM Yogyakarta, Reva Adi Utama.

Eks bek PSM Makassar itu terang-terangan mengaku selalu tertarik dengan atmosfer turnamen di Sulsel.

Bukan karena hadiah.

Bukan pula soal popularitas.

Tetapi karena satu hal yang jarang dimiliki daerah lain: fanatisme.

β€œDi Sulsel, fanatisme bolanya luar biasa,” kata Reva.

Kalimat itu pendek.

Tetapi cukup menggambarkan bagaimana sepak bola di Sulawesi Selatan hidup bukan hanya di stadion besar, melainkan juga di lapangan desa.

Di tempat rumput kadang tidak rata.

Di lapangan yang garis kapurnya dibuat pagi hari.

Tetapi penontonnya bisa membludak seperti final liga.

Bagi Reva, Sidrap Cup bukan sekadar turnamen tarkam biasa.

Ia menyebut kompetisi seperti ini justru menjadi denyut utama sepak bola akar rumput.

β€œTurnamen seperti ini adalah denyut nadi sepak bola kita,” ujarnya.

Pemain kelahiran Makassar, 1 September 1996 itu bahkan menilai tensi pertandingan tarkam Sulsel sering kali lebih emosional dibanding laga profesional.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kemenangan.

Tetapi gengsi kampung.

Nama daerah.

Dan kebanggaan suporter lokal.

β€œMeski labelnya tarkam, tensi dan atmosfernya seringkali tidak kalah dengan liga resmi,” katanya.

Fenomena itu memang bukan rahasia.

Di Sulsel, pemain liga yang tampil di tarkam bisa langsung disambut bak selebritas.

Lapangan penuh.

Motor berjejer di pinggir sawah.

Anak-anak berebut foto.

Sementara penonton dewasa sibuk membandingkan kualitas pemain dengan laga Liga 1 di televisi.

Reva melihat kultur seperti ini sebagai kekuatan besar sepak bola Sulsel.

Karena itu, ia meminta pemain muda daerah tidak minder meski tumbuh dengan fasilitas terbatas.

Menurutnya, sejarah sepak bola Sulsel sudah membuktikan banyak pemain besar lahir dari lapangan sederhana.

β€œSulsel punya sejarah mencetak pemain-pemain tangguh dengan mental petarung,” ucapnya.

Ia pun berharap Sidrap Cup menjadi ruang lahirnya pemain-pemain baru yang berani bermimpi lebih tinggi.

Bukan sekadar jago di kampung sendiri.

Tetapi mampu menembus sepak bola nasional.

β€œSaya ingin melihat lebih banyak lagi Ewako-Ewako muda yang berani merantau, disiplin, dan memiliki mimpi besar untuk menembus Tim Nasional,” pesannya.

Di sisi lain, Reva juga mengingatkan bahwa bakat saja tidak cukup.

Menurut dia, pembinaan pemain muda harus berjalan terus, bukan hanya ramai saat turnamen musiman hadir.

β€œKita butuh lebih banyak kompetisi kelompok umur yang teratur agar match feeling pemain terasah sejak dini,” katanya.

Ia menilai pemain Sulsel umumnya unggul dalam skill individu.

Namun untuk naik level ke sepak bola profesional, dibutuhkan disiplin taktik dan fisik yang jauh lebih kuat.

Karena itu, turnamen seperti Sidrap Cup dianggap penting sebagai ruang pembentukan mental bertanding.

β€œTurnamen seperti Sidrap Cup ini sangat bagus untuk mengasah mental kompetisi mereka sebelum masuk ke level profesional,” tandasnya. (edy)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 13 Mei 2026 13:03 WIB