Makassar, Katasulsel.com – Suasana di UPT Penilaian Potensi dan Kompetensi BKD Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Urip Sumiharjo Makassar, Rabu (22/4/2026), terasa berbeda dari biasanya.
Bukan sekadar agenda birokrasi rutin, tapi sudah seperti “arena uji nyali” bagi sembilan pejabat yang kini resmi masuk dalam gelanggang seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Eselon II.b Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Di balik meja-meja asesmen dan berkas tebal administrasi, ada tensi yang tak bisa disembunyikan: persaingan terbuka, ketat, dan tanpa jaminan nama besar akan otomatis lolos.
Empat kursi strategis yang diperebutkan bukan jabatan biasa: Kepala BKAD, Kepala BKPSDM, Kepala Dispora-Pariwisata, hingga Kepala Dinas Kesehatan. Empat titik kendali yang menentukan arah “mesin birokrasi” Sidrap ke depan.
Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, yang membuka langsung kegiatan itu, menegaskan bahwa proses ini bukan panggung formalitas, melainkan “medan pembuktian”.
“Anda adalah putra-putri terbaik Sidrap. Tapi di sini, bukan nama yang berbicara—melainkan kemampuan. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil,” tegasnya, memberi sinyal bahwa semua peserta berdiri di garis start yang sama.
Namun di balik kalimat motivatif itu, tersimpan pesan yang lebih dalam: tidak ada ruang nyaman, tidak ada kursi yang aman.
Sekretaris Daerah Sidrap sekaligus Ketua Pansel, Andi Rahmat Saleh, mendampingi jalannya pembukaan. Hadir pula Kepala BKD Sulsel, Erwin Sodding, yang menyebut tahap ini sebagai “perang pertama” para kandidat.
“Assessment Center ini bukan sekadar tes. Ini pengukuran ilmiah, valid, dan objektif. Di sinilah karakter, logika, dan ketahanan pejabat diuji,” ujarnya, menegaskan bahwa hasil tidak bisa dipengaruhi oleh faktor di luar kompetensi.
Ia bahkan menambahkan, sistem multi-asesor yang melibatkan delapan penilai untuk sembilan peserta dirancang agar tidak ada ruang bias. “Tidak ada dominasi satu suara. Semua harus berbicara dengan data,” katanya.
Di luar ruangan, atmosfer kompetisi terasa seperti bursa yang diam-diam memanas. Nama-nama yang lolos administrasi bukan nama sembarangan, tapi juga bukan jaminan akan melaju mulus.
Berikut sembilan peserta yang kini berada di “ring satu” seleksi:
- Dr. Muhammad Aries Yasin, S.Pt., M.AP.
- Dr. Ishak, SKM., M.Kes.
- Sunandar Priyoatmojo, S/E.
- Muhammad Tahir B, S.Pd., M.Si.
- Ahmad Taufik Azis, S.KM., M.Epid.
- Irwan, S.Kom., M.M.
- Fadli Yacub, SE, Ak., M.Adm.Pemb.
- A. Bustanil, S.A.P., M.A.P.
- Muhammad Tang, S.KM., M.Kes.
Di atas kertas, mereka semua memenuhi syarat. Tapi di lapangan asesmen, yang diuji bukan hanya ijazah dan pengalaman—melainkan ketahanan mental, cara berpikir, dan kemampuan membaca situasi.
Sejumlah kalangan menyebut seleksi ini sebagai “bursa panas jabatan Sidrap”, karena komposisinya relatif seimbang dan peluang masih terbuka lebar. Tidak ada dominasi mutlak, tidak ada “nama pasti”.
Justru di situlah letak ketegangannya: semua bisa naik, semua juga bisa gugur.
Dan seperti biasa dalam panggung seleksi terbuka, yang paling tenang belum tentu paling aman. Yang paling vokal pun belum tentu paling unggul.
Kini, publik Sidrap tinggal menunggu satu hal: siapa yang mampu bertahan di “uji api” birokrasi ini, dan siapa yang harus kembali ke kursi lamanya dengan catatan “belum saatnya”.
