Oleh: Edy Basri
Pimred Katasulsel.com
SAYA selalu heran.
Setiap El Niño datang, kita marah kepada El Niño.
Setiap sawah kering, kita salahkan El Niño.
Setiap panen turun, El Niño lagi yang dituduh.
Kasihan juga El Niño.
Namanya disebut-sebut terus.
Seolah dia pencuri air terbesar di republik ini.
Padahal kalau dipikir-pikir, El Niño tidak pernah mencuri setetes pun air milik kita.
Tidak pernah.
Yang sering terjadi justru kita sendiri yang membiarkan air itu pergi.
Lari ke sungai.
Mengalir ke laut.
Hilang begitu saja.
Lalu beberapa bulan kemudian kita sibuk mencari-carinya.
Saya lahir dan besar di Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Daerah yang sering disebut lumbung pangan.
Daerah yang kalau musim tanam tiba, hamparan sawahnya seperti karpet hijau yang tidak ada ujungnya.
Sidrap.
Pinrang.
Wajo.
Bone.
Soppeng.
Daerah-daerah yang selama puluhan tahun membantu mengisi piring makan Indonesia.
Tetapi ada satu pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya.
Kenapa daerah yang hidup dari sawah masih sering ketakutan ketika hujan terlambat turun?
Bukankah itu seperti nelayan yang takut melihat laut?
Atau pedagang ikan yang tidak punya es batu?
Ada yang terasa tidak beres.
Coba perhatikan setiap musim hujan.
Sungai meluap.
Drainase meluber.
Jalanan tergenang.
Banjir di mana-mana.
Kita mengeluh.
Kemudian air itu pergi.
Beberapa bulan kemudian datang musim kemarau.
Mulai panik.
Mulai rapat.
Mulai menghitung potensi gagal panen.
Mulai menyusun laporan.
Mulai mencari anggaran.
Lucunya, yang dicari adalah air yang beberapa bulan lalu kita buang begitu saja.
Bukankah itu agak aneh?
Seperti orang yang membuang beras satu karung hari ini lalu menangis karena lapar tiga bulan kemudian.
Saya bukan ahli iklim.
Bukan pula ahli hidrologi.
Tetapi logika sederhana mengatakan begini:
Kalau kita tahu kemarau akan datang, mengapa kita tidak menyimpan lebih banyak air?
Sesederhana itu.
Bukan teknologi roket.
Bukan kecerdasan buatan.
Bukan proyek triliunan rupiah.
Air hujan ditampung.
Disimpan.
Dijaga.
Dipakai saat diperlukan.
Selesai.
Terdengar sederhana memang.
Tetapi justru hal-hal sederhanalah yang sering gagal kita kerjakan secara konsisten.
Amerika tidak bisa menghentikan El Niño.
Australia juga tidak bisa.
Jepang tidak bisa.
China tidak bisa.
Tidak ada negara yang bisa mengirim surat teguran kepada El Niño.
Tidak ada.
Yang mereka lakukan adalah mempersiapkan diri.
Mereka menghitung risiko.
Mereka menyimpan cadangan.
Mereka memperbaiki sistem.
Mereka berpikir jauh sebelum masalah datang.
Kita?
Kadang masih gemar berpikir setelah masalah terjadi.
Ada satu pemandangan yang sering saya lihat.
Saluran irigasi yang dibangun dengan biaya besar.
Setelah beberapa tahun mulai rusak.
Sedimentasi.
Rumput liar.
Kebocoran.
Air berkurang sebelum sampai ke sawah.
Petani mengeluh.
Pemerintah menganggarkan perbaikan.
Rusak lagi.
Diperbaiki lagi.
Begitu terus.
Seperti sinetron yang tidak tamat-tamat.
Padahal irigasi bagi sawah itu seperti pembuluh darah bagi manusia.
Kalau pembuluh darah tersumbat, tubuh bermasalah.
Kalau irigasi bermasalah, sawah juga ikut sakit.
Lalu muncul pertanyaan besar.
Apa yang harus dilakukan Indonesia?
Menurut saya, jawabannya tidak rumit.
Bangun lebih banyak waduk.
Bangun lebih banyak embung.
Perbaiki lebih banyak irigasi.
Lindungi lebih banyak hutan di daerah hulu.
Kurangi proyek yang hanya indah saat diresmikan tetapi tidak berguna saat kemarau.
Fokuslah pada air.
Karena masa depan pangan Indonesia sesungguhnya bukan ditentukan oleh luas sawah.
Melainkan oleh ketersediaan air.
Sawah seluas apa pun tidak akan menghasilkan padi jika air tidak ada.
Sebaliknya, sawah yang lebih kecil tetap bisa produktif jika pasokan air terjamin.
Kita sering menyebut petani sebagai pahlawan pangan.
Kalimat itu bagus.
Sangat bagus.
Terlalu bagus malah.
Tetapi pahlawan juga butuh amunisi.
Dan amunisi utama petani bukan pupuk.
Bukan traktor.
Bukan mesin panen.
Amunisi utama petani adalah air.
Tanpa air, semua bantuan pertanian menjadi jauh kurang berarti.
Saya membayangkan sesuatu.
Bagaimana jika setiap desa pertanian memiliki embung yang berfungsi baik?
Bagaimana jika setiap kecamatan memiliki cadangan air yang cukup menghadapi kemarau enam bulan?
Bagaimana jika seluruh jaringan irigasi utama dijaga seperti kita menjaga jalan nasional?
Bagaimana jika air hujan benar-benar dianggap aset strategis negara?
Mungkin berita gagal panen akan jauh berkurang.
Mungkin petani lebih tenang.
Mungkin produksi beras lebih stabil.
Mungkin kita tidak terlalu panik setiap kali mendengar kata El Niño.
Pada akhirnya, El Niño hanyalah fenomena alam.
Ia akan datang dan pergi.
Seperti tamu yang tidak bisa kita larang masuk.
Tetapi rumah yang rapi tidak takut kedatangan tamu.
Rumah yang memiliki persediaan makanan tidak takut ketika pasar tutup sehari.
Begitu pula negara agraris.
Ia tidak boleh takut kepada musim.
Ia harus lebih siap daripada musim itu sendiri.
Karena sesungguhnya ancaman terbesar bagi pertanian Indonesia bukan El Niño.
Melainkan kebiasaan kita yang terlalu sering menunggu krisis datang sebelum mulai bertindak.
Dan selama kebiasaan itu belum berubah, setiap kemarau panjang akan selalu terasa seperti bencana baru.
Padahal tamunya itu-itu juga. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
