Tujuannya mencegah pelanggaran berubah menjadi crash.
Helm, misalnya.
Benda yang sering dianggap sebagai pelengkap berkendara itu justru menjadi perlindungan penting ketika terjadi benturan.
Begitu pula kapasitas penumpang.
Sepeda motor bukan kendaraan angkutan massal. Ketika jumlah penumpang bertambah, keseimbangan dan kemampuan manuver kendaraan ikut berubah.
Demikian juga dengan aksi overtaking.
Menyalip kendaraan bukan perlombaan siapa paling cepat kembali ke depan.
Ada momentum yang harus dihitung.
Ada jarak aman yang harus tersedia.
Dan ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kendaraan dari arah berlawanan.
Jalan Raya Bukan Sirkuit
Pesan yang ingin disampaikan Satlantas Polres Sidrap sebenarnya sederhana.
Jalan raya bukan sirkuit.
Tidak ada podium bagi pengendara yang paling berani.
Tidak ada hadiah bagi kendaraan yang paling kencang.
Yang ada hanya satu tujuan: tiba dengan selamat.
Enam korban meninggal dunia dalam dua lakalantas menjadi pengingat keras bahwa keselamatan lalu lintas tidak dimulai ketika sirene ambulans berbunyi.
Keselamatan dimulai ketika pengendara memutuskan memakai helm.
Ketika memilih tidak membawa penumpang melebihi kapasitas.
Ketika mengurungkan niat menyalip karena ruang tidak aman.
Ketika tidak ikut balapan liar.
Dan ketika pengemudi kendaraan angkutan memastikan muatannya tidak membahayakan orang lain.
Sebab di jalan raya, pelanggaran mungkin hanya berlangsung beberapa detik.
Tetapi akibatnya bisa berlangsung seumur hidup bagi keluarga yang ditinggalkan.(*)
