Enrekang, katasulsel.com — Ada harapan yang lahir dari dinding-dinding rapuh, lantai yang retak, dan atap rumah yang nyaris tak lagi mampu menahan hujan. Di Desa Pattondon Salu, Kecamatan Maiwa, BAZNAS Kabupaten Enrekang kembali menyalakan asa bagi warga kurang mampu melalui program bantuan bedah rumah.
Sebanyak lima kepala keluarga menerima bantuan awal masing-masing sebesar Rp10.000.000. Mereka adalah Ramlah T (36), Ariani (42), Uly Sapitri (36), Maryani (56), dan Andriyanto (37), yang rumahnya selama ini berada dalam kondisi tidak layak huni.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh pimpinan BAZNAS Enrekang pada Kamis (18/6/2026), disaksikan aparat desa, staf BAZNAS, serta pengurus UPZ Kecamatan Maiwa, Agusmawan dan Ilyas. Lokasi penyaluran tersebar di Dusun Salokaraja, Dusun Santunan, hingga Jalan Reformasi Desa Pattondon Salu.
Di balik angka bantuan itu, tersimpan cerita panjang tentang kondisi hunian yang jauh dari kata aman. Rumah-rumah para penerima diketahui mengalami kerusakan serius pada bagian dinding, lantai, hingga atap yang lapuk dan berpotensi membahayakan keselamatan penghuninya.
Pimpinan BAZNAS Enrekang, Dr. Ilham Kadir, menegaskan bahwa program ini lahir dari hasil survei lapangan yang menunjukkan urgensi perbaikan segera.
“Berdasarkan hasil survei, kondisi rumah para penerima memang sangat memprihatinkan. Karena itu, dalam waktu dekat kami akan melanjutkan program ini melalui bedah rumah agar mereka bisa tinggal di hunian yang lebih aman dan layak,” ujarnya.
Sementara itu, Baharuddin selaku Pimpinan BAZNAS Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan menekankan bahwa seluruh program ini tidak lepas dari kepercayaan para muzakki yang menyalurkan zakat, infak, dan sedekahnya melalui BAZNAS.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat dalam bentuk gotong royong agar proses pembangunan rumah berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
“Setiap bantuan yang tersalurkan adalah amanah dan menjadi ladang pahala bagi semua pihak yang terlibat,” ungkapnya.
Di sisi lain, rasa haru tak bisa disembunyikan dari para penerima manfaat. Ariani mengaku selama ini kerap khawatir setiap kali hujan turun karena air mudah masuk ke dalam rumah, sementara kondisi atap yang rendah membuat suhu di dalam rumah terasa tidak nyaman.
Hal senada disampaikan Ramlah T, yang menggambarkan kondisi rumahnya sudah jauh dari kata layak, dengan lantai retak dan dinding yang mulai rapuh.
“Ini seperti jawaban dari doa yang selama ini kami panjatkan,” ungkapnya dengan suara haru.
Program bedah rumah ini menjadi pengingat bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga instrumen sosial yang mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.
Melalui sinergi BAZNAS, para muzakki, pemerintah, dan masyarakat, program ini diharapkan terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak keluarga yang membutuhkan. Di Pattondon Salu, harapan kini mulai dibangun kembali—dari rumah-rumah yang sebelumnya hampir roboh.(*)
