Enrekang, Katasulsel.com – Warga sebenarnya sudah lama menunggu satu hal terjadi.
Bukan karena mereka menginginkannya.
Tetapi karena mereka khawatir.
Di tepi Jalan Poros Enrekang–Toraja, tepatnya di Kelurahan Leoran, berdiri sebuah pohon besar yang telah lama mengering. Daunnya nyaris tak tersisa. Batangnya tampak renta. Namun pohon itu tetap berdiri, hari demi hari, mengawasi lalu lalang kendaraan yang melintas di salah satu jalur terpadat penghubung Enrekang dan Tana Toraja.
Sampai akhirnya kekhawatiran itu menjadi kenyataan.
Rabu (5/8/2026), pohon raksasa tersebut tumbang.
Bukan ke lahan kosong.
Bukan pula ke semak belukar.
Pohon itu jatuh tepat ke badan jalan.
Dalam hitungan detik, satu unit mobil Suzuki Vitara, satu sepeda motor Honda Vario, dan sebuah tiang telepon menjadi korban.
Suara benturan keras mengagetkan warga sekitar.
Pengendara yang melintas spontan menghentikan kendaraan.
Arus lalu lintas langsung lumpuh sebagian.
Batang pohon yang melintang di tengah jalan membuat kendaraan dari dua arah hanya bisa bergerak bergantian.
Situasi semakin rumit karena tiang telepon yang ikut roboh menambah hambatan di lokasi kejadian.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Namun kerugian material tak bisa dihindari.
Mobil Suzuki Vitara mengalami kerusakan cukup serius pada bagian atap dan kaca depan setelah tertimpa batang pohon.
Sementara sepeda motor Honda Vario mengalami kerusakan akibat tertimpa ranting dan bagian pohon yang patah.
Bagi warga sekitar, kejadian itu bukan sesuatu yang mengejutkan.
Mereka mengaku sudah lama mengkhawatirkan kondisi pohon tersebut.
Menurut warga, pohon itu telah mengering sejak beberapa waktu lalu dan dinilai sangat berisiko karena berdiri di tepi jalan poros yang setiap hari dipadati kendaraan.
“Memang sudah lama kami khawatir. Pohonnya sudah kering, tetapi masih berdiri di pinggir jalan. Tinggal menunggu waktu saja,” ujar seorang warga.
Tak lama setelah laporan diterima, tim gabungan langsung bergerak ke lokasi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Enrekang bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), personel Polres Enrekang, Polsek Enrekang, dan masyarakat bahu-membahu melakukan evakuasi.
Gergaji mesin pun mulai bekerja.
Potongan demi potongan batang pohon dipindahkan dari badan jalan.
Petugas juga mengevakuasi tiang telepon yang roboh agar tidak mengganggu proses pembersihan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Enrekang, Syamsul, turun langsung memimpin proses evakuasi bersama Kapolsek Enrekang AKP Lukman.
Kerja sama lintas instansi itu membuat proses pembersihan berlangsung cepat.
Beberapa waktu kemudian, jalur yang sempat tersendat kembali bisa dilalui kendaraan secara normal.
Meski akses jalan telah kembali terbuka, peristiwa ini meninggalkan pertanyaan yang lebih besar.
Berapa banyak pohon tua dan kering yang masih berdiri di sepanjang jalur Enrekang–Toraja?
Warga berharap kejadian ini menjadi alarm bagi instansi terkait untuk segera melakukan pendataan dan penanganan terhadap pohon-pohon yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Sebab kali ini hanya kendaraan yang menjadi korban.
Besok, belum tentu seberuntung itu.
“Kami meminta pohon-pohon yang sudah kering segera ditebang sebelum terjadi korban jiwa. Jangan menunggu tumbang dulu baru ditangani,” kata seorang warga.
Di jalur pegunungan yang setiap hari dilintasi ribuan kendaraan, satu pohon tua yang dibiarkan berdiri bisa berubah menjadi ancaman kapan saja.
Dan di Leoran, ancaman itu akhirnya benar-benar jatuh ke jalan. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
