Enrekang, Katasulsel.com β Enrekang sebenarnya tidak kekurangan alasan untuk membuat orang berhenti sejenak.
Pegunungan membentang. Sungai Mata Allo mengalir. Sungai Saddang menawarkan bentang alam yang tak kalah menarik. Lanskap Massenreng Pulu menyimpan potensi yang, jika dikelola dengan serius, bisa menjadi kekuatan pariwisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Namun di mata Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Enrekang, M. Zulfikar, potensi itu belum sepenuhnya mendapatkan sentuhan yang layak.
Ia justru melihat persoalan yang lebih mendasar: sejumlah potensi alam belum dikelola secara optimal, sementara wajah perkotaan Enrekang sendiri masih menghadapi persoalan ketertiban dan estetika.
βBeberapa ikon panorama alam di Enrekang masih belum tersentuh dalam upaya merawat dan mengolahnya agar bisa menjadi destinasi wisata unggulan. Padahal, potensinya sangat besar dan seharusnya bisa menjadi sumber pendapatan sekaligus daya tarik bagi daerah,β ujar Zulfikar, Selasa (16/9/2026).
Menurutnya, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya dengan memiliki gunung, sungai dan pemandangan indah.
Alam adalah modal awal.
Tetapi tanpa perawatan, akses, kebersihan, penataan, fasilitas dan promosi yang konsisten, potensi tersebut sulit berubah menjadi destinasi yang memberikan manfaat ekonomi secara luas.
βYang kita punya sebenarnya luar biasa. Tinggal bagaimana pemerintah dan seluruh pihak mengolahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat,β katanya.
Dari persoalan alam, perhatian Zulfikar kemudian bergeser ke wajah kota.
Ia menilai keindahan Kota Enrekang atau Massenreng Pulu juga perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Salah satu persoalan yang ia soroti adalah keberadaan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) yang menurutnya telah lama menjadi pembicaraan masyarakat.
Bagi Zulfikar, persoalan PKL tidak semestinya hanya dilihat dari sisi penertiban.
Ada kepentingan ekonomi masyarakat yang harus dipikirkan, tetapi pada saat yang sama ada pula kepentingan terhadap ketertiban, kebersihan, kenyamanan pengguna jalan dan wajah kota.
Karena itu, menurut dia, solusi ideal bukan sekadar membiarkan persoalan berlarut-larut.
βJangankan mengelola atau merawat panorama alam yang ada, keindahan dan ketertiban kota saja tampaknya belum mendapatkan perhatian yang cukup. Contohnya lapak-lapak PKL yang sudah lama menjadi sorotan dan keluhan warga, tetapi sampai sekarang belum ada solusi yang jelas,β ujarnya.
Zulfikar juga mempertanyakan sejauh mana tindak lanjut instansi terkait terhadap persoalan yang telah disampaikan.
Ia mengatakan pihak IWO Enrekang sebelumnya telah melakukan komunikasi dengan instansi terkait. Dari komunikasi tersebut, menurut dia, terdapat penyampaian bahwa persoalan tersebut akan ditindaklanjuti.
Namun, Zulfikar menilai tindak lanjut di lapangan belum terlihat secara nyata.
βKami sudah melakukan komunikasi dan mereka menyatakan akan menindaklanjuti. Bahkan masalah ini akan diangkat ke pemberitaan. Tapi kenyataannya hingga kini belum ada tindak lanjut yang jelas,β katanya.
Kritik tersebut, menurut Zulfikar, bukan semata-mata untuk mencari kesalahan pemerintah.
Justru sebaliknya, ia ingin persoalan tersebut menjadi pemicu agar pemerintah daerah bersama instansi terkait mulai melihat pengelolaan kota dan alam sebagai satu kesatuan.
Kota yang rapi membutuhkan penataan.
Wisata alam membutuhkan perlindungan.
Pedagang membutuhkan ruang untuk mencari nafkah.
Wisatawan membutuhkan kenyamanan.
Dan masyarakat membutuhkan lingkungan yang bersih serta tertata.
Semua kepentingan itu, menurutnya, seharusnya dapat dipertemukan melalui kebijakan yang jelas dan konsisten.
Zulfikar berharap pemerintah tidak berhenti pada rencana atau janji tindak lanjut. Ia mendorong adanya langkah konkret untuk memperbaiki kawasan perkotaan sekaligus mengidentifikasi potensi alam yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
βMenjaga kelestarian alam dan ketertiban kota adalah tanggung jawab kita bersama. IWO siap terus mengawal dan memberikan dukungan serta mengangkat isu ini ke publik agar menjadi perhatian bersama,β tuturnya.
Enrekang, kata dia, tidak harus mencari identitas wisata dari daerah lain.
Keindahan itu sudah tersedia.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikannya terawat, mudah diakses, nyaman dikunjungi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebab, panorama yang dibiarkan begitu saja hanya akan menjadi pemandangan.
Tetapi panorama yang dirawat, ditata dan dikelola dengan baik bisa berubah menjadi aset daerah.
Di situlah, menurut Zulfikar, pekerjaan rumah Enrekang sesungguhnya: bukan mencari potensi baru, melainkan mulai serius merawat apa yang sudah dimiliki. (FungFi)
