Sidrap, katasulsel.com — Dalam perang melawan Tuberkulosis (TBC), menemukan satu kasus bukan berarti gagal.
Justru sebaliknya.
Satu kasus yang ditemukan adalah satu pintu yang terbuka untuk pengobatan, satu rantai penularan yang bisa diputus, dan satu keluarga yang bisa diselamatkan dari risiko penularan lebih jauh.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidrap kini sedang berpacu dengan waktu.
Data per 6 September 2026 menunjukkan ada Puskesmas yang berlari cukup kencang, ada yang masih mengejar, dan ada pula yang harus segera dipacu agar tidak tertinggal.
Kepala Dinas Kesehatan Sidrap, Dr. Ishak Kenre, SKM., M.Kes., memaparkan kondisi tersebut dalam Sosialisasi Edukasi Pemeriksaan Mobil X-Ray TB Terintegrasi CKG di Kelurahan Panreng, Jumat, 11 September 2026.
Ada dua angka yang menjadi perhatian utama.
Pertama, berapa banyak orang yang berhasil ditemukan sebagai suspek TBC.
Kedua, berapa banyak kasus TBC yang kemudian benar-benar ditemukan dan tercatat atau ternotifikasi.
Dua angka itu seperti dua kaki dalam satu perlombaan.
Tidak cukup hanya banyak menemukan suspek.
Harus ada pemeriksaan lanjutan.
Dan tidak cukup hanya menemukan kasus positif.
Kasus tersebut harus masuk dalam sistem penanganan agar pasien memperoleh pengobatan dan mata rantai penularan bisa diputus.
Menariknya, persaingan justru terjadi di tingkat Puskesmas.
Puskesmas Empagae tampil paling depan.
Puskesmas di Kecamatan Watang Sidenreng itu mencatat notifikasi penemuan TBC sebesar 43,3 persen dari target.
Yang lebih menarik, penemuan suspeknya sudah mencapai 111,7 persen.
Artinya, Empagae bukan sekadar menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Mereka bergerak mencari.
Dalam bahasa program TBC, inilah yang disebut active case finding—menjemput kemungkinan kasus, bukan hanya menunggu orang sakit datang mengetuk pintu Puskesmas.
Di belakang Empagae ada Puskesmas Amparita.
Puskesmas di Kecamatan Tellu Limpoe itu mencatat notifikasi 39,8 persen.
Tetapi justru dalam urusan pencarian suspek, Amparita menjadi yang paling tinggi.
Angkanya mencapai 131,3 persen.
Angka ini menarik.
Sebab semakin banyak suspek ditemukan, semakin besar pula pekerjaan berikutnya: memastikan siapa yang benar-benar positif, siapa yang bukan, dan siapa yang harus segera mendapatkan penanganan.
Kemudian ada Puskesmas Bilokka di Kecamatan Panca Lautang.
Notifikasinya mencapai 36 persen, dengan capaian suspek 80 persen.
Tiga Puskesmas tersebut kini menjadi semacam etalase kinerja pencarian TBC di Sidrap.
Empagae memimpin.
Amparita mengejar.
Bilokka tetap berada di kelompok depan.
Tetapi perlombaan ini tidak punya garis finis yang bisa dirayakan terlalu cepat.
Sebab di belakang papan atas, masih ada Puskesmas yang harus berlari lebih kencang.
Untuk notifikasi kasus TBC, Puskesmas Lancirang berada di posisi terendah dengan capaian 8,5 persen.
Sementara dalam penemuan suspek, Puskesmas Barukku berada di angka 15,8 persen.
Inilah bagian yang menjadi pekerjaan rumah Dinas Kesehatan Sidrap.
Bagaimana membuat kecepatan tiga Puskesmas teratas menular ke Puskesmas lainnya?
Dr. Ishak Kenre menyebut kondisi itu dengan bahasa yang cukup ringan.
“Yang balok kuning dan balok merah berpacu dengan berbagai upaya intervensi penemuan TB. Ini capaian Sidrap per Puskesmas kecamatan, tiga besar hehehe,” ujarnya.
Ada “hehehe” di ujung kalimat.
Tetapi persoalannya serius.
Sebab dalam penanggulangan TBC, yang dikejar bukan sekadar peringkat.
Yang dikejar adalah pasien.
Yang dicari adalah kasus yang belum ditemukan.
Dan yang ingin diputus adalah rantai penularannya.
Karena itu, Mobil X-Ray TB terintegrasi CKG menjadi salah satu senjata tambahan.
Teknologi tersebut diharapkan membuat proses pencarian kasus menjadi lebih agresif, terutama terhadap orang-orang yang mungkin belum menyadari dirinya terinfeksi.
Inilah perubahan pendekatan yang sedang didorong.
Bukan lagi menunggu orang batuk lama kemudian datang berobat.
Tetapi mendatangi masyarakat, melakukan skrining, menemukan lebih cepat, memastikan diagnosis, lalu segera masuk ke pengobatan.
Kalau dianalogikan sebagai perlombaan, Sidrap memang belum boleh mengangkat tangan sebagai pemenang.
Tetapi sudah terlihat siapa pelari yang berada di depan.
Empagae dengan 43,3 persen.
Amparita dengan 39,8 persen.
Bilokka dengan 36 persen.
Sementara yang berada di belakang harus dipacu.
Karena dalam perang melawan TBC, tidak ada gunanya satu Puskesmas menjadi juara jika kasus yang belum ditemukan masih bersembunyi di wilayah Puskesmas lainnya.
Maka tantangan sampai akhir 2026 bukan hanya mempertahankan tiga besar.
Tantangannya adalah membuat seluruh Puskesmas bergerak.
Yang merah mengejar kuning.
Yang kuning mengejar hijau.
Dan yang sudah hijau jangan sampai mengendur.
Target akhirnya bukan medali.
Bukan piala.
Bukan pula sekadar masuk lima besar.
Target akhirnya jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih penting:
Semakin banyak kasus ditemukan.
Semakin cepat pasien diobati.
Semakin banyak pasien sembuh.
Dan semakin sedikit orang yang tertular.
Sidrap kini sedang berlari menuju target itu.
Empagae sudah menunjukkan kecepatannya.
Amparita memperlihatkan bahwa pencarian suspek bisa digenjot.
Bilokka membuktikan konsistensinya.
Tinggal bagaimana “virus” kerja keras tiga Puskesmas tersebut benar-benar menular—bukan virus TBC-nya.
Kalau itu berhasil, maka perlombaan antar-Puskesmas tidak lagi sekadar soal siapa yang berada di papan atas.
Melainkan bagaimana seluruh Sidrap bisa bergerak bersama untuk membuat TBC kehilangan tempat bersembunyi.
Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)
