Sidrap, Katasulsel.com — Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026 baru memasuki hari pertama. Namun dampaknya sudah terasa hingga ke lapak-lapak UMKM di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Salah satu yang merasakan langsung berkah kedatangan puluhan ribu peserta adalah penjual nasi bakar di sekitar pusat kegiatan Porsenijar. Biasanya, dagangannya baru habis menjelang malam. Kali ini berbeda.

Hanya dalam waktu sekitar dua jam, 100 bungkus nasi bakar yang disiapkan ludes diborong pembeli.

“Saya sampai kaget. Baru sekitar dua jam jualan, sudah habis semua. Biasanya tidak seperti ini,” ujar seorang pedagang sambil melayani antrean pembeli yang terus berdatangan.

Pemandangan serupa terlihat di sejumlah titik lain. Warung kopi dipenuhi pengunjung, pedagang minuman dingin kewalahan melayani pesanan, sementara rumah makan di sekitar arena kegiatan ramai sejak pagi.

Kedatangan ribuan guru dan peserta Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Sulawesi Selatan memang mulai mengubah ritme ekonomi harian di Sidrap.

Berdasarkan data panitia, sekitar 64 ribu peserta dan pendamping diperkirakan berada di Sidrap selama pelaksanaan kegiatan hingga 6 Juli mendatang. Jumlah itu setara dengan masuknya “kota kecil” baru ke Bumi Nene Mallomo dalam sepekan.

Tidak heran jika sektor usaha mikro menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.

Bagi pedagang kecil, Porsenijar bukan sekadar agenda olahraga dan seni para guru. Kegiatan tersebut berubah menjadi momentum meningkatkan pendapatan.

“Alhamdulillah, pembeli jauh lebih ramai dari biasanya. Semoga sampai kegiatan selesai tetap seperti ini,” kata pedagang lainnya.

Efek domino mulai terlihat. Penginapan penuh, rumah makan ramai, jasa transportasi meningkat, hingga pedagang kaki lima mendapatkan pelanggan baru dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Fenomena ini bahkan mendapat perhatian Ketua Pengurus Besar PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, saat menghadiri Welcome Dinner di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, Rabu malam (1/7/2026).

Menurutnya, kehadiran puluhan ribu peserta tidak hanya membawa manfaat bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

“Kalau ada sekitar 64 ribu orang berada di Sidrap selama beberapa hari, tentu ekonomi masyarakat ikut bergerak,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif. Ia berharap kehadiran para peserta Porsenijar tidak hanya meninggalkan prestasi dan kenangan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha lokal.

Di berbagai sudut kota, tanda-tanda itu mulai terlihat. Antrean pembeli bertambah panjang, stok dagangan lebih cepat habis, dan omzet harian meningkat.

Bagi sebagian warga, Porsenijar mungkin adalah pesta olahraga dan seni para guru. Namun bagi pedagang kecil di Sidrap, kegiatan ini telah menjadi peluang ekonomi yang datang lebih cepat daripada seremoni pembukaannya.

Dan ketika seorang penjual nasi bakar mampu menghabiskan 100 bungkus hanya dalam dua jam, masyarakat mulai percaya bahwa Porsenijar bukan hanya mengumpulkan ribuan guru di Sidrap, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi rakyat. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini