Intinya, listrik dipakai untuk menggerakkan pompa air. Air diambil dari sumber yang tersedia, kemudian dialirkan ke persawahan.

Petani tidak harus terus-menerus bergantung pada mesin diesel.

Di beberapa lokasi, program ini mulai menunjukkan hasil. Pemerintah daerah melaporkan produktivitas panen mencapai sekitar 8 hingga 10 ton lebih per hektare pada lahan percontohan.

Ada pula target pemasangan sambungan listrik pertanian hingga 1.500 kVA.

Kalau program ini berjalan luas dan berkelanjutan, manfaatnya bisa panjang.

Sebab, petani itu sebenarnya tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin satu hal: jangan sampai sawahnya kekurangan air ketika tanaman sedang membutuhkan.

Beras bisa dibeli di pasar. Tetapi air untuk sawah tidak bisa dipesan lewat aplikasi.

Syaharuddin juga punya modal lain.

Sidrap bukan daerah yang baru belajar menjadi lumbung pangan. Daerah ini sudah lama dikenal dengan produksi beras dan peternakan ayam petelurnya.

Karena itu, tugas seorang bupati bukan menciptakan identitas baru. Tetapi memperkuat apa yang sudah menjadi kekuatan daerah.

Di sinilah pertumbuhan ekonomi 7,71 persen menjadi menarik.

Produksi pertanian, peternakan, perdagangan, dan aktivitas ekonomi masyarakat harus bergerak bersama.

Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh dilupakan: apakah pertumbuhan itu sudah benar-benar terasa sampai ke petani kecil?

Sebab, ekonomi yang tumbuh di atas kertas belum tentu membuat semua orang ikut tumbuh.

Petani ingin harga gabah yang baik. Peternak ingin harga telur yang menguntungkan. Pedagang ingin pembeli ramai. Anak muda ingin pekerjaan.

Itulah ukuran yang sesungguhnya.

Awal November ini, Syaharuddin kembali mendapat panggung.

Pemkab Sidrap meraih Anugerah Cita Negeri 2026 kategori Cita Daerah Sejahtera dan Sehat dari Kemendagri bersama Kompas TV.

Bupati juga memperoleh Top Regional Leader Award 2026 dari Disway dalam kategori penggerak ketahanan pangan.

Penghargaan memang menyenangkan. Apalagi kalau dibawa pulang ke daerah.

Tetapi penghargaan itu seperti foto wisuda. Ada kebanggaan, ada kebahagiaan. Namun setelah foto selesai, kehidupan tetap harus berjalan.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi sesudahnya.

Apakah program ketahanan pangan terus berjalan? Apakah angka kemiskinan terus turun? Apakah pelayanan kesehatan semakin baik?

Itu yang harus dijaga.

Sebab, penghargaan bisa dipajang di lemari kaca. Tetapi kesejahteraan harus hidup di rumah-rumah warga.

Ada pula pekerjaan lain yang tidak kalah penting: pendidikan.

Pembangunan daerah tidak cukup hanya menghasilkan gabah dan telur.

Sidrap juga harus menghasilkan manusia-manusia berkualitas.

Anak-anaknya harus mampu bersaing. Sekolah harus berkembang. Guru harus diperhatikan. Teknologi harus mulai diperkenalkan sejak dini.

Karena itu, inovasi Digital Robotics for Creative Students yang diperkenalkan dalam seleksi IGA 2026 patut dicermati.

Anak Sidrap tidak boleh hanya dikenal pandai mengolah sawah. Mereka juga harus bisa mengolah teknologi.

Bukan berarti semua anak harus menjadi programmer. Tetapi setidaknya mereka tidak boleh menjadi penonton ketika dunia bergerak semakin digital.

Begitu pula sektor keagamaan. Karakter dan pendidikan moral tetap harus menjadi bagian dari pembangunan manusia.

Pembangunan yang baik bukan hanya menghasilkan masyarakat yang makmur. Tetapi juga masyarakat yang memiliki pengetahuan, karakter, dan kepedulian.