Sekarang, mari kembali menghitung.

624 hari.

Masih ada perjalanan panjang sampai akhir masa jabatan 2025–2030.

Dalam politik, dua tahun pertama biasanya menjadi masa memperlihatkan arah. Tahun-tahun berikutnya menjadi masa pembuktian.

Syaharuddin sudah memiliki sejumlah modal: pertumbuhan ekonomi, inovasi pertanian, penghargaan, dan perhatian terhadap sektor sosial.

Tetapi jangan sampai terlalu sibuk mengejar penghargaan sampai lupa mendengar keluhan warga.

Jalan rusak tetap harus didengar. Petani yang kesulitan air harus dibantu. Keluarga miskin harus diperhatikan. Anak-anak yang membutuhkan pendidikan layak harus dipastikan mendapatkannya.

Bupati tidak bisa hanya bekerja di ruang rapat. Sesekali harus turun melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Sebab, laporan bawahan biasanya rapi. Kondisi lapangan kadang tidak serapi laporan.

Itulah bedanya membaca angka dan membaca kenyataan.

Ada satu hal yang menarik dari Sidrap.

Daerah ini tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah bagaimana potensi itu terus dijaga, diperkuat, dan dibagi manfaatnya secara lebih merata.

Syaharuddin Alrif sudah melewati 624 hari.

Bukan waktu yang sebentar untuk memulai sesuatu. Tetapi juga belum cukup untuk mengklaim semua persoalan selesai.

Kalau listrik benar-benar bisa membuat sawah tetap berair, itu prestasi.

Kalau petani semakin sejahtera, itu lebih prestasi lagi.

Kalau anak-anak Sidrap kelak tumbuh lebih pintar, keluarga miskin semakin berkurang, dan pelayanan publik semakin mudah, itulah warisan kepemimpinan.

Sebab, seorang bupati boleh dikenang karena banyaknya penghargaan.

Tetapi rakyat biasanya punya cara sendiri untuk mengingat pemimpinnya.

Mereka tidak selalu ingat nama penghargaan. Tidak selalu hafal angka pertumbuhan ekonomi.

Mereka lebih mudah mengingat satu hal: ketika membutuhkan pemerintah, apakah pemerintah hadir?