WAJO, Katasulsel.com – Di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, berdiri Masjid Tua Tosora, sang saksi bisu sejarah Islam di Wajo sejak abad ke-14. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini seperti “time machine” yang menghubungkan jamaah dengan akar spiritual dan sejarah panjang Bugis. Bahkan, di kompleks masjid, terdapat makam ulama besar Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini, yang diyakini masih memiliki garis keturunan dari Rasulullah SAW.
Ramadan di sini terasa berbeda. Sejak menjelang maghrib, halaman masjid dipenuhi jamaah lokal yang datang untuk buka puasa bersama, bercampur dengan peziarah dari luar daerah yang ingin menapaktilasi sejarah sekaligus beribadah. Aroma santan, kolak pisang, dan ketupat membuat suasana semakin hangat, seperti festival kecil yang sarat makna.
“Di sini rasanya kayak pulang kampung, meski saya dari Makassar. Buka puasa bersama di halaman masjid bikin Ramadan makin terasa dekat dengan keluarga,” ujar Andi, mahasiswa yang rutin datang setiap Ramadan.
Kajian dan tarawih berjamaah menjadi magnet utama. Jamaah duduk berlapis-lapis, sebagian membawa sajadah sendiri, sebagian lagi duduk di tangga atau halaman masjid. Suara bacaan Al-Qur’an bersahut-sahutan, menimbulkan gema yang terasa hingga ke dinding-dinding tua masjid.
“Setiap kali tarawih di sini, hati terasa adem. Ada sensasi sejarah yang menyelimuti, seperti diingatkan kembali siapa kita dan dari mana asalnya,” kata Hj. Rahmah, salah satu jamaah senior.
Tak hanya ibadah, tradisi buka puasa bersama menjadi momen silaturahmi. Warga desa bergotong-royong menyiapkan makanan, mulai dari kolak, sayur-sayuran, hingga kue tradisional Bugis. Anak-anak ikut membantu, sementara orang tua menata kursi dan sajian. “Ini bukan sekadar makan bersama, tapi juga ajang merawat rasa kebersamaan,” jelas Amiruddin, tokoh masyarakat setempat.
Masjid Tua Tosora juga menawarkan nuansa historis yang kental. Tiap bata dan tiang kayu seolah menyimpan cerita panjang perjalanan Islam di Wajo. Jamaah yang datang tak sekadar beribadah, tapi merasakan aura spiritual sekaligus pelajaran sejarah.
Ramadan di Masjid Tua Tosora memang unik. Bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang merajut spiritualitas dengan akar budaya, menciptakan pengalaman ibadah yang sarat makna dan tak tergantikan.
Bagi warga Wajo dan peziarah dari jauh, Masjid Tua Tosora adalah tempat di mana sejarah, spiritualitas, dan tradisi Ramadan bertemu dalam satu halaman yang sama. (*)

Tinggalkan Balasan