Sidrap , Katasulsel.com — Stadion Ganggawa, Pangkajene, Jumat (19/6/2026) sore itu tidak hanya menyajikan pertandingan, tapi juga pertunjukan dominasi.
Di atas rumput hijau, Amanah RD99 FC tampil dengan kostum hitam-hitam yang sejak awal sudah memberi kesan: ini bukan tim yang datang untuk sekadar bermain.
Dan benar saja, mereka datang untuk menguasai.
Lawan mereka, Persipare yang mengenakan putih-hijau, sebenarnya sempat memberi perlawanan. Tapi ritme pertandingan sejak menit awal lebih banyak berada di kaki Amanah RD99.
Baru enam menit laga berjalan, Kahar Kalu langsung memecah kebuntuan. 1-0. Stadion mulai terasa berat sebelah.
Persipare sempat bangkit ketika mendapatkan hadiah penalti di menit ke-17. Sadewa yang maju sebagai eksekutor berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Harapan sempat hidup lagi.
Tapi itu hanya sebentar.
Menit ke-33, Yasir Asis mengembalikan keunggulan Amanah RD99. 2-1. Dan sejak itu, arah pertandingan tidak pernah benar-benar kembali seimbang.
Babak kedua menjadi panggung penegasan.
Kahar Kalu kembali muncul di menit ke-70, mencetak gol keduanya dan memperlebar jarak menjadi 3-1. Persipare mulai kehilangan ritme, kehilangan kepercayaan diri.
Dua menit berselang, Bento ikut menambah luka. 4-1. Selesai sudah cerita.
Sejak saat itu, pertandingan lebih banyak menjadi penguasaan Amanah RD99 hingga peluit panjang berbunyi.
Kemenangan ini bukan hanya soal skor besar. Tapi soal pesan yang dikirim ke seluruh peserta turnamen: ada tim yang mulai terlihat berbeda levelnya.
Pelatih Andi Deni menyebut kemenangan ini penting, apalagi lawan yang dihadapi disebut diperkuat beberapa pemain tambahan.
Namun ia menegaskan, euforia tidak boleh berlebihan.
Evaluasi tetap jalan. Bahkan kemungkinan penambahan pemain masih terbuka jelang laga berikutnya melawan Belawa FC.
Di tengah sorotan Sidrap Cup 2026, Amanah RD99 kini mulai dipandang bukan lagi sekadar peserta. Tapi ancaman nyata.
Dengan permainan kolektif yang rapi, lini depan yang tajam, dan mental bertanding yang stabil, langkah mereka menuju babak delapan besar bukan sekadar lolos—tapi pernyataan. (*)
