Oleh: Andi Meutia Inayah Salsabila

SAYA selalu percaya satu hal.

Kalau ingin mengubah dunia, jangan mulai dari orang dewasa.

Mulailah dari anak-anak.

Sebab orang dewasa sudah terlalu banyak alasan.

Terlalu banyak pembenaran.

Terlalu banyak pengalaman yang membuatnya sulit berubah.

Anak-anak berbeda.

Mereka masih seperti kertas yang belum penuh tulisan.

Masih mudah menerima kebiasaan baru.

Masih mudah dibentuk.

Karena itulah saya tertarik ketika mendengar ada program bernama GERAK BUMI di SDN 238 Mallaulu, Desa Mallaulu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Namanya terdengar besar.

Gerakan Penguatan Kesadaran dan Aksi Peduli Bumi.

Disingkat GERAK BUMI.

Nama yang cukup gagah.

Seolah mau menyelamatkan planet ini dari ancaman kiamat lingkungan.

Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Program ini tidak dimulai dari seminar mewah.

Tidak dimulai dari hotel berbintang.

Tidak dimulai dari ruang rapat yang dipenuhi presentasi PowerPoint.

Program ini dimulai dari ruang kelas.

Dari 28 anak sekolah dasar.

Dari anak-anak yang mungkin masih lebih sering memikirkan permainan daripada perubahan iklim.

Dan itu pilihan yang tepat.

Sebab persoalan lingkungan kita sesungguhnya bukan kekurangan spanduk.

Bukan kekurangan slogan.

Bukan pula kekurangan seminar.

Coba lihat di pinggir jalan.

Tulisan “Jangan Buang Sampah Sembarangan” ada di mana-mana.

Tapi sampah tetap ada di bawahnya.

Kadang malah tepat di bawah tulisan itu.

Seolah sampah sengaja ingin mengejek pembuat papan peringatan.

Karena itu saya tidak heran jika mahasiswa KKN-T Inovasi Desa Universitas Hasanuddin memilih cara berbeda.

Mereka tidak datang membawa ceramah panjang.

Tidak pula memaksa anak-anak menghafal definisi sampah organik dan anorganik.

Mereka datang membawa permainan.

Membawa simulasi.

Membawa aktivitas kelompok.

Membawa cara belajar yang membuat anak-anak lupa bahwa mereka sebenarnya sedang belajar.

Metode seperti itu sering kali lebih efektif.

Anak-anak tidak suka digurui.

Bahkan sebagian orang dewasa juga tidak suka.

Mereka lebih senang diajak bermain.

Lalu tanpa sadar mendapatkan pelajaran.

Itulah yang dilakukan para mahasiswa KKN Unhas.

Mereka membuat pendidikan lingkungan terasa menyenangkan.

Padahal topiknya serius.

Sangat serius.

Karena sampah adalah masalah yang tidak pernah selesai dibicarakan di negeri ini.

Setiap tahun kita berbicara soal sampah.

Setiap tahun kita mengeluh soal sampah.

Setiap tahun kita menyalahkan orang lain soal sampah.

Tetapi sampah tetap ada.

Bahkan jumlahnya bertambah.

Saya sering berpikir.

Mungkin masalah terbesar kita bukan sampahnya.

Melainkan kebiasaan kita.

Karena sampah tidak muncul sendiri.

Ada tangan manusia di baliknya.

Ada kebiasaan manusia di baliknya.

Ada karakter manusia di baliknya.

Maka masuk akal jika perubahan harus dimulai dari karakter.

Dan karakter paling mudah dibentuk saat masih kecil.

Itulah yang dipahami oleh Naya dan tim KKN-T Inovasi Desa Unhas.

Mereka memilih anak-anak sebagai sasaran utama.

Bukan tanpa alasan.

Mereka tahu bahwa menanam pohon lebih mudah daripada meluruskan pohon yang sudah tumbuh bengkok.

Begitu pula dengan perilaku.

Lebih mudah membentuk kebiasaan baik sejak dini daripada memperbaikinya saat dewasa.

Yang menarik, program GERAK BUMI tidak berhenti pada kegiatan sehari.

Ini yang sering terlupakan dalam banyak program pengabdian masyarakat.

Kegiatan selesai.

Foto bersama.

Unggah ke media sosial.

Lalu selesai.

Tidak ada jejak.

Tidak ada keberlanjutan.

Tidak ada tindak lanjut.

GERAK BUMI mencoba menghindari itu.

Mereka meninggalkan sesuatu untuk sekolah.

Sebuah modul implementasi.

Bukan sekadar kenang-kenangan.

Bukan sekadar dokumen yang nanti tersimpan di lemari kepala sekolah.

Tetapi panduan yang bisa digunakan guru untuk melanjutkan pendidikan lingkungan secara berkelanjutan.

Ada materi.

Ada metode.

Ada evaluasi.

Ada arah yang jelas.

Ini penting.

Karena perubahan perilaku tidak bisa dibangun dalam satu hari.

Tidak bisa selesai dalam satu pertemuan.

Tidak bisa lahir hanya karena satu kali sosialisasi.

Perubahan membutuhkan pengulangan.

Membutuhkan kebiasaan.

Membutuhkan konsistensi.

Sama seperti menanam pohon.

Tidak cukup ditanam.

Harus dirawat.

Harus disiram.

Harus dijaga.

Saya membayangkan beberapa tahun dari sekarang.

Mungkin sebagian dari 28 anak itu sudah remaja.

Mungkin ada yang menjadi guru.

Menjadi pegawai.

Menjadi pengusaha.

Atau bahkan menjadi pemimpin daerah.

Mereka mungkin tidak lagi mengingat nama kegiatan GERAK BUMI.

Mereka mungkin lupa nama permainan yang dimainkan hari itu.

Tetapi saya berharap satu hal.

Mereka tetap ingat kebiasaan kecil yang diajarkan.

Membuang sampah pada tempatnya.

Menjaga lingkungan.

Menghargai alam.

Karena pada akhirnya lingkungan yang bersih bukan lahir dari program besar.

Lingkungan yang bersih lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan banyak orang setiap hari.

Dan kebiasaan itu, seperti yang dipahami mahasiswa KKN Unhas di Mallaulu, paling baik ditanamkan sejak anak-anak.

Sebelum mereka tumbuh dewasa.

Sebelum mereka ikut menambah masalah.

Dan sebelum mereka mulai berpikir bahwa menjaga lingkungan adalah tugas orang lain.

Sebab bumi ini tidak membutuhkan lebih banyak slogan.

Bumi membutuhkan lebih banyak orang yang peduli.

Dan mungkin, kepedulian itu sedang tumbuh pelan-pelan di sebuah ruang kelas kecil di Desa Mallaulu. (*)