Sidrap, Katasulsel com — Angin di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kini tak lagi sekadar lewat. Ia mulai “dihitung” sebagai sumber energi bernilai besar. Bahkan, perusahaan asal Jerman dikabarkan mulai melirik daerah ini untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berkapasitas 100 megawatt.
Kabar ini bukan tanpa alasan. Sidrap sudah lebih dulu dikenal sebagai salah satu titik kuat energi angin di Indonesia. Kincir-kincir raksasa yang berdiri di perbukitan jadi bukti bahwa daerah ini punya “sesuatu” yang tak dimiliki semua wilayah.
Kini, minat investor asing menandakan satu hal: potensi itu belum habis—justru baru mulai dilirik lebih serius.
Rencana pembangunan PLTB 100 MW ini bukan proyek kecil. Jika terealisasi, kapasitasnya akan memperkuat pasokan listrik sekaligus menambah daftar proyek energi bersih di Indonesia. Di tengah isu global soal energi ramah lingkungan, Sidrap seperti menemukan panggungnya sendiri.
Yang menarik, perubahan wajah Sidrap terasa pelan tapi pasti. Dulu dikenal sebagai lumbung padi, sekarang mulai disebut-sebut sebagai “lumbung energi.” Dari sawah ke turbin angin, transformasi itu berjalan tanpa banyak gaduh, tapi berdampak besar.
Masuknya perusahaan Jerman juga membuka peluang lain. Lapangan kerja, perputaran ekonomi, hingga peluang bagi pelaku usaha lokal ikut bergerak. Tapi di sisi lain, tantangan juga ikut datang—mulai dari kesiapan lahan, dampak lingkungan, hingga sejauh mana masyarakat bisa ikut terlibat.
Bagi warga, ini seperti dua sisi mata uang. Ada harapan, tapi juga ada pertanyaan: siapa yang paling banyak merasakan manfaatnya nanti?
Yang jelas, angin di Sidrap kini tak lagi dianggap biasa. Ia berubah jadi komoditas masa depan—sesuatu yang tak terlihat, tapi mulai diperebutkan.
Dan jika proyek ini benar-benar berjalan, Sidrap akan makin jauh melangkah: bukan hanya dikenal sebagai penghasil beras, tapi juga sebagai daerah yang mampu “menjual angin” menjadi energi bernilai tinggi.
