Jakarta, katsulsel.com — Dulu, membeli saham sering dianggap hanya bisa dilakukan oleh orang kaya, pebisnis besar, atau mereka yang bekerja di dunia keuangan.

Namun kini, siapa saja bisa membeli saham hanya melalui telepon genggam. Bahkan, banyak investor pemula memulai perjalanan investasinya dengan modal yang relatif terjangkau.

Meski demikian, masih banyak orang yang bingung harus memulai dari mana. Tak sedikit pula yang takut melakukan kesalahan saat membeli saham pertama mereka.

Jika Anda termasuk salah satunya, berikut langkah-langkah yang perlu diketahui sebelum mulai berinvestasi di pasar saham.

Langkah Pertama: Pilih Sekuritas yang Resmi

Sebelum membeli saham, Anda harus memiliki rekening saham melalui perusahaan sekuritas yang telah memiliki izin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Saat ini terdapat berbagai aplikasi investasi yang memudahkan masyarakat untuk membuka rekening saham secara online tanpa harus datang ke kantor.

Yang terpenting, pastikan perusahaan sekuritas yang dipilih merupakan lembaga resmi yang terdaftar dan memiliki reputasi baik.

Buka Rekening Saham dan RDN

Setelah memilih sekuritas, langkah berikutnya adalah melakukan registrasi.

Biasanya Anda hanya perlu menyiapkan dokumen identitas seperti KTP dan mengisi data diri melalui aplikasi.

Proses ini akan menghasilkan Rekening Dana Nasabah (RDN), yaitu rekening khusus atas nama investor yang digunakan untuk menyimpan dana transaksi saham.

RDN berfungsi sebagai penghubung antara rekening pribadi dan aktivitas jual beli saham.

Setor Dana Sesuai Kemampuan

Begitu rekening saham aktif, Anda dapat melakukan deposit atau menyetor dana ke RDN.

Tidak perlu langsung menyiapkan modal besar.

Banyak investor berpengalaman justru menyarankan pemula untuk memulai dengan nominal yang sesuai kemampuan sambil belajar memahami cara kerja pasar.

Dengan cara ini, risiko kesalahan di tahap awal dapat diminimalkan.

Jangan Langsung Beli, Kenali Dulu Perusahaannya

Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan.

Padahal, membeli saham berarti Anda ikut memiliki sebagian kecil dari perusahaan tersebut.

Karena itu, penting untuk memahami bisnis perusahaan yang akan dibeli.

Perhatikan bagaimana kinerja perusahaan, prospek usahanya, serta kondisi keuangannya.

Banyak investor pemula memilih perusahaan-perusahaan besar yang sudah dikenal masyarakat karena dianggap memiliki bisnis yang lebih stabil.

Cara Membeli Saham di Aplikasi

Setelah menentukan saham yang ingin dibeli, proses transaksi sebenarnya cukup sederhana.

Buka aplikasi sekuritas, lalu cari kode saham perusahaan yang diinginkan.

Sebagai contoh, setiap perusahaan memiliki kode perdagangan tersendiri yang digunakan dalam transaksi di Bursa Efek Indonesia.

Selanjutnya, masukkan jumlah lot yang ingin dibeli serta harga yang diinginkan.

Perlu diketahui bahwa dalam pasar saham Indonesia, 1 lot terdiri dari 100 lembar saham.

Setelah pesanan dikonfirmasi dan harga sesuai dengan kondisi pasar, transaksi akan diproses oleh sistem bursa.

Kesalahan yang Sering Membuat Pemula Menyesal

Banyak investor baru terlalu fokus mencari saham yang bisa naik cepat.

Akibatnya, mereka membeli tanpa analisis dan hanya mengikuti tren yang sedang populer.

Ketika harga turun, kepanikan muncul dan saham dijual dalam kondisi rugi.

Padahal, investor yang berhasil biasanya lebih fokus pada kualitas perusahaan dibanding pergerakan harga jangka pendek.

Mereka memahami bahwa investasi saham bukan tentang menjadi kaya dalam semalam, melainkan membangun aset secara bertahap dalam jangka panjang.

Kapan Waktu Terbaik Membeli Saham?

Pertanyaan ini sering muncul dari investor pemula.

Jawabannya mungkin tidak seperti yang dibayangkan banyak orang.

Waktu terbaik membeli saham bukan ketika semua orang sedang membicarakannya, melainkan ketika Anda sudah memahami apa yang dibeli dan mengapa membelinya.

Karena pada akhirnya, keberhasilan investasi tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang membeli saham pertama.

Tetapi oleh seberapa baik ia memahami risiko, mengelola emosi, dan tetap konsisten membangun portofolio dari waktu ke waktu.
(*)