Sidikalang, Katasulsel.com – Chen Zin Tio (52) atau sehari-hari disapa Mr Chen adalah figur kontroversi di lingkar tambang wilayah Sopokomil Desa Longkotan Kecamatan Silima Pungga-Pungga Kabupaten Dairi Sumatera Utara.
Sejumlah kelompok memintanya dideportasi lantaran dianggap arrogan. Namun, tidak sedikit juga menyukainya.
Direktur PT Sasta, David Najogi Partahan Tambunan (Jogi) mengatakan, Chen adalah tenaga ahli di perusahaannya sejak tahun 2022. Perusahaan ini kontraktor PT Dairi Prima Mineral (DPM) – bergerak di pertambangan seng (Zn) dan timah hitam (Pb).
“Kalau warga lokal khususnya Sopokomil, masyarakat mendukung keberadaan Chen. Bisa ditanya penduduk setempat”, kata Ketua Kadin itu di Sidikalang, Satu (20/6/2026).
Siapakah Chen? Dia adalah pria asal kota Xinxiang Propinsi Henan. Berbekal pendidikan SMK jurusan sipil, ia menginjakkan kaki perdana di Gorontalo tahun 2017.
“Pengusaha asal Cina mengajak saya bekerja di Gorontalo”, kata Chen.
Di sana, Chen dipercaya menjadi pimpinan proyek pembangunan listrik tenaga barubara. Setahun kemudian, pindah kerja dan dipercaya sebagai pimpinan proyek pembangunan bantalan kereta api cepat di Jakarta.
Chen menyebut, diajak mencari nafkah di Sopokomil dalam bidang pertambangan seng dan timah hitam tahun 2020. Posisi, menjadi mitra PT DPM. Melalui aktivititas sehari-hari, ia bertemu Jogi dan sepakat bergabung dalam bendera PT Sasta.
Menurutnya, bekerja bersama warga lokal, butuh kesabaran.
“Cara kerja warga Cina berbeda jauh dengan orang lokal. Pekerja lokal., banyak belok-beloknya”, kata Chen.
Apa maksudnya belok-belok? Misalnya, saat kerja, mau sambil merokok atau ngomong-ngomong. Sebentar-sebentar, nengok jam biar cepat istirahat atau mau pulang. Tidak berpikir bagaimana cepat menyelesaikan pekerjaan.
Orang lokal, kata Chen lagi, masuk ke lapangan paling cepat pukul 8.30 Wib. Padahal, ketentuan, pukul 08.00 Wib sudah mulai kerja. Idealnya, tiba sebelum jadwal.
“Kalau kerja pukul 8.30 Wib sudah hebat itu”, kata Chen sambil tertawa.
Warga Cina, biasanya sudah bekerja pukul 06.00 waktu setempat. Semua pekerja berusaha menghasilkan kuantita besar dan mutu terjamin.
“Kami gigih memburu uang. Kerja keras. Fokus pada target. Itu yang membuat negara Cina cepat maju dalam bidang perekonomian dan teknologi. Bekerja, bukan sekedar rutinitas menghabiskan detik dan menit. Sekaligus belajar mencari ilmu dan pengalaman”, kata Chen.
Bagi kami, kata Chen, semakin banyak hasil kerja, uang diterima kian besar. Dan mutu tetap prioritas lantaran menyangkut kepercayaan publik. Cara berpikir harus lurus-lurus. Gaji dikelola secara hemat. Bukan malah menghambur-hamburkan ke warung atau restoran.
“Kalau di tingkat lokal, membangun 1 rumah permanen, butuh waktu 3 bulan. Kami, 20 hari tuntas. Semua berpacu. Kami mencari strategi bagaimana merampungkan suatu kegiatan dalam tempo sesingkat-singkatnya”, ungkapnya.
Awalnya, kata Chen, hal itu sukar diterapkan. Lama kelamaan, tenaga lokal mulai mengikuti dan sekarang telah paham.
“Saya terkadang marah di lapangan. Tapi nada tingginya cuma 3 menit. Habis itu, diobati. Tujuannya biar serius. Ngamuk bukan karena kebencain ke personal. Lebih pada pekerjaan”, kata Chen.
Ia mencontohkan pelaksanaan pembangunan pagar tahun 2025 memberdayakan 150 orang. Sebagai pimpinan, ia harus melakukan kontrol ketat, jalan ke sana sini. Semua rangkaian konstruksi mesti sesuai regulasi DPM.
“Pimpinan, bukan gaya tolak pinggang. Wajib tiba lebih awal di lokasi. Kemudian, membagi tugas. Kegiatan tersebut, dirancang malam sebelumnya. Jadi, warga Cina, kalau dihitung bekerja 12 jam sehari”, ujar Chen.
Memang jauh beda. Namun setelah lama berinteraksi, tenaga lokal bisa memahami. Sekarang banyak tenaga tangguh. Terbukti, beberapa warga menjadi andalan Jogi dalam menjalankan kontrak termasuk membawanya ke Kalimantan Tengah.
Hal tak kalah penting, tandas Chen, gaji dibayar tepat waktu. Tidak boleh terlambat. Diakui, satuan upah yang mereka terapkan lebih tinggi Rp40 ribu dibanding pekerja harian di sekitar. Buruh kasar Rp120 ribu per hari. Sedang sopir Rp5 juta dan operator alat berat Rp7 juta per bulan.
“Kita bantu agar tenaga teknok lebih profesional. Yakni melalui kepemilikan sertifikat.Tukang las, operator alat berat sudah punya lisensi”, kata Chen.
Pihaknya senantiasa menghormati toleransi umat beragama. Jika teman minta ijin sholat atau mau ibadah Minggu, silahkan. Tak ada potong gaji.
“Makanya, di android saya ini, pesan masuk jamak bertanya, kapan kita kerja? Kapan kita kerja”, kata Chen (*)
