Sidrap, katasulsel.com — Di tengah ancaman kemarau yang membuat banyak daerah sibuk membicarakan kekurangan air, Kabupaten Sidenreng Rappang justru sedang menyiapkan target yang terdengar tidak biasa: menaikkan produksi padi hingga menembus dua digit per hektare.
Target itu mengemuka dalam pertemuan Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif dengan kelompok tani Kelurahan Wala dan Lakessi, Kecamatan Maritengngae, Jumat malam (14/8/2026).
Jika selama ini rata-rata produksi petani berada pada kisaran 7 hingga 8 ton per hektare, pemerintah daerah kini membidik angka 10 ton bahkan lebih melalui Program Percepatan Modernisasi Pertanian Berbasis Kawasan (PM-AAS).
Bagi sebagian petani, target tersebut mungkin terdengar ambisius. Namun bagi Syaharuddin Alrif, angka itu bukan sekadar mimpi di atas kertas.
Ia berkaca pada hasil uji coba di Majelling Wattang yang disebut mampu menghasilkan 11 hingga 12,2 ton per hektare.
“Target kita jelas. Dari rata-rata 7 ton sampai 8 ton, kita ingin naikkan menjadi 10 ton per hektare,” kata Syaharuddin.
Pernyataan itu menarik karena mengubah cara pandang pembangunan pertanian di Sidrap.
Selama ini, keberhasilan sektor pertanian sering diukur dari luas tanam atau jumlah panen. Kini, fokus mulai bergeser pada produktivitas lahan.
Artinya, bukan sekadar menambah sawah, tetapi membuat setiap hektare sawah menghasilkan lebih banyak gabah.
Wala dan Lakessi dipilih bukan tanpa alasan.
Kedua wilayah ini berada dalam kawasan irigasi dan didukung sistem pompanisasi yang relatif memadai. Dengan kata lain, pemerintah melihat dua kelurahan tersebut sebagai “ruang uji” bagi model pertanian modern yang nantinya bisa direplikasi ke wilayah lain.
Dalam dunia pertanian modern, produktivitas tinggi tidak hanya ditentukan oleh pupuk atau benih unggul.
Ada istilah precision farming, yakni pertanian yang mengandalkan pengelolaan lahan berdasarkan kebutuhan spesifik tanaman dan kondisi tanah.
Konsep inilah yang mulai terlihat dalam skema PM-AAS.
Petani tidak hanya menerima tambahan pupuk subsidi berupa Urea 300 kilogram per hektare dan NPK 400 kilogram per hektare. Mereka juga mendapat Petroganik hingga 1 ton per hektare serta dukungan Dolomit dan Silika.
Dolomit berfungsi memperbaiki tingkat keasaman tanah, sementara Silika membantu memperkuat akar dan batang tanaman agar tidak mudah rebah saat memasuki fase produksi.
Jika selama ini banyak petani hanya fokus pada pemberian pupuk, pendekatan baru ini mencoba memperbaiki “kesehatan tanah” secara menyeluruh.
Di balik program tersebut, ada pesan yang lebih besar.
Sidrap tampaknya sedang mencoba keluar dari pola pertanian konvensional menuju model pertanian berbasis teknologi dan pendampingan intensif.
Setiap kawasan seluas 100 hektare akan didampingi penyuluh pertanian dan diperkuat tenaga teknis dari Kementerian Pertanian.
Dengan pola itu, petani tidak lagi bekerja sendiri menghadapi persoalan budidaya.
Mereka mendapat pendampingan mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, hingga pengendalian hama.
Menariknya, langkah ini muncul saat banyak daerah sentra pangan nasional justru menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.
Ketika sejumlah wilayah berbicara tentang ancaman produksi, Sidrap memilih berbicara tentang peningkatan hasil.
Tentu target 10 ton per hektare bukan perkara mudah.
Ada faktor cuaca, disiplin budidaya, kualitas benih, hingga kemampuan petani mengikuti pola tanam yang direkomendasikan.
Namun jika berhasil, Wala dan Lakessi bisa menjadi contoh bahwa modernisasi pertanian bukan sekadar jargon, melainkan strategi nyata meningkatkan pendapatan petani.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pertanian bukan hanya berapa banyak sawah yang ditanami, melainkan seberapa besar hasil yang bisa dibawa pulang petani dari setiap musim panen.
Dan di Wala serta Lakessi, eksperimen besar itu sedang dimulai.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
