Jakarta, Katasulsel.com — Indonesia kembali menegaskan perannya dalam mendorong diplomasi perdamaian dunia melalui jalur keagamaan. Momentum itu ditandai dengan peluncuran buku Nasaruddin Umar: Jalan Cinta Menuju Perdamaian Dunia pada Rukun Festival 2026 di The Telkom Hub, Telkom Landmark Tower, Jakarta, Sabtu (12/7/2026).

Buku setebal lebih dari 260 halaman tersebut merekam sekaligus mengulas pemikiran, kepemimpinan, dan diplomasi perdamaian Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. Melalui pendekatan multidisipliner, karya ini menawarkan gagasan bahwa cinta bukan sekadar nilai moral, melainkan fondasi penting dalam membangun peradaban yang damai, inklusif, dan berkeadaban.

Karya tersebut disusun oleh 12 akademisi, yakni Farid F. Saenong, Agussalim, Ahmad Nailul Murad, Mas’ud Halimin, Anillahi Januar Adi Pranata, Asmiati, Darlis, Ilham B. Saenong, Muhammad Amri, Muhammad Aras Prabowo, Mulawarman Hannase, dan Zainal Abidin Husain.

Ketua Tim Penulis, Farid F. Saenong, Ph.D., mengatakan buku ini tidak hanya mendokumentasikan pemikiran Nasaruddin Umar, tetapi juga menawarkan cara pandang baru mengenai posisi agama dalam menjawab tantangan kemanusiaan global.

“Buku ini kami hadirkan bukan sekadar untuk membaca sosok Nasaruddin Umar, tetapi untuk menawarkan paradigma baru bahwa cinta adalah fondasi peradaban dan bahasa universal yang mampu mempertemukan agama, kemanusiaan, dan masa depan dunia.”

Pandangan serupa disampaikan kontributor Dr. Zainal Abidin Husain. Menurutnya, pemikiran Nasaruddin Umar menempatkan kemanusiaan sebagai horizon spiritual yang melampaui batas agama, etnis, maupun bangsa.

“Pemikiran Nasaruddin Umar mengingatkan kita bahwa kemanusiaan adalah horizon spiritual yang melampaui sekat agama, etnis, dan bangsa. Perdamaian hanya mungkin lahir ketika setiap manusia dimuliakan sebagai ciptaan Tuhan.”

Editor buku, Mas’ud Halimin, berharap karya tersebut mampu membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai agama sebagai energi moral dalam membangun masyarakat yang damai dan inklusif.

Sementara itu, Ilham B. Saenong menilai diplomasi agama Indonesia kini berkembang menjadi salah satu bentuk soft power yang semakin diperhitungkan di tingkat global. Dr. Mulawarman Hannase melihat pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman sebagai model yang relevan bagi penyelesaian berbagai konflik dunia. Adapun Ahmad Nailul Murad menekankan pentingnya menerjemahkan nilai-nilai Islam moderat ke dalam kebijakan publik yang menghadirkan keadilan dan kasih sayang.

Kontributor Dr. Muhammad Aras Prabowo menilai gagasan Nasaruddin Umar berhasil mempertemukan dimensi spiritualitas, kepemimpinan, dan diplomasi global dalam satu kerangka pemikiran.

“Jalan cinta bukan sekadar gagasan teologis, tetapi strategi peradaban yang menjadikan agama sebagai kekuatan rekonsiliasi, pembangunan perdamaian, dan solidaritas kemanusiaan dunia.”

Senada dengan itu, Dr. Darlis menyebut buku ini sebagai dokumentasi penting bagi perkembangan studi Islam kontemporer Indonesia. Sementara Dr. Muhammad Amri menilai generasi muda membutuhkan narasi keagamaan yang mengedepankan dialog, kolaborasi, serta kemaslahatan global.

Dalam sambutannya, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa perdamaian tidak akan pernah bertahan tanpa dilandasi nilai cinta.

“Tidak ada perdamaian yang bertahan lama jika tidak dibangun di atas cinta. Agama harus hadir sebagai energi moral yang menumbuhkan kasih sayang, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Semoga buku ini menjadi bagian dari ikhtiar kolektif membangun peradaban dunia yang lebih damai, lebih berkeadaban, dan lebih penuh kasih.”

Peluncuran buku ini menjadi salah satu agenda utama Rukun Festival 2026. Lebih dari sekadar peluncuran karya akademik, momentum tersebut menegaskan komitmen Indonesia untuk terus menghadirkan moderasi beragama, dialog lintas iman, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai kontribusi nyata dalam membangun perdamaian dunia.