Sidrap, katasulsel.com — Memasuki bulan kedua sejak digulirkan pada 3 April lalu, polling “Camat Paling Merakyat” di Sidrap mulai menunjukkan dinamika yang tak sekadar soal angka.
Ada “permainan rasa” di balik pilihan warga, apa itu?, efek psikologis pemilih kini terlihat makin dominan.
Di posisi puncak, Camat Tellu Limpoe, Ridwan Bachtiar tampak kian nyaman.
Ia seperti sedang menikmati bandwagon effect, istilah keren yang menggambarkan kecenderungan orang ikut memilih kandidat yang sudah terlihat unggul. Bahasa sederhanya: “yang sudah di atas, makin didorong naik.”
Perolehan suara per hari ini, Senin, 4 Mei 2026 bukan cuma bicara jumlah, tapi juga persepsi publik bahwa ia “sudah di jalur menang”.
Nah, persepsi ini biasanya jadi magnet—bisa menarik dukungan baru tanpa perlu kerja ekstra keras.
Di posisi kedua, Camat Pitu Riase, Andi Mukti Ali tak bisa dipandang sebelah mata.
Ia berperan sebagai strong challenger, penantang serius yang sewaktu-waktu bisa bikin kejutan. Dalam dunia elektabilitas, posisi ini ibarat “kuda pacu di tikungan terakhir”—berbahaya tapi juga penuh peluang.
Kalau ia mampu menciptakan momentum, entah lewat gerakan komunitas atau tampil lebih sering di ruang publik, selisih suara bisa cepat terpangkas.
Tapi kalau ritmenya datar saja, jangan heran jarak malah makin melebar karena efek “ekor jas” dari pemimpin di atasnya.
Sementara itu, Camat Maritengngae, Firman berada di posisi yang cukup tricky—sering disebut middle candidate trap.
Jelas. Ia aman di tiga besar, tapi belum cukup nendang untuk menembus dua besar. Posisi ini ibarat “serba nanggung”: bisa jadi kuda hitam kalau gaspol, tapi juga rawan disalip kalau lengah.
Menariknya, polling ini bukan cuma soal elektabilitas, tapi juga likeability—alias seberapa disukai seorang camat di mata warga. Istilah “merakyat” sendiri lebih dekat ke perasaan ketimbang angka kinerja.
Di sinilah “politik kedekatan” bermain.
Warga lebih mudah tersentuh oleh sosok yang sering turun langsung, menyapa, hadir di tengah-tengah mereka—bukan sekadar deretan laporan administratif di atas kertas.
Di sisi lain, kandidat dengan suara kecil menghadapi persoalan klasik: “tak terlihat, ya tak dipilih.”
Minim eksposur membuat mereka sulit dianggap sebagai opsi serius. Akibatnya, mereka makin ditinggalkan—sebuah lingkaran setan yang butuh strategi komunikasi kuat untuk diputus.
Dengan waktu tersisa hingga 3 Juni, fase yang biasanya terjadi adalah last minute surge—lonjakan suara di detik-detik akhir.
…………….
