Dr Ishak menegaskan bahwa sensitivitas sistem menjadi kunci utama.

“Kalau surveilans lambat, kita kalah oleh virus. Karena itu SKDR kami jadikan real-time alert system,” katanya.

Intervensi Komunitas: Menutup Celah Imunisasi

Di tingkat komunitas, strategi difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi melalui Posyandu untuk memperkuat herd immunity threshold. Pemerintah daerah menilai bahwa celah imunisasi adalah faktor utama yang membuka ruang transmisi di populasi.

Menurut Dr Ishak, pengendalian campak tidak dapat hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi harus menembus level komunitas secara sistemik.

“Virus ini tidak menunggu. Maka herd immunity harus kita kejar sebelum transmisi meluas,” tegasnya.

Status: Terkendali, Tapi Tidak Longgar

Meski terjadi peningkatan kasus, Pemerintah Kabupaten Sidrap menegaskan situasi belum memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat karakter campak yang memiliki potensi eskalasi cepat pada populasi dengan cakupan imunisasi tidak merata.

Dengan pendekatan rapid response epidemiology, penguatan clinical management, serta strategi imunisasi masif, Sidrap saat ini berada pada fase pengendalian aktif—bukan sekadar reaktif.

Di tengah ancaman virus yang bekerja senyap namun cepat, Dr Ishak Kenre menempatkan Sidrap pada posisi tegas: siaga penuh, tetapi tetap terkendali. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.