Namun pertanyaannya, apakah konsolidasi ini akan melahirkan soliditas atau justru meninggalkan residu konflik?
Dalam teori politik, kontestasi yang terlalu bergantung pada restu elite berpotensi menciptakan silent dissent di akar rumput. Loyalitas bisa terlihat di permukaan, tetapi belum tentu solid di bawah.
Di sisi lain, munculnya hanya dua kandidat juga bisa dibaca sebagai strategi streamlining power—menyederhanakan konflik agar tidak melebar.
Ini lazim dilakukan untuk menjaga stabilitas internal menjelang agenda politik yang lebih besar, termasuk Pemilu.
Musda Golkar Sulsel pun diprediksi bukan sekadar ajang pemilihan, melainkan panggung uji kekuatan jaringan, loyalitas kader, serta kemampuan membaca arah angin politik nasional.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih, satu hal tak bisa dihindari: tantangan utamanya bukan memenangkan kursi, tetapi merawat kohesi internal di tengah dinamika politik yang sarat kepentingan.
Karena dalam politik, kemenangan tanpa konsolidasi hanyalah awal dari konflik berikutnya. (*)
