“Yang balok kuning dan balok merah berpacu dengan berbagai upaya intervensi penemuan TB. Ini capaian Sidrap per Puskesmas Kecamatan, tiga besar hehehe,” ujarnya.

Kalimat “berpacu” itu menarik.

Sebab dalam perang melawan TBC, menjadi nomor satu bukan tujuan akhirnya.

Yang jauh lebih penting adalah menemukan mereka yang terinfeksi, memastikan pemeriksaan lanjutan, menghubungkan pasien dengan pengobatan, dan mencegah penularan berlanjut.

Karena itu, capaian Empagae dan kejutan Amparita bukan sekadar angka di atas kertas.

Itu menunjukkan bahwa ketika pencarian dilakukan lebih aktif, semakin banyak kasus yang berpeluang ditemukan dan ditangani.

Dinas Kesehatan Sidrap pun terus mendorong Puskesmas yang masih berada di zona merah dan kuning agar mengejar ketertinggalan.

Salah satunya melalui penguatan pemeriksaan dan edukasi, termasuk pemanfaatan Mobil X-Ray TB yang terintegrasi dengan CKG.

Klasemen ini tentu masih bisa berubah.

Dan “perlombaan” itu belum selesai.

Sebab dalam urusan TBC, kemenangan bukan ketika sebuah Puskesmas menjadi juara.

Kemenangan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak kasus ditemukan lebih awal, mendapatkan pengobatan, sembuh, dan rantai penularan bisa diputus.

Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)