Sidrap, Katasulsel.com — Perburuan Tuberkulosis (TBC) di Sidrap ternyata punya “klasemen” sendiri.

Bukan soal siapa paling cepat berlari.

Tetapi siapa yang paling banyak menemukan orang yang diduga TBC, lalu memastikan mereka masuk dalam penanganan yang tepat.

Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidrap per 6 September 2026, Puskesmas Empagae muncul sebagai yang terdepan dalam notifikasi penemuan kasus TBC.

Capaian notifikasinya sudah mencapai 43,3 persen dari target.

Yang membuatnya semakin menarik, penemuan suspek TBC di wilayah kerja Puskesmas Empagae bahkan sudah mencapai 111,7 persen.

Di belakangnya, ada Puskesmas Amparita.

Amparita justru bikin kejutan.

Capaian penemuan suspek TBC-nya mencapai 131,3 persen—tertinggi di antara Puskesmas yang tercatat.

Sementara untuk notifikasi kasus TBC, Amparita berada di angka 39,8 persen.

Puskesmas Bilokka juga masuk tiga besar dalam “klasemen” ini, dengan notifikasi penemuan TBC mencapai 36 persen dan penemuan suspek sebesar 80 persen.

Namun, tidak semua bergerak dengan kecepatan yang sama.

Puskesmas Lancirang masih berada di angka 8,5 persen untuk notifikasi penemuan TBC.

Sedangkan penemuan suspek terendah tercatat di Puskesmas Barukku, yakni 15,8 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Sidrap, Dr. Ishak Kenre, SKM., M.Kes., menyebut capaian tersebut menjadi gambaran bahwa setiap Puskesmas memiliki tantangan berbeda dalam menemukan kasus TBC.

“Yang balok kuning dan balok merah berpacu dengan berbagai upaya intervensi penemuan TB. Ini capaian Sidrap per Puskesmas Kecamatan, tiga besar hehehe,” ujarnya.

Kalimat “berpacu” itu menarik.

Sebab dalam perang melawan TBC, menjadi nomor satu bukan tujuan akhirnya.

Yang jauh lebih penting adalah menemukan mereka yang terinfeksi, memastikan pemeriksaan lanjutan, menghubungkan pasien dengan pengobatan, dan mencegah penularan berlanjut.

Karena itu, capaian Empagae dan kejutan Amparita bukan sekadar angka di atas kertas.

Itu menunjukkan bahwa ketika pencarian dilakukan lebih aktif, semakin banyak kasus yang berpeluang ditemukan dan ditangani.

Dinas Kesehatan Sidrap pun terus mendorong Puskesmas yang masih berada di zona merah dan kuning agar mengejar ketertinggalan.

Salah satunya melalui penguatan pemeriksaan dan edukasi, termasuk pemanfaatan Mobil X-Ray TB yang terintegrasi dengan CKG.

Klasemen ini tentu masih bisa berubah.

Dan “perlombaan” itu belum selesai.

Sebab dalam urusan TBC, kemenangan bukan ketika sebuah Puskesmas menjadi juara.

Kemenangan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak kasus ditemukan lebih awal, mendapatkan pengobatan, sembuh, dan rantai penularan bisa diputus.

Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)