Oleh: Edy Basri

Jarum jam sudah mendekati pukul 23.00 WITA.

Malam sudah larut ketika mobil berplat angka 1 yang membawa Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, memasuki halaman Rumah Jabatan Bupati, Senin (10/8/2026).

Hari itu tampaknya benar-benar panjang.

Sejak pagi hingga malam, agenda masyarakat nyaris tanpa jeda. Dari kegiatan pemerintahan, pertemuan warga, hingga berbagai kunjungan lapangan.

Saat turun dari kendaraan, Syaharuddin masih mengenakan pakaian dinas bupati.

Belum berganti.

Belum pula masuk untuk beristirahat.

Ia menyapa saya dan tim

Lalu, berjalan menuju teras samping rumah jabatan.

Duduk sejenak.

Meneguk segelas air.

Merapikan pakaian dinasnya.

Menata kembali energi yang tersisa setelah seharian beraktivitas.

Tidak lama.

Beberapa menit kemudian ia berdiri, lalu melangkah menuju area podcast yang telah disiapkan Tim Podcast Katasulsel.

Lampu kamera sudah menyala.

Mikrofon telah terpasang.

Tim produksi Saiful dan lainnya sudah berada di posisi masing-masing.

Tepat pukul 23.00 WITA, rekaman dimulai.

Tema malam itu: Enam Jembatan Perintis Garuda Merah Putih di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Awalnya saya membayangkan percakapan akan dipenuhi istilah teknis pembangunan.

Ternyata tidak.

Yang mengalir justru cerita tentang rakyat.

Tentang desa.

Tentang petani.

Tentang anak-anak sekolah.

Tentang TNI (Tentara) berbaur pasir, batu dan semen.

Tentang sungai yang selama ini menjadi penghalang, lalu perlahan berubah menjadi penghubung.

Dan tentang bagaimana negara hadir melalui sebuah program yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Ketika saya menanyakan perkembangan pembangunan enam Jembatan Perintis Garuda Merah Putih di Sidrap, Syaharuddin tidak banyak bicara soal konstruksi.

Ia justru berbicara tentang manfaat.

Tentang masyarakat yang kini memiliki akses lebih baik.

Tentang petani yang lebih mudah mengangkut hasil panennya.

Tentang aktivitas ekonomi desa yang semakin terbuka.

Tentang warga yang tidak lagi harus menghadapi kesulitan yang sama seperti sebelumnya ketika musim hujan datang.

Menurutnya, jembatan-jembatan tersebut bukan sekadar proyek fisik.

Lebih dari itu, ia adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat yang selama ini menunggu akses yang lebih layak.

“Yang paling penting adalah manfaatnya dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi menjadi inti dari seluruh percakapan malam itu.

Pada sesi berikutnya, pembicaraan mengarah pada Program Jembatan Perintis Garuda Merah Putih yang digagas pemerintah pusat.

Di bagian ini, Syaharuddin secara khusus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, kebijakan Presiden Prabowo yang memberikan perhatian besar terhadap pembangunan jembatan perintis merupakan langkah yang sangat strategis.

Sebab program tersebut lahir dari kebutuhan nyata masyarakat di berbagai daerah.

Berangkat dari banyaknya persoalan akses yang dialami warga, termasuk anak-anak sekolah yang harus menghadapi risiko ketika menyeberangi sungai.

Pemerintah pusat merespons persoalan itu dengan tindakan nyata.

Bukan sekadar wacana.

Tetapi melalui pembangunan yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sidrap dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto atas perhatian dan kebijakan yang sangat membantu masyarakat kami,” kata Syaharuddin.

Namun apresiasi itu tidak berhenti di tingkat pusat.

Syaharuddin juga memberikan penghargaan khusus kepada jajaran TNI yang menjadi ujung tombak pelaksanaan program tersebut.

Mulai dari Pangdam yang memberikan dukungan dan pengendalian program di wilayah, hingga Kodim 1420/Sidrap yang setiap hari berada di lapangan.

Menurutnya, tanpa kerja keras TNI, pembangunan jembatan-jembatan tersebut tidak mungkin berjalan secepat dan sebaik sekarang.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden, Panglima, Pangdam, kepada Dandim 1420/Sidrap beserta seluruh jajaran, dan seluruh personel TNI yang bekerja tanpa mengenal waktu di lapangan. Mereka bekerja bukan hanya sebagai prajurit, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ingin melihat desa-desa berkembang,” ujarnya.

Ia juga mengaku menyaksikan sendiri bagaimana personel TNI harus menghadapi medan yang tidak selalu mudah.

Ada lokasi yang aksesnya sulit.

Ada material yang harus didorong masuk ke wilayah yang jauh dari pusat kota.

Ada tantangan cuaca yang tidak selalu bersahabat.

Tetapi pekerjaan tetap berjalan.

Tanpa banyak keluhan.

Tanpa banyak sorotan.

Mereka bekerja sebagaimana tugas seorang prajurit: menyelesaikan amanah negara.

Yang menarik, kata Syaharuddin, pembangunan enam jembatan tersebut juga memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong masyarakat Sidrap.

Di berbagai lokasi pembangunan, warga ikut terlibat dengan caranya masing-masing.

Ada yang membantu kebutuhan di lapangan.

Ada yang mendukung proses pekerjaan.

Ada pula yang hadir sekadar memberikan semangat.

Menurutnya, pemandangan seperti itu menjadi bukti bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan sekadar slogan.

Ia benar-benar hidup di lapangan.

Terlihat.

Terasa.

Dan menjadi energi besar yang mempercepat pembangunan.

Pada sesi terakhir podcast, pembicaraan bergeser pada dampak ekonomi.

Sebagai daerah pertanian, Sidrap sangat bergantung pada akses yang baik.

Jembatan-jembatan yang dibangun tersebut akan memperkuat konektivitas desa, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta membuka ruang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Petani lebih mudah bergerak.

Transportasi menjadi lebih efisien.

Aktivitas masyarakat menjadi lebih lancar.

Dan peluang ekonomi semakin terbuka.

Karena itulah, menurut Syaharuddin, pembangunan jembatan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan desa.

Bukan hanya untuk hari ini.

Tetapi juga untuk generasi berikutnya.

Malam semakin larut.

Podcast Katasulsel akhirnya selesai ketika waktu telah melewati tengah malam.

Di luar, suasana Rumah Jabatan Bupati mulai sepi.

Tetapi dari percakapan hampir satu jam itu, saya membawa satu kesimpulan sederhana.

Enam Jembatan Perintis Garuda Merah Putih yang dibangun di Sidrap bukan sekadar tentang beton, besi, atau konstruksi.

Ia adalah hasil dari kolaborasi besar.

Presiden Prabowo menghadirkan kebijakan.

TNI menjalankan amanah di lapangan.

Pangdam memberi dukungan.

Dandim dan prajurit bekerja hingga pelosok desa.

Pemerintah Kabupaten Sidrap mengawal pelaksanaannya.

Masyarakat ikut bergotong royong.

Dan hasilnya adalah sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah jembatan.

Yaitu tersambungnya harapan ribuan warga dengan masa depan yang lebih baik.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini