Sidrap, Katasulsel.com — Beberapa orang meninggalkan jabatan karena masa tugasnya berakhir. Sebagian lainnya karena mendapat amanah baru. Namun almarhum Andi Faisal Sehuddin meninggalkan jabatannya dengan cara yang berbeda.
Ia pergi ketika tugas masih menunggu.
Ia mundur ketika program-program pendidikan masih berjalan.
Dan ia berpamitan bukan karena kehilangan semangat mengabdi, melainkan karena tubuhnya tak lagi mampu diajak berlari secepat pengabdiannya.
Bagi masyarakat Sidrap, nama Faisal Sehuddin bukanlah sosok yang asing dalam birokrasi. Kariernya tumbuh bersama perjalanan pemerintahan daerah. Dari ruang-ruang kepegawaian hingga akhirnya dipercaya memimpin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidrap.
Ketika Syaharuddin Alrif memulai kepemimpinannya sebagai Bupati Sidrap, Faisal termasuk salah satu pejabat yang berada di barisan depan untuk membantu menerjemahkan visi dan program pemerintah daerah, khususnya di sektor pendidikan.
Saat itu, harapan besar sedang dibangun.
Sekolah-sekolah dituntut semakin maju.
Kualitas pendidikan harus terus meningkat.
Dan anak-anak Sidrap diharapkan mampu bersaing dengan daerah lain.
Di tengah cita-cita besar itu, Faisal bekerja dalam senyap.
Tak banyak pidato.
Tak banyak sorotan.
Namun rekan-rekannya mengenal dirinya sebagai birokrat yang lebih senang bekerja daripada berbicara.
Sayangnya, takdir memiliki jalan lain.
Di saat berbagai program masih membutuhkan pengawal, kondisi kesehatannya mulai menurun.
Awalnya hanya diketahui orang-orang terdekat.
Namun perlahan, sakit yang dideritanya membuat langkah pengabdian itu tidak lagi mudah dijalani.
Hingga akhirnya, sebuah keputusan berat harus diambil.
Faisal memilih melepaskan jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang selama ini diembannya.
Bagi banyak ASN, jabatan adalah puncak karier.
Namun bagi Faisal, kesehatan dan keluarga saat itu menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Ia memilih mundur dengan tenang.
Tanpa kegaduhan.
Tanpa keluhan.
Tanpa mencari simpati.
Sejak saat itu, perjuangannya berubah.
Jika sebelumnya ia memperjuangkan pendidikan anak-anak Sidrap, maka kini ia memperjuangkan kesehatannya sendiri.
Hari demi hari berlalu.
Doa terus mengalir.
Harapan untuk sembuh terus tumbuh.
Namun Allah SWT memiliki rencana yang lebih indah.
Jumat, 26 Juni 2026, kabar duka itu akhirnya menyelimuti Bumi Nene Mallomo.
Faisal Sehuddin berpulang.
Tangis keluarga pecah.
Sahabat kehilangan teman.
ASN kehilangan senior.
Dan Sidrap kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Karena sesungguhnya, yang pergi hari itu bukan hanya mantan Kepala Dinas Pendidikan.
Yang pergi adalah seorang pengabdi yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melayani daerah ini.
Seorang birokrat yang tumbuh dari bawah, meniti karier setahap demi setahap, lalu memilih mengundurkan diri ketika merasa tak lagi mampu memberikan pengabdian secara maksimal.
Mungkin itulah yang membuat banyak orang merasa kehilangan.
Sebab Faisal Sehuddin tidak meninggalkan jabatan karena habis masa tugas.
Ia meninggalkan jabatan karena ingin sembuh.
Tetapi Tuhan memanggilnya lebih dahulu.
Kini, ruang kerjanya mungkin telah terisi.
Jabatannya mungkin telah berganti nama.
Namun kenangan tentang dirinya akan tetap tinggal di hati banyak orang.
Terutama mereka yang pernah bekerja bersamanya, belajar darinya, atau sekadar mengenal keramahan dan ketulusannya.
Di tengah upacara penghormatan terakhir yang dipimpin Bupati Syaharuddin Alrif, Sidrap seakan menyadari satu hal:
Ada orang yang pengabdiannya berakhir ketika masa tugas selesai.
Tetapi ada pula yang pengabdiannya dikenang jauh setelah ia tiada.
Dan Faisal Sehuddin adalah salah satunya.
Selamat jalan, Pak Faisal.
Mimpi-mimpi yang pernah Bapak bantu bangun untuk pendidikan Sidrap akan terus dilanjutkan.
Sementara nama dan keteladananmu akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang di Bumi Nene Mallomo. (*)
