Saya tertegun pada satu angka. Syahar (Syaharuddin Alrif sang bupati, red) itu yang mencetusnya
Oleh: Edy Basri
BUKAN angka APBD yah.
Bukan pula angka hasil pemilu atau angka produksi gabah yang selama ini menjadi kebanggaan Sidrap.
Tapi angka kemiskinan ekstrem.
Angka itu hanya 0,94. Kecil sekali.
Tapi justru karena kecil, ia menjadi penting.
Itulah angka kemiskinan ekstrem Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik. Angka itu turun dari 1,57 persen pada tahun sebelumnya.
Turunnya hanya 0,63 persen.
Kelihatannya biasa.
Padahal tidak.
Dalam bahasa statistik, itu angka. Dalam bahasa manusia, itu ribuan cerita.
Ada keluarga yang kini bisa makan lebih layak. Ada petani yang hasil panennya lebih baik. Ada pedagang kecil yang dagangannya mulai laku. Ada anak yang bisa tetap sekolah karena orang tuanya tidak lagi terjebak dalam kemiskinan paling ekstrem.
Sering kali kita terjebak pada cara melihat pembangunan.
Kita suka melihat bangunan baru.
Jalan baru.
Kantor baru.
Gapura baru.
Padahal ukuran paling jujur sebuah pemerintahan bukanlah beton.
Melainkan berapa banyak rakyat yang berhasil keluar dari kemiskinan.
Di situlah Sidrap menarik untuk diperhatikan.
Daerah ini memang tidak gaduh.
Tidak banyak membuat sensasi.
Tidak pula menjadi langganan headline nasional setiap hari.
Tetapi angka-angka mulai menunjukkan sesuatu.
Pelan.
Diam-diam.
Namun konsisten.
Ketika Syaharuddin Alrif menjadi bupati, fokus pembangunan tidak hanya berhenti pada proyek fisik. Pertanian terus didorong. Infrastruktur desa diperbaiki. UMKM diberi ruang tumbuh. Program sosial diperkuat.
Hasilnya tidak langsung terlihat dalam semalam.
Pembangunan memang bukan sulap.
Ia lebih mirip menanam padi.
Hari ini ditanam.
Besok disiram.
Bulan depan dirawat.
Lalu suatu hari dipanen.
Kini panen itu mulai terlihat dalam bentuk yang berbeda: kemiskinan ekstrem turun hingga di bawah satu persen.
Angka 0,94 persen juga menempatkan Sidrap sebagai daerah dengan kemiskinan ekstrem terendah di Sulawesi Selatan.
Ini bukan capaian yang datang dari langit.
Ia lahir dari kerja yang panjang, kolaborasi birokrasi, dukungan masyarakat, dan kebijakan yang menyentuh kebutuhan dasar warga.
Tentu belum semua persoalan selesai.
Masih ada warga yang membutuhkan bantuan.
Masih ada desa yang perlu perhatian.
Masih ada pekerjaan rumah yang harus dibereskan.
Tetapi arah perjalanan sebuah daerah sering kali lebih penting daripada kecepatannya.
Dan arah Sidrap saat ini tampaknya menuju satu tujuan yang benar: membuat semakin sedikit rakyat yang hidup dalam kesulitan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang kepala daerah tidak diukur dari seberapa sering namanya muncul di media.
Melainkan dari seberapa banyak rakyatnya yang hidup lebih baik dibanding kemarin.
Angka 0,94 persen itu mungkin kecil.
Tetapi bagi Sidrap, ia adalah angka yang sedang bercerita.
Bercerita bahwa kesejahteraan tidak datang dengan teriakan.
Ia datang perlahan.
Seperti padi yang menguning di sawah. (*)
