Makassar, Katasulsel.com – Setelah berbulan-bulan namanya berada di luar lintasan pencalonan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) akhirnya kembali masuk ke peta persaingan Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan.

Jalan itu terbuka melalui surat diskresi yang diterbitkan DPP Partai Golkar pada 24 Juni 2026. Namun, bagi IAS, diskresi tersebut belum menjadi tiket menuju kursi ketua. Ia baru memperoleh kesempatan untuk kembali bertarung.

Di dunia balap, posisi IAS saat ini ibarat pembalap yang kembali diizinkan masuk ke sirkuit setelah sempat didiskualifikasi. Masalahnya, garis finis masih jauh di depan.

Surat diskresi yang diterimanya justru memuat pekerjaan rumah yang tidak ringan. Mantan Wali Kota Makassar itu diwajibkan mengumpulkan dukungan minimal 30 persen dari total pemilik suara atau setidaknya sembilan suara agar dapat ditetapkan sebagai calon resmi dalam Musda Golkar Sulsel.

Tantangan itu menjadi menarik karena waktu yang diberikan tidak panjang. DPP disebut hanya memberi ruang sekitar dua pekan bagi IAS untuk memenuhi syarat tersebut.

Situasi ini membuat arena Musda Golkar Sulsel berubah menjadi panggung perburuan dukungan yang menegangkan.

Bila sebelumnya fokus tertuju pada siapa yang akan mendapat restu pusat, kini perhatian beralih pada siapa yang mampu menguasai suara daerah.

Di sisi lain, kubu Munafri Arifuddin atau Appi belum menunjukkan tanda-tanda kehilangan kepercayaan diri. Sejumlah pendukungnya masih mengklaim dukungan mayoritas pemilik suara tetap berada dalam genggaman mereka.

Kondisi itu membuat surat diskresi yang diterima IAS tidak otomatis mengubah peta kekuatan. Sebaliknya, surat tersebut justru menjadi pemantik babak baru pertarungan politik internal Partai Golkar Sulsel.

Menariknya, diskresi yang biasanya dipandang sebagai keputusan administratif kini berubah menjadi dokumen politik paling dibicarakan di tubuh Golkar Sulsel. Sebagian kader melihatnya sebagai peluang kedua bagi IAS, sementara yang lain menilainya sebagai ujian terakhir untuk membuktikan kekuatan riil yang dimilikinya.

IAS sendiri memilih tidak larut dalam berbagai spekulasi yang berkembang. Ia menegaskan tetap mengikuti keputusan partai dan menyerahkan seluruh proses kepada mekanisme organisasi.

Kini, hitungan hari menjadi semakin penting. Setiap dukungan yang berhasil diamankan dapat menjadi penentu nasib pencalonannya.

Di Musda Golkar Sulsel kali ini, surat diskresi ternyata bukan garis akhir. Ia hanya menjadi kunci.

Dan IAS masih harus membuktikan bahwa dirinya mampu menemukan pintu yang tepat untuk masuk ke gelanggang pertarungan sesungguhnya.