Wajo, Katasulsel.com — Tidak ada yang mencurigakan saat Paramitha Titania Anggelica alias Mita (26) meninggalkan Wajo menuju Morowali pada Juli 2024.
Seperti penumpang lainnya, perempuan muda asal Kabupaten Wajo itu hanya ingin sampai ke tujuan.
Di tengah perjalanan, Mita bahkan masih sempat menerima telepon dari ibunya.
“Sudah di mana, Nak?”
“Saya sudah dekat, Bu.”
Kalimat singkat itu menjadi percakapan terakhir yang didengar keluarganya.
Setelah itu, nomor telepon Mita tidak pernah aktif lagi.
Selama hampir dua tahun, keluarga hidup dalam tanda tanya. Mereka mencari, menunggu, berharap Mita suatu saat pulang atau setidaknya memberi kabar.
Namun yang mereka tunggu ternyata tak pernah terjadi.
Polisi kini mengungkap bahwa Mita diduga dibunuh oleh sopir travel yang mengantarnya sendiri, Alber Bin Markus Pagga (37), lalu jasadnya dibuang ke jurang di wilayah Morowali, Sulawesi Tengah.
Gara-gara Ucapan yang Membuat Pelaku Tersinggung
Pertanyaan terbesar dalam kasus ini bukan hanya bagaimana Mita dibunuh, tetapi mengapa nyawanya harus dihabisi.
Dari hasil pemeriksaan polisi, tidak ditemukan motif perencanaan rumit, persaingan bisnis, atau konflik besar sebelumnya.
Justru, penyebabnya disebut berawal dari persoalan yang sangat sepele.
Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya mengungkapkan, berdasarkan pengakuan Alber, pelaku tersinggung dengan ucapan korban.
Mita disebut mengeluarkan perkataan yang dianggap merendahkan profesi pelaku sebagai sopir travel.
Tak hanya itu, pelaku juga mengaku menyimpan sakit hati karena korban disebut pernah berbicara kasar mengenai adiknya.
Perasaan tersinggung itu kemudian berubah menjadi kemarahan.
Kemarahan berubah menjadi kekerasan.
Dan kekerasan berakhir dengan kematian.
“Motifnya sakit hati. Pelaku mengaku korban sempat memaki adiknya dan juga mengeluarkan ucapan yang dianggap menghina pekerjaannya,” ungkap Douglas.
Bagi penyidik, motif tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam mengungkap apa yang terjadi di dalam mobil saat perjalanan menuju Morowali.
Hanya Berdua di Dalam Mobil
Polisi mengungkap, pada 22 Juli 2024 Mita berangkat menggunakan mobil travel Toyota Avanza hitam yang dikemudikan Alber.
Saat itu tidak ada penumpang lain.
Hanya Mita dan Alber di dalam kendaraan.
Kondisi itulah yang diduga membuat pelaku leluasa menjalankan aksinya.
Dalam pemeriksaan, Alber mengaku memukul bagian belakang leher korban menggunakan kunci roda mobil.
Pukulan tersebut menyebabkan korban meninggal dunia.
Setelah memastikan korban tidak bernyawa, pelaku kemudian membawa jasad Mita ke kawasan terpencil di Morowali dan membuangnya ke dasar jurang.
Jurang itu memiliki kedalaman sekitar 60 meter.
Di tempat itulah jasad korban tersembunyi selama bertahun-tahun.
Tidak Hanya Membunuh
Fakta lain yang terungkap membuat kasus ini semakin menyita perhatian.
Setelah korban meninggal dunia, pelaku tidak langsung melarikan diri.
Ia diduga mengambil barang-barang milik korban.
Polisi menyebut Alber membawa dua telepon genggam dan dompet milik Mita yang berisi kartu ATM.
Dari kartu ATM tersebut, pelaku diduga menarik uang korban hingga mencapai sekitar Rp62 juta.
Polisi juga mengungkap bahwa kunci roda yang digunakan sebagai alat pemukul dibuang ke sungai untuk menghilangkan jejak.
Merasa Aman, Polisi Terus Memburu
Setelah kejadian, Alber memilih menghilang.
Ia kabur hingga ke Papua dan tinggal di sana selama kurang lebih satu tahun.
Ketika kembali ke Sulawesi, ia bersembunyi di Dusun Mao, Desa Buttuada, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Wilayah itu dikenal cukup terpencil, memiliki akses terbatas dan jaringan telekomunikasi yang minim.
Di tempat itulah Alber diduga merasa aman.
Sementara keluarga korban terus menunggu kepastian.
Namun penyelidikan polisi ternyata tidak pernah berhenti.
Dari berbagai petunjuk yang dikumpulkan sejak laporan kehilangan Mita masuk ke Polres Wajo pada Agustus 2024, penyidik perlahan menyusun potongan-potongan puzzle yang hilang.
Hingga akhirnya keberadaan Alber berhasil terlacak.
Pada 8 Agustus 2026, tim Satreskrim Polres Wajo menangkapnya tanpa perlawanan di rumah keluarganya.
Penangkapan itu menjadi titik akhir pelarian panjang yang berlangsung hampir dua tahun.
Misteri yang Akhirnya Terjawab
Kasus Mita menyisakan satu kenyataan pahit.
Seorang perempuan muda kehilangan nyawanya bukan karena konflik besar atau kejahatan terorganisir, melainkan karena kemarahan yang menurut pengakuan pelaku dipicu oleh rasa tersinggung.
Sebuah emosi sesaat yang berujung pada hilangnya satu nyawa, penderitaan keluarga yang berkepanjangan, dan pelarian yang akhirnya berakhir di tangan hukum.
Kini Alber telah diserahkan ke Polres Morowali untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Sementara bagi keluarga Mita, pengungkapan kasus ini setidaknya menjawab pertanyaan yang menghantui mereka selama hampir dua tahun:
Mengapa Mita tidak pernah pulang?
Jawaban itu akhirnya ditemukan di sebuah jurang di Morowali, tempat rahasia kelam tersebut disembunyikan selama bertahun-tahun.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
