Parepare, katasulsel.com — Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sejumlah daerah, Kota Parepare justru menunjukkan performa yang cukup kuat pada awal 2026. Kota yang dikenal sebagai simpul perdagangan dan jasa di kawasan Ajatappareng ini mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,82 persen pada Triwulan I Tahun 2026.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Parepare menunjukkan, pertumbuhan tersebut terjadi secara year on year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi nilai, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Parepare tercatat mencapai Rp2,590 triliun atas dasar harga berlaku. Sementara atas dasar harga konstan 2010, angkanya berada di level Rp1,496 triliun.

Namun yang paling mencuri perhatian dalam laporan ini bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan sektor yang menjadi penggerak utama di balik laju ekonomi tersebut.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi bintang utama pertumbuhan ekonomi Parepare dengan lonjakan signifikan mencapai 28,20 persen.

Sektor ini mencakup aktivitas hotel, penginapan, restoran, rumah makan, kafe, hingga berbagai usaha kuliner yang tersebar di berbagai titik kota.

Lonjakan ini mengindikasikan meningkatnya tingkat hunian hotel serta ramainya aktivitas kuliner di Kota Parepare. Perputaran tamu dari luar daerah, kegiatan bisnis, hingga mobilitas masyarakat disebut menjadi faktor yang ikut mendorong geliat sektor ini.

Sejumlah pelaku usaha perhotelan dan restoran di Parepare juga merasakan dampaknya, terutama pada peningkatan kunjungan tamu dan aktivitas makan di luar rumah yang semakin aktif dibanding tahun sebelumnya.

Di sisi lain, sektor konsumsi pemerintah juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 35,12 persen, yang turut memperkuat daya dorong ekonomi di awal tahun.

Kombinasi antara belanja pemerintah, aktivitas perdagangan, serta sektor hotel dan restoran membuat perputaran ekonomi Parepare bergerak lebih dinamis.

Pertumbuhan 5,82 persen ini juga menegaskan posisi Parepare sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah utara Sulawesi Selatan, terutama sebagai kota layanan yang menopang mobilitas antarwilayah.

Dengan peran strategis sebagai kota transit, pendidikan, kesehatan, dan perdagangan, aktivitas ekonomi Parepare sangat dipengaruhi oleh arus manusia yang masuk dan keluar kota, yang pada akhirnya berdampak langsung pada sektor akomodasi dan kuliner.

Meski demikian, para pelaku usaha berharap tren positif ini dapat terus berlanjut, terutama dengan dukungan investasi baru di sektor pariwisata, perhotelan, dan kuliner yang menjadi tulang punggung ekonomi jasa di kota ini.

Jika momentum ini terus terjaga, bukan tidak mungkin Parepare akan semakin menguat sebagai kota jasa dengan daya tarik ekonomi yang semakin kompetitif di Sulawesi Selatan. (*)