Peluang pengembangan jejaring akademik seperti ini dapat menjadi pijakan bagi kampus-kampus peserta untuk menjajaki kolaborasi sesuai kebutuhan dan kesepakatan masing-masing institusi.
Simposium dihadiri Naib Canselor UCYP University, Prof. Dato’ Dr. Muhammad Fauzi bin Mohd Zain.
Dari Indonesia, hadir Dr. Ismail Suardi Wekke, MA., Wakil Rektor Institut Agama Islam Rawa Aopa, Konawe Selatan, serta Dr. Mujahidah, S.Pd.I., M.Pd., dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare.
Peserta lainnya berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Universitas Hasanuddin, STAI DDI Kota Makassar, dan UIN Palopo.
Pertemuan lintas kampus ini mempertemukan beragam pengalaman pendidikan tinggi Indonesia dalam satu ruang akademik di Malaysia.
Kehadiran dosen dan mahasiswa juga memberi dimensi tersendiri bagi kegiatan tersebut. Pertukaran akademik bukan hanya soal hubungan antarpimpinan kampus, melainkan juga kesempatan membangun wawasan, memperluas jaringan, dan membuka kemungkinan kegiatan ilmiah bersama.
Bagi IAI DDI Sidrap, partisipasi dalam forum ini dapat menjadi bagian dari upaya memperluas cakrawala akademik dan memperkuat posisi kampus daerah dalam jejaring pendidikan tinggi regional.
Namun, nilai sebuah pertemuan internasional tidak berhenti pada kehadiran. Tantangan berikutnya adalah bagaimana peluang yang terbuka dapat ditindaklanjuti melalui kegiatan akademik yang konkret.
Kolaborasi penelitian, seminar bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga pengembangan program pendidikan dapat menjadi bentuk kerja sama yang memberi manfaat langsung bagi sivitas akademika.
Dari Sidrap ke Malaysia, keterlibatan IAI DDI dalam simposium ini menjadi pengingat bahwa kampus daerah juga memiliki ruang untuk hadir dalam percakapan akademik lintas negara.
Peradaban Islam menjadi tema yang mempertemukan para peserta. Sementara keberlanjutan kolaborasi akan menjadi ukuran sejauh mana pertemuan tersebut mampu menghasilkan manfaat bagi dunia pendidikan. (edy)
