Pinrang, katasulsel.com — Di Dusun Paleleng, Desa Kaseralau, Kabupaten Pinrang, suara ambulans bukan sesuatu yang akrab didengar warga.
Bukan karena tidak ada orang sakit.
Tetapi karena mobil ambulans nyaris tidak bisa masuk.
Jalan rusak.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Berlumpur.
Berbatu.
Dan di beberapa titik, lebih mirip jalur kebun daripada akses menuju permukiman warga.
Karena itulah, ketika seorang perempuan bernama Tisa jatuh sakit pada Minggu sore, 10 Mei 2026, warga kembali melakukan cara lama yang sebenarnya terdengar menyedihkan di tahun 2026 ini: menandu pasien memakai sarung.
Bukan satu dua orang.
Tetapi ramai-ramai.
Mereka berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer demi membawa Tisa menuju RSUD Massenrempulu, rumah sakit terdekat yang bisa dijangkau warga perbatasan Pinrang-Enrekang itu.
“Karena jalan rusak dan tidak bisa dilalui mobil atau ambulans, sejak dulu sampai sekarang warga memang pakai sarung untuk gotong orang sakit,” kata warga setempat, Parman.
Kalimat “sejak dulu sampai sekarang” terdengar sederhana.
Padahal di situlah letak masalah besarnya.
Artinya, kondisi ini bukan kejadian baru.
Bukan pula insiden mendadak.
Ini persoalan lama yang terus berulang.
Dan ironisnya, warga sudah terlalu terbiasa menghadapinya.
Di banyak kota, orang mungkin panik ketika ambulans terlambat lima menit.
Di Paleleng, warga bahkan sudah lebih dulu sadar bahwa ambulans kemungkinan besar memang tidak akan pernah sampai ke rumah mereka.
Jalan Rusak Itu Bukan Sekadar Soal Infrastruktur
Bagi masyarakat pegunungan seperti di Kaseralau, jalan bukan hanya urusan pembangunan fisik.
Ia adalah akses hidup.
Akses sekolah.
Akses ekonomi.
Dan yang paling penting: akses kesehatan.
Karena ketika ada warga sakit, setiap menit sangat berarti.
Masalahnya, jalur utama yang biasa digunakan warga, yakni poros Paleleng-Jalikko, justru masih dalam kondisi memprihatinkan.
Padahal jalur itulah yang paling dekat menuju fasilitas kesehatan.
“Kalau ke Jalikko sekitar dua kilometer. Kalau lewat Cemba bisa delapan sampai sembilan kilometer,” ujar Parman.
Dan di sinilah kekecewaan warga mulai terasa.
Sebab menurut mereka, pemerintah memang sudah sempat datang melakukan pengukuran jalan. Tetapi jalur yang direncanakan diperbaiki justru bukan akses utama yang sehari-hari digunakan masyarakat.
Yang diukur adalah poros Paleleng-Cemba.
Bukan Paleleng-Jalikko.
Bagi warga, itu seperti memperbaiki jalan yang jarang dilewati sementara jalur paling vital justru tetap rusak.
Janji Perbaikan Sudah Pernah Datang
Yang membuat cerita ini makin pahit, kejadian serupa sebenarnya sudah pernah viral sebelumnya.
Pada Maret 2025 lalu, seorang perempuan bernama Karmila juga harus ditandu sejauh sekitar dua kilometer menuju rumah sakit karena jalan rusak.
Saat itu, foto dan video warga memikul pasien memakai sarung sempat memancing perhatian publik.
Pemerintah daerah pun merespons.
Janji perbaikan jalan sempat disampaikan.
Bahkan Sekda Pinrang saat itu mengatakan pemerintah memberi perhatian besar terhadap persoalan tersebut.
Tetapi setahun berlalu, kondisi jalan ternyata belum banyak berubah.
Dan sekarang, warga kembali mengangkat pasien dengan sarung.
Seolah waktu tidak bergerak di sana.
Rumah Sakit Terdekat Justru Ada di Kabupaten Tetangga
Hal lain yang membuat cerita ini terasa ironis adalah lokasi rumah sakit tujuan warga.
Secara administratif mereka tinggal di Pinrang.
Tetapi ketika sakit, warga justru lebih dekat menuju rumah sakit di Kabupaten Enrekang.
Itulah mengapa pasien dibawa ke RSUD Massenrempulu.
Karena akses ke sana dianggap paling memungkinkan.
Ini memperlihatkan satu realitas yang sering terjadi di daerah perbatasan: batas administrasi tidak selalu sama dengan akses pelayanan.
Dan ketika infrastruktur buruk, masyarakat akhirnya memilih jalur yang paling realistis—meski harus lintas kabupaten.
Warga Pegunungan Merasa Dilupakan
Di balik video viral warga menandu pasien, ada rasa kecewa yang sebenarnya jauh lebih dalam.
Warga pegunungan merasa tidak benar-benar diperhatikan.
“Kurang sekali perhatian pemerintah, seolah tidak ada tanggung jawabnya dengan masyarakat pegunungan,” kata Parman.
Kalimat itu terdengar emosional.
Tetapi mungkin memang lahir dari rasa lelah yang sudah lama dipendam.
Karena bagi masyarakat desa terpencil, persoalan jalan rusak bukan sekadar ketidaknyamanan.
Ia bisa menentukan apakah seseorang cepat sampai ke rumah sakit atau tidak.
Bahkan bisa menentukan keselamatan nyawa.
Pemerintah Janji Jalan Akan Dibangun Tahun Ini
Sementara itu, Kepala Puskesmas Batulappa, Amrullah, mengatakan pihaknya sebenarnya sudah berupaya memberikan pelayanan kesehatan maksimal.
Mulai dari penyediaan pustu di Desa Kaseralau hingga penempatan tenaga kesehatan lokal.
Ia juga menyebut pasien yang sakit telah difasilitasi hingga proses rujukan ke rumah sakit.
Menurutnya, pemerintah daerah berencana melakukan pembangunan jalan tahun ini.
Bahkan persoalan tersebut disebut sudah dibahas langsung antara Pemerintah Pinrang dan Pemerintah Enrekang karena berkaitan dengan wilayah perbatasan.
Tetapi bagi warga Paleleng, janji sekarang tampaknya tidak lagi cukup menenangkan.
Karena mereka sudah terlalu sering mendengar rencana.
Sementara jalan rusaknya masih tetap sama.
Dan selama jalan itu belum benar-benar diperbaiki, warga di sana tampaknya masih harus menyimpan satu “ambulans tradisional” yang paling setia menemani mereka:
Sarung. (*)
Update terbaru: 12 Mei 2026 17:07 WIB
