Ketika hilirisasi MIND ID mengubah hasil tambang menjadi industri, teknologi, pekerjaan, dan bagian dari kedaulatan Indonesia.
Oleh: Edy Basri
ADA benda yang kelihatannya biasa saja.
Batu.
Hitam. Cokelat. Mengkilap. Kadang justru kusam.
Orang yang melihatnya sekilas mungkin tidak akan berhenti.
Tetapi bagi sebuah negara, batu tertentu bisa berarti banyak hal.
Uang. Pekerjaan. Industri. Teknologi. Bahkan kedaulatan.
Di situlah cerita pertambangan Indonesia sebenarnya bermula.
Bukan di kapal yang mengangkut mineral ke luar negeri.
Bukan pula di lubang tambang yang menganga.
Melainkan pada pertanyaan sederhana:
Setelah mineral itu diambil dari perut bumi, akan menjadi apa?
Pertanyaan itulah yang sekarang sedang dijawab MIND ID.
Mining Industry Indonesia.
Holding BUMN industri pertambangan yang membawa satu gagasan besar: jangan berhenti pada tambang.
Sebab menjual mineral mentah memang menghasilkan uang.
Tetapi mengolahnya di dalam negeri bisa menciptakan sesuatu yang jauh lebih panjang.
Pabrik.
Industri.
Teknologi.
Lapangan kerja.
Dan rantai ekonomi yang tidak langsung putus ketika kapal meninggalkan pelabuhan.
Bersambung………………..
Tambang tidak boleh berhenti di tambang
Dulu, kita sering membayangkan pertambangan secara sederhana.
Ambil dari bumi.
Jual.
Selesai.
Sekarang ceritanya berbeda.
Bijih nikel tidak cukup hanya menjadi nikel.
Bauksit tidak cukup hanya keluar sebagai bauksit.
Tembaga tidak cukup berhenti sebagai konsentrat.
Timah tidak cukup sekadar ditimbang dan dikirim.
Karena nilai terbesar justru sering berada beberapa langkah setelah tambang.
Di sanalah kata hilirisasi menjadi penting.
MIND ID menempatkan diri bukan sekadar sebagai perusahaan yang mengurus komoditas pertambangan, tetapi sebagai penggerak rantai nilai mineral dari hulu sampai hilir.
Dan angka-angkanya mulai berbicara.
Pada 2025, MIND ID mencatat pendapatan Rp159,46 triliun. Naik sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
Laba bersih mencapai Rp29,89 triliun.
Kontribusi kepada negara dan pemangku kepentingan—berupa pajak, PNBP, royalti, serta dividen—mencapai Rp22,6 triliun.
Tetapi angka itu bukan akhir cerita.
Justru di situlah cerita baru dimulai.
Maroef dan pekerjaan yang tidak kelihatan
Maroef Sjamsoeddin masuk ke kursi Direktur Utama MIND ID pada Maret 2025.
Masa jabatannya bukan masa yang ringan.
Harga komoditas bisa naik.
Bisa turun.
Geopolitik berubah.
Permintaan dunia berubah.
Teknologi berubah.
Dan dunia sedang berlomba meninggalkan energi fosil sambil tetap membutuhkan mineral dalam jumlah besar.
Ironis?
Sedikit.
Dunia ingin lebih hijau.
Tetapi untuk membuat kendaraan listrik, jaringan listrik, baterai, panel surya, dan berbagai teknologi energi baru, dunia justru membutuhkan lebih banyak mineral.
Maka mineral strategis menjadi seperti minyak pada masa lalu.
Bedanya, kali ini Indonesia tidak ingin hanya menjadi pemilik tanah tempat mineral itu ditemukan.
Indonesia ingin menjadi bagian penting dari industri yang lahir setelah mineral itu ditemukan.
Maroef menyebut MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi tidak sekadar berjalan, tetapi menghasilkan manfaat yang terukur bagi ekonomi nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi, dan industri masa depan Indonesia.
Kalimat itu terdengar seperti kalimat korporasi.
Tetapi pekerjaan di belakangnya tidak sesederhana kalimatnya.
Bersambung………………..
Lihat saja tembaga
Ambil satu contoh.
Tembaga.
Dulu, kita berbicara tentang konsentrat.
Sekarang kita berbicara tentang katoda.
Bahkan sudah mulai bicara tentang produk yang lebih jauh lagi.
PT Freeport Indonesia mengoperasikan Smelter Manyar di Gresik.
Fasilitas itu dirancang mengolah sekitar 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Di tempat lain, tembaga mulai diarahkan masuk ke industri manufaktur.
MIND ID bahkan mengembangkan sinergi dengan Pindad untuk pemanfaatan katoda tembaga dalam produksi brass cup di Gresik.
Kapasitasnya 10.000 ton per tahun.
Rencananya tidak berhenti di situ.
Ada pengembangan batang dan kawat tembaga dengan kapasitas hingga 300 ribu ton per tahun serta pipa tembaga hingga 100 ribu ton per tahun.
Di sinilah makna hilirisasi mulai kelihatan.
Mineral yang semula berada jauh di dalam tanah Papua atau wilayah tambang lainnya, akhirnya bisa masuk ke pabrik.
Dari pabrik masuk ke industri.
Dari industri masuk ke produk.
Dan produk itu bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan kita.
Itulah rantai nilai.
Dari bauksit ke aluminium
Cerita lain datang dari Kalimantan Barat.
Bauksit adalah bahan bakunya.
Aluminium adalah salah satu tujuan hilirnya.
Melalui proyek Smelter Grade Alumina Refinery atau SGAR Mempawah, yang dikembangkan ANTAM dan INALUM melalui PT Borneo Alumina Indonesia, Indonesia membangun kapasitas pengolahan bauksit menjadi alumina.
Kapasitas proyeknya mencapai 1 juta ton per tahun.
Ini penting.
Sebab selama bertahun-tahun, persoalan Indonesia bukan kekurangan mineral.
Kita justru terlalu kaya mineral.
Masalahnya adalah bagaimana kekayaan itu tidak berhenti sebagai kekayaan geologis.
Ia harus berubah menjadi kekayaan ekonomi.
Dan kekayaan ekonomi itu harus berubah lagi menjadi kesejahteraan.
Urutannya panjang.
Tetapi memang begitulah pekerjaan rumah sebuah negara besar.
Bersambung………………..
Tambang akhirnya bertemu baterai
Cerita yang paling sering disebut tentu nikel.
Karena nikel sekarang tidak lagi hanya soal stainless steel.
Ia juga berkaitan dengan kendaraan listrik dan baterai.
MIND ID bersama anggota grupnya terus membangun rantai pasok mineral strategis, termasuk ekosistem baterai kendaraan listrik.
Pada semester I 2025, ANTAM mencatat produksi bijih nikel 9,10 juta wet metric ton dan penjualan 8,20 juta wet metric ton. Pada periode yang sama, ANTAM juga memulai pembangunan proyek strategis ekosistem kendaraan listrik bersama Indonesia Battery Corporation dan mitra internasional.
Artinya begini.
Tambang tidak lagi berdiri sendiri.
Ada pengolahan.
Ada pemurnian.
Ada bahan baku.
Ada baterai.
Ada kendaraan.
Ada industri baru.
Kalau seluruh mata rantai itu bisa tumbuh di dalam negeri, nilai yang tinggal di Indonesia tentu semakin besar.
Tetapi tambang tidak boleh hanya bicara uang
Ini bagian yang sering terlupakan.
Tambang memang menghasilkan uang.
Tetapi tambang juga menggunakan tanah.
Air.
Energi.
Dan ruang hidup masyarakat.
Karena itu, keberhasilan pertambangan tidak cukup diukur dari laba.
Ada pertanyaan lain:
Berapa banyak lahan yang dipulihkan?
Berapa banyak emisi yang dikurangi?
Berapa banyak masyarakat lokal yang menjadi lebih mandiri?
Berapa banyak anak di sekitar tambang yang bisa sekolah lebih tinggi?
Berapa banyak usaha kecil yang tumbuh?
MIND ID dalam Laporan Keberlanjutan 2025 menempatkan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial sebagai bagian dari kerangka keberlanjutan grup. Laporan itu mencakup ANTAM, PTBA, INALUM, dan TIMAH.
Jadi, istilah ESG bukan lagi aksesori laporan tahunan.
Ia semakin menjadi syarat untuk tetap diterima di pasar global.
Sebab dunia sedang berubah.
Pembeli tidak hanya bertanya:
“Berapa harganya?”
Tetapi juga:
“Bagaimana barang itu dibuat?”
Bersambung………………..
Batu bara juga sedang mencari kehidupan kedua
Ada ironi lain.
Indonesia masih membutuhkan batu bara.
Ketahanan energi masih membutuhkan batu bara.
Tetapi dunia sedang menuju transisi energi.
Lalu apa?
PT Bukit Asam mencoba mencari jawabannya.
Bukan hanya menambang.
Tetapi juga mengembangkan hilirisasi dan diversifikasi produk.
Produksi PTBA pada semester I 2025 mencapai 21,73 juta ton, naik 16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan mencapai 21,62 juta ton.
Di saat yang sama, perusahaan mengembangkan agenda hilirisasi seperti DME dan grafit sintetis.
Ini menunjukkan satu hal.
Perusahaan tambang masa depan tidak bisa hanya mengandalkan satu komoditas dan satu cara kerja.
Ia harus berubah.
Kalau tidak berubah, ia akan ditinggalkan zaman.
Teknologi masuk ke lubang tambang
Ada satu perubahan lain yang tidak selalu terlihat dari luar.
Digitalisasi.
Dulu tambang identik dengan manusia, alat berat dan debu.
Sekarang mulai masuk sensor.
Data.
Otomasi.
Kecerdasan buatan.
Kendaraan yang bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Teknologi bukan sekadar untuk membuat produksi lebih cepat.
Ia juga untuk membuat pekerjaan lebih aman.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pertambangan tidak boleh dibayar dengan nyawa pekerja.
Konsep zero harm menjadi semakin penting.
Tambang masa depan harus lebih pintar.
Bukan sekadar lebih besar.
Yang paling penting justru yang tidak kelihatan
Ada satu ukuran keberhasilan hilirisasi yang sering luput dari laporan keuangan.
Yakni:
berapa lama manfaatnya bertahan setelah mineralnya habis.
Sebab mineral suatu hari akan habis.
Tambang tidak mungkin selamanya terbuka.
Karena itu, pertambangan harus meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada lubang tambang.
Harus ada manusia yang lebih terampil.
Harus ada pengusaha lokal yang lebih kuat.
Harus ada infrastruktur.
Harus ada industri.
Harus ada pengetahuan.
Harus ada teknologi.
Dan, kalau semuanya berjalan baik, harus ada generasi berikutnya yang tidak lagi bergantung pada menjual bahan mentah.
Di situlah makna kedaulatan mineral menjadi lebih masuk akal.
Bukan berarti Indonesia menutup diri dari dunia.
Justru sebaliknya.
Indonesia masuk ke dunia dengan posisi yang lebih kuat.
Bukan hanya sebagai pemilik tambang.
Tetapi sebagai pemilik bagian dari rantai industrinya.
Bersambung………………..
Dari bumi untuk siapa?
Pertanyaan akhirnya sederhana.
Dari bumi Indonesia, untuk siapa mineral itu?
Jawabannya tentu bukan hanya untuk perusahaan.
Bukan hanya untuk investor.
Bukan hanya untuk negara.
Dan bukan pula hanya untuk industri.
Ia harus kembali kepada rakyat.
Dalam bentuk pekerjaan.
Pendidikan.
Kesehatan.
Infrastruktur.
Industri.
Penerimaan negara.
Teknologi.
Dan masa depan.
Itulah sebabnya MIND ID sedang mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya jauh lebih besar daripada pertambangan.
Ia sedang mencoba mengubah cara Indonesia memandang kekayaan alam.
Dulu kita bertanya:
“Berapa banyak yang bisa kita gali?”
Sekarang pertanyaannya harus berubah:
“Berapa banyak nilai yang bisa kita ciptakan setelah menggali?”
Itulah perbedaan antara negara yang kaya sumber daya dengan negara yang mampu mengelola sumber dayanya.
Batu tetaplah batu.
Bijih tetaplah bijih.
Tetapi ketika pengetahuan, teknologi, industri, manusia dan negara ikut bekerja di belakangnya, benda yang diam di dalam tanah itu bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Bisa menjadi pabrik.
Bisa menjadi pekerjaan.
Bisa menjadi baterai.
Bisa menjadi kabel.
Bisa menjadi kendaraan.
Bisa menjadi devisa.
Bisa menjadi kekuatan industri.
Dan pada akhirnya—
bisa menjadi bagian dari kedaulatan.
Dari bumi Indonesia, nilai tambahnya jangan ikut pergi.
Itulah pertaruhan sebenarnya.
Penulis adalah pimpinan redaksi di katasulsel.com (*)
