MAKASSAR, Katasulsel.com — Mereka sehari-hari mencari nafkah di atas aspal.
Mengantar penumpang.
Mengantar makanan.
Mengantar barang.
Tetapi pada 17 Agustus, ribuan pengemudi ojek online atau ojol di Makassar memilih berhenti sejenak dari rutinitas itu.
Mereka turun ke jalan bukan sekadar untuk merayakan kemerdekaan.
Mereka datang membawa sesuatu yang lebih penting: kepedulian.
Komunitas pengemudi Grab, Maxim dan Gojek menggelar rangkaian “Pawai Merdeka” dan aksi sosial secara serentak di Kota Makassar, Senin (17/8/2026).
Bendera Merah Putih berkibar.
Konvoi bergerak.
Tetapi ujung kegiatan mereka bukan sekadar tempat berkumpul dan berfoto.
Ada pantai yang dibersihkan.
Ada warga yang sedang tertimpa musibah yang didatangi.

Di situlah kemerdekaan mereka rayakan.
500 Ojol Grab Bergerak dari Jalan Leimena
Pagi itu, sekitar 500 pengemudi roda dua dari Aliansi URC-MGM komunitas Grab memulai konvoi dari Jalan Leimena.
Mereka melintasi sejumlah ruas protokol Makassar sebelum berhenti di Pelataran Masjid 99 Kubah, kawasan CPI.
Sesampainya di lokasi, suasana berubah.
Tidak ada lagi suara mesin yang menjadi pusat perhatian.
Para driver mengikuti berbagai permainan khas 17 Agustus, seperti tarik tambang dan balap karung.
Sederhana.
Tetapi tujuannya jelas: mempererat persaudaraan sesama pengemudi.
Sebab di jalan, mereka berbeda platform.
Ada Grab.
Ada Maxim.
Ada Gojek.
Tetapi ketika Merah Putih dikibarkan, semuanya berada di bawah satu warna.
Maxim Pilih Pantai
Aliansi Driver Maxim Makassar punya cara berbeda.
Mereka bergerak menuju Pantai Tanjung Bayang.
Tetapi bukan untuk sekadar menikmati pantai.
Para driver justru membawa misi sosial.
Mereka melakukan bakti sosial membersihkan sampah di kawasan pesisir.
Sampah yang berserakan dikumpulkan.
Pesisir dibersihkan.
Bagi mereka, merayakan kemerdekaan juga berarti menjaga tempat yang menjadi bagian dari kehidupan warga Makassar.
Pantai bukan hanya tempat wisata.
Ia juga ruang publik yang harus dirawat bersama.
Gojek Datang Membawa Sembako
Ada aksi lain yang mungkin paling menyentuh.
Driver Gojek Makassar melakukan konvoi sambil membawa bendera Merah Putih.
Mereka kemudian memberikan penghormatan di Monumen Mandala.
Setelah itu, mereka menuju Jalan Kandea 3, Kecamatan Bontoala.
Bukan untuk berpesta.
Melainkan membawa paket sembako untuk warga korban kebakaran.
Di tempat itu, kemerdekaan memiliki wajah yang berbeda.
Ada warga yang mungkin belum pulih dari kehilangan akibat musibah.
Ada rumah yang tidak lagi utuh.
Dan ada kebutuhan sehari-hari yang tetap harus dipenuhi.
Para driver datang membawa bantuan.
Tidak banyak bicara.
Tidak perlu panggung besar.
Sembako diserahkan kepada warga yang membutuhkan.
“Pejuang Aspal” Ikut Mengisi Kemerdekaan
Salah satu koordinator lapangan menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian para “pejuang aspal”.
“Kami ingin menunjukkan bahwa komunitas ojol tidak hanya bekerja, tapi juga peduli terhadap sesama dan lingkungan,” ujarnya.
Kalimat itu terasa pas.
Sebab pengemudi ojol adalah kelompok yang hampir setiap hari berada di jalan.
Mereka melihat kota dari jarak paling dekat.
Melihat kemacetan.
Melihat pedagang.
Melihat warga yang kesulitan.
Melihat lingkungan yang kotor.
Dan kali ini, mereka memilih tidak hanya melihat.
Mereka ikut turun tangan.
Merah Putih Tidak Berhenti di Tiang Bendera
Ada banyak cara merayakan kemerdekaan.
Mengikuti upacara.
Memasang bendera.
Menggelar lomba.
Konvoi.
Tetapi para ojol Makassar menunjukkan satu cara lain.
Membersihkan pantai.
Membantu korban kebakaran.
Menguatkan persaudaraan.
Mungkin itulah makna kemerdekaan yang paling sederhana.
Bukan hanya tentang bagaimana kita menikmati kebebasan.
Tetapi tentang apa yang kita lakukan kepada orang lain ketika kita memiliki kesempatan untuk membantu.
Pada 17 Agustus 2026, ribuan ojol Makassar turun ke jalan.
Mereka tetap mengendarai motor.
Tetapi kali ini bukan sekadar mengejar order.
Mereka membawa Merah Putih, membawa kepedulian, dan membawa pesan bahwa kemerdekaan juga bisa dirayakan dengan membantu sesama. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
