Sidrap, Katasulsel.com β Kebakaran hutan di Gunung Nona, Enrekang, seharusnya menjadi alarm bagi daerah tetangganya.
Terutama Sidrap dan Pinrang.
Awalnya, luas kebakaran di kawasan Gunung Nona hanya diperkirakan sekitar 10 are. Namun setelah dilakukan pengukuran menggunakan aplikasi pemetaan oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Mata Allo, fakta sebenarnya jauh lebih mengejutkan.
Luas lahan yang terbakar mencapai 10 hektare.
Bukan naik dua kali lipat.
Bukan sepuluh kali lipat.
Tetapi sekitar 100 kali lebih besar dari perkiraan awal.
Peristiwa itu memberikan pelajaran penting. Kebakaran hutan sering kali terlihat kecil dari kejauhan, tetapi ketika api benar-benar merambat di kawasan hutan, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.
Dan saat ini, kondisi cuaca di Sulawesi Selatan sedang memasuki musim kemarau.
Sidrap dan Pinrang Tidak Kebal Karhutla
Banyak orang mungkin menganggap kebakaran hutan hanya ancaman bagi daerah pegunungan seperti Enrekang.
Padahal, Sidrap dan Pinrang juga memiliki kawasan hutan, perbukitan, semak belukar kering, hingga lahan perkebunan yang berpotensi terbakar saat kemarau panjang.
Di Sidrap terdapat kawasan hutan dan pegunungan yang membentang di wilayah Pitu Riase, Pitu Riawa hingga kawasan perbatasan Soppeng dan Enrekang.
Sementara Pinrang memiliki kawasan hutan yang cukup luas di wilayah Lembang, Batulappa, Cempa hingga daerah perbatasan Tana Toraja dan Enrekang.
Ketika vegetasi mulai mengering akibat kemarau, satu puntung rokok, pembakaran lahan, atau kelalaian kecil bisa berubah menjadi bencana besar.
Kasus Gunung Nona membuktikan hal itu.
Api diduga berawal dari aktivitas masyarakat di sekitar kawasan kaki gunung.
Lalu merambat.
Kemudian membakar pohon pinus dan vegetasi lainnya.
Jangan Hanya Imbauan
Yang perlu menjadi perhatian adalah langkah antisipasi.
Tidak cukup jika aparat hanya mengeluarkan imbauan melalui media sosial atau spanduk.
Polres Sidrap, Polres Pinrang, Kodim 1420 Sidrap dan Kodim 1404 Pinrang harus mengambil langkah yang lebih nyata dan terukur.
Misalnya:
- Memetakan kawasan rawan kebakaran selama musim kemarau.
- Meningkatkan patroli terpadu TNI-Polri di titik rawan.
- Membentuk posko siaga karhutla di wilayah pegunungan dan hutan.
- Mengaktifkan deteksi dini berbasis masyarakat desa.
- Memastikan sumber air dan peralatan pemadaman tersedia di daerah rawan.
- Melakukan edukasi langsung kepada petani dan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Sebab ketika api sudah membesar, biaya dan tenaga untuk memadamkannya jauh lebih besar dibanding mencegahnya sejak awal.
Belajar dari Gunung Nona
Ada satu fakta menarik dari kasus Enrekang.
Awalnya hanya disebut 10 are.
Setelah dilakukan pengukuran yang lebih akurat, ternyata mencapai 10 hektare.
Artinya, kerusakan yang terlihat kecil bisa saja jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Kebakaran BPBD Enrekang, Amiruddin, mengakui data terbaru diperoleh setelah dilakukan pemetaan menggunakan aplikasi dan alat ukur yang lebih akurat.
Kawasan yang terbakar bahkan mencapai sekitar 100.000 meter persegi.
Sebagian besar merupakan kawasan hutan dan tanaman pinus.
Kini, pemerintah harus memikirkan proses penghijauan kembali yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Jangan Menunggu Judul yang Sama Muncul di Sidrap dan Pinrang
Hari ini judulnya masih tentang Enrekang.
Besok, tidak ada yang bisa menjamin judul serupa tidak muncul dari Sidrap atau Pinrang jika langkah pencegahan tidak diperkuat.
Kemarau belum berakhir.
Vegetasi semakin kering.
Angin masih berembus.
Risiko tetap ada.
Karena itu, peristiwa Gunung Nona seharusnya tidak hanya menjadi berita bagi warga Enrekang.
Ia harus menjadi peringatan dini bagi seluruh daerah yang memiliki kawasan hutan dan pegunungan, termasuk Sidrap dan Pinrang.
Sebab dalam urusan kebakaran hutan, tindakan terbaik bukanlah memadamkan api.
Melainkan memastikan api itu tidak pernah sempat membesar.
Dan pekerjaan itu harus dimulai sekarang, sebelum asap pertama terlihat dari lereng-lereng hutan di Sidrap dan Pinrang. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
