Sidrap, Katasulsel.com – Sebuah peta biasanya hanya menunjukkan garis, nama, dan batas wilayah. Namun, ketika peta Kabupaten Sidenreng Rappang dibaca lebih dekat, garis-garis itu membawa kita pada bentang yang tidak seragam.

Ada dataran rendah yang luas. Ada wilayah yang menanjak hingga ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Ada sawah, perkebunan, permukiman, sungai, palhingga kawasan yang berbatasan dengan pegunungan.

Semua berada dalam satu kabupaten bernama Sidrap.

Secara administratif, Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki luas 1.883,23 kilometer persegi. Wilayahnya terbagi menjadi 11 kecamatan dan 106 desa/kelurahan, terdiri atas 68 kelurahan dan 38 desa.

Sidrap berada di bagian utara Sulawesi Selatan. Wilayahnya berbatasan dengan Enrekang dan Pinrang di sebelah utara, Luwu dan Wajo di sebelah timur, Barru dan Soppeng di sebelah selatan, serta Parepare dan Pinrang di sebelah barat.

Jika angka luas itu dibentangkan ke dalam peta, perbedaannya mulai terlihat.

Pitu Riase menjadi kecamatan dengan wilayah paling luas, mencapai sekitar 844,77 kilometer persegi. Luasnya jauh dibandingkan Panca Rijang yang hanya sekitar 34,02 kilometer persegi.

Jarak antara keduanya bukan sekadar angka administratif.

Topografinya pun berbeda.

Pemerintah Kabupaten Sidrap mencatat wilayah dengan kemiringan 0–2 persen mencapai sekitar 42,80 persen dari luas kabupaten atau sekitar 80.611 hektare. Kawasan relatif datar tersebut tersebar di seluruh kecamatan dan antara lain dimanfaatkan untuk sawah, perkebunan rakyat, kolam, serta permukiman.

Sementara itu, wilayah dengan kemiringan lebih dari 40 persen mencapai sekitar 34,31 persen atau sekitar 64.614 hektare. Pitu Riase memiliki bagian terbesar dalam kategori ini.

Perbedaan itu membuat wajah Sidrap berubah ketika seseorang bergerak dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

Pitu Riase berada di sisi yang berbeda dari Maritengngae, Panca Rijang, dan Baranti. Jika tiga kecamatan tersebut tercatat sebagai dataran dengan ketinggian rata-rata sekitar 0–25 meter di atas permukaan laut, Pitu Riase berada pada ketinggian rata-rata sekitar 1.000 meter.

Di antara dataran dan wilayah yang lebih tinggi itu, kehidupan bergerak mengikuti ruang yang tersedia.

Dan salah satu aktivitas yang paling mudah ditemukan adalah pertanian.

Sidrap dan hamparan padi

Nama Sidrap sulit dilepaskan dari sawah.

Pemerintah Kabupaten Sidrap menyebut daerah ini sebagai salah satu sentra pertanian Sulawesi Selatan sekaligus penyangga pangan nasional.

Data sementara 2025 yang dipublikasikan Pemkab mencatat luas panen padi mencapai 95.362 hektare. Produksinya mencapai 556.362 ton, angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir menurut catatan pemerintah daerah. Produksi gabah kering giling Sidrap pada 2025 juga disebut berada di peringkat keempat tertinggi dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Tetapi sawah tidak hanya membutuhkan lahan.

Ia membutuhkan air.

Persoalan itu membuat kondisi ruang dan pertanian Sidrap saling berhubungan. Dalam pembaruan data 2024/2025, Pemkab mencatat luas baku sawah berdasarkan data statistik sekitar 50.227 hektare, terdiri atas sekitar 38.000 hektare sawah irigasi dan sekitar 12.000 hektare sawah tadah hujan.

Setelah pengecekan lapangan, pemerintah daerah menemukan luas sawah tadah hujan yang lebih besar. Hasil survei investigasi desain oleh tim ahli Unhas bahkan menunjukkan angka sekitar 21.000 hektare untuk sawah tadah hujan.

Perbedaan angka tersebut justru memperlihatkan satu persoalan penting: peta wilayah pertanian tidak selalu berhenti pada angka yang tercatat di atas kertas.

Di lapangan, penggunaan lahan dapat berubah.

Kebun dapat berubah menjadi sawah. Sawah dapat mengalami perubahan fungsi. Karena itu, pembaruan data menjadi bagian dari pekerjaan pemerintah dalam merencanakan pengelolaan pertanian dan air.

Dari dataran rendah ke wilayah tinggi

Peta Sidrap menjadi semakin menarik ketika pertanian tidak lagi menjadi satu-satunya cara membaca wilayah.

Di kawasan yang lebih tinggi, bentuk lahannya berubah. Kemiringan tanah meningkat. Perkebunan dan kawasan hutan mulai mengambil ruang.

Pemerintah Kabupaten Sidrap mencatat wilayah dengan kemiringan 15–40 persen mencapai sekitar 31.414 hektare. Pitu Riase memiliki bagian terbesar dalam kategori tersebut.

Untuk lereng di atas 40 persen, Pitu Riase kembali menjadi wilayah dengan luasan terbesar, sekitar 50.811 hektare.

Jadi, ketika Sidrap disebut sebagai daerah pertanian, peta menunjukkan cerita yang lebih panjang.

Ada sawah di dataran yang relatif landai.

Ada perkebunan di kawasan yang lebih miring.

Ada wilayah yang lebih tinggi.

Ada pula kawasan permukiman yang berkembang di antara ruang-ruang tersebut.

Semua tidak berdiri sendiri.

Garis batas yang mempertemukan banyak wilayah

Posisi Sidrap juga membuat kabupaten ini bersentuhan dengan banyak daerah.

Ke utara, perjalanan membawa kita menuju Pinrang dan Enrekang.

Ke timur, wilayah Sidrap bertemu Wajo dan Luwu.

Ke selatan, batasnya bersinggungan dengan Soppeng dan Barru.

Sementara sisi barat mengarah ke Parepare dan Pinrang.

Batas administratif itu sekaligus menunjukkan posisi Sidrap dalam jaringan wilayah Sulawesi Selatan.

Hasil pertanian tidak berhenti di sawah. Komoditas bergerak menuju tempat pengumpulan, pasar, dan wilayah konsumen. Orang juga bergerak mengikuti pusat pendidikan, perdagangan, pelayanan, dan pekerjaan.

Karena itu, sebuah kabupaten tidak pernah hanya terdiri atas apa yang berada di dalam garis batasnya.

Ia juga dipengaruhi oleh hubungan dengan wilayah di sekitarnya.

Ketika peta bertemu manusia

Pada akhirnya, ukuran wilayah tidak akan banyak berarti tanpa orang yang mengisinya.

Sidrap memiliki 11 kecamatan dengan karakter ruang yang berbeda. Ada kecamatan yang luas dan memiliki wilayah dengan topografi tinggi. Ada kecamatan yang jauh lebih kecil dan berada di dataran rendah.

Pusat aktivitas penduduk juga tidak tersebar dengan pola yang sama.

Maritengngae, misalnya, berada di kawasan dataran rendah. Panca Rijang dan Baranti juga memiliki karakter wilayah yang relatif landai. Sementara Pitu Riase membawa bentang Sidrap ke kawasan yang jauh lebih luas dan tinggi.

Perbedaan itu membuat perjalanan dari satu kecamatan ke kecamatan lain bukan sekadar berpindah alamat.

Lanskap ikut berubah.

Jalan yang melewati kawasan pertanian membawa pemandangan berbeda dari jalan yang masuk ke wilayah berbukit. Rumah-rumah tidak selalu berdiri dalam kepadatan yang sama. Lahan yang digunakan untuk sawah tidak selalu berdampingan dengan jenis penggunaan lahan yang sama.

Peta akhirnya menjadi semacam pintu masuk untuk membaca semua itu.

Ia menunjukkan bahwa Sidrap tidak hanya terdiri atas satu wajah.

Ada Sidrap yang dikenal melalui beras.

Ada Sidrap yang dibaca melalui pertanian.

Ada Sidrap yang terbentang di dataran rendah.

Ada pula Sidrap yang naik menuju wilayah tinggi di Pitu Riase.

Di antara semuanya, jalan menjadi penghubung.

Air menjadi bagian dari pertanian.

Lahan menjadi ruang produksi.

Pasar menjadi tempat komoditas bergerak.

Dan manusia menjadi pihak yang membuat seluruh ruang tersebut terus digunakan.

Bahkan ketika data statistik berubah, garis batas kabupaten tetap berada pada tempatnya. Yang bergerak adalah isi di dalamnya: luas panen, produksi, jumlah penduduk, penggunaan lahan, jalan, rumah, dan kegiatan ekonomi.

Itulah mengapa membaca Sidrap melalui peta tidak cukup dengan menghafal nama 11 kecamatan.

Peta memberikan garis besarnya.

Lapangan memberikan ceritanya.

Di atas kertas, Sidrap tampak sebagai kumpulan garis yang membatasi 1.883,23 kilometer persegi. Setelah garis itu dibuka lebih jauh, ada sawah yang menunggu panen, air yang dicari, jalan yang dilalui, dan wilayah tinggi yang terus menyisakan ruang untuk dibaca.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini