Sidrap, Katasulsel.com — Awalnya hanya soal langit.

Pasukan Batalyon Infanteri 431 datang ke Kanyuara, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), untuk berlatih terjun payung.

Mereka membutuhkan ruang udara. Membutuhkan drop zone yang luas. Membutuhkan medan yang aman untuk penerjunan. Dan tentu saja, membutuhkan wilayah yang masyarakatnya tidak keberatan tanahnya dijadikan arena latihan militer.

Semua itu ada di Kanyuara.

Tetapi rupanya ada bonus yang tidak masuk dalam peta latihan.

Sidrap membuat Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad Mayjen TNI Wulan Nur Yudhanto terkesan.

Bahkan bisa dibilang: takjub.

Bukan karena melihat prajuritnya sendiri mendarat dengan parasut.

Melainkan karena ketika turun dari urusan langit, sang jenderal justru melihat sesuatu yang jauh lebih membumi: sawah Sidrap.

Kamis, 10 September 2026, di sela kegiatan latihan terjun payung, Mayjen Wulan ikut menyaksikan panen raya bersama Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif.

Dari situ muncul cerita yang menarik.

Tentang El Nino.

Tentang cuaca ekstrem.

Dan tentang bagaimana Sidrap ternyata tidak gampang menyerah kepada musim.

“Sidrap ini memiliki kemampuan dan ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi perkembangan situasi, khususnya cuaca ekstrem,” kata Mayjen Wulan.

Kemudian keluar angka yang membuat kalimat itu terasa lebih berbobot.

“Kalau di wilayah lain pada musim El Nino hanya sekitar 5 sampai 6 ton per hektare, di Sidrap bisa sampai 11 ton per hektare,” lanjutnya.

Sebelas ton.

Bukan sebelas kilogram.

Angka itu yang membuat kedatangan pasukan Kostrad ke Sidrap terasa punya cerita lain.

Mereka datang untuk menguji kemampuan prajurit menghadapi berbagai kondisi medan.

Tetapi Sidrap seperti sedang menunjukkan bahwa petaninya juga punya “latihan tempur” sendiri.

Musuhnya bukan pasukan lawan.

Musuhnya cuaca.

Musuhnya kekeringan.

Musuhnya perubahan musim.

Dan medan tempurnya adalah sawah.

Di dunia militer, kesiapsiagaan berarti kemampuan menghadapi situasi yang berubah.

Cuaca berubah, taktik berubah.

Medan berubah, strategi ikut berubah.

Tetapi tujuan tetap satu: misi harus berhasil.

Di sawah Sidrap, prinsip itu seperti berlaku dengan bahasa yang berbeda.

Musim boleh berubah.

El Nino boleh datang.

Tetapi produksi pangan harus tetap jalan.

Dan hasilnya, menurut pengamatan Pangdivif 3 Kostrad, bisa mencapai 11 ton per hektare.

Mungkin karena itulah Sidrap kemudian tidak lagi sekadar dipandang sebagai lokasi latihan.

Ada sesuatu yang lebih menarik di sana.

Ketahanan.

“Yang paling penting, kami dapat diterima oleh pemerintah daerah dan masyarakat Sidrap,” kata Mayjen Wulan mengenai alasan dipilihnya Sidrap sebagai lokasi latihan.

Batalyon Infanteri 431 merupakan bagian dari Brigade Infanteri 3 jajaran Divisi Infanteri 3 Kostrad.

Satuan ini harus memiliki kemampuan untuk sewaktu-waktu diterjunkan ke berbagai wilayah Indonesia.

Karena itu, latihan penerjunan bukan perkara bermain-main dengan parasut.

Ada prosedur.

Ada titik penerjunan atau drop zone.

Ada pengaturan ketinggian dan lintasan.

Ada exit pesawat.

Ada pembukaan kanopi.

Ada navigasi udara.

Ada landing point.

Dan ada pula disiplin setelah kaki menyentuh tanah.

Sekitar 200 personel terlibat dalam kegiatan tersebut. Jika seluruh unsur pendukung dihitung, jumlahnya sekitar 250 orang.

Namun yang menarik, latihan militer itu tidak terasa seperti kegiatan yang berjarak dengan rakyat.

Masyarakat justru datang berbondong-bondong.

Mereka menatap ke langit ketika penerjun keluar dari pesawat.

Parasut mengembang.

Prajurit turun.

Lalu kaki-kaki mereka menyentuh bumi Kanyuara.

Di bawah sana, suasananya justru seperti pesta rakyat.

Bupati Syaharuddin Alrif hadir.

Wakil Bupati hadir.

Sekda hadir.

Dandim hadir.

Kapolres hadir.

Unsur Forkopimda lainnya ikut menyaksikan.

Dan masyarakat memenuhi lokasi.

Ada pula bakti sosial berupa pembagian sembako kepada warga.

Jadi hari itu ada sesuatu yang cukup unik.

Pasukan Kostrad turun dari langit.

Sembako turun ke tangan masyarakat.

Sementara hasil panen naik dari sawah.

Tiga arah.

Langit, rakyat dan bumi.

Semuanya bertemu di Kanyuara.

Dan di tengah kegiatan itu, Sidrap seperti sedang memperlihatkan wajahnya sendiri kepada seorang jenderal.

Bahwa daerah ini bukan hanya luas untuk dijadikan drop zone.

Bukan hanya aman untuk latihan.

Bukan hanya ramah kepada prajurit.

Tetapi juga punya ketahanan pangan yang membuat orang luar ikut mengangkat alis.

Sebab angka 11 ton per hektare pada musim yang tidak mudah bukan angka yang bisa dilewati begitu saja.

Pangdivif 3 Kostrad mungkin datang untuk melihat apakah Sidrap layak menjadi medan latihan pasukannya.

Tetapi setelah melihat panen, bisa jadi justru Sidrap yang sedang mengajari sesuatu.

Bahwa ketahanan tidak selalu memakai seragam.

Tidak selalu membawa senjata.

Tidak selalu turun dari pesawat dengan parasut.

Kadang ketahanan itu memakai caping, berdiri di tengah sawah dan tetap menanam ketika cuaca sedang tidak bersahabat.

Itulah Sidrap.

Pasukan Kostrad menguji kesiapan dari udara.

Petani Sidrap menguji ketahanan dari tanah.

Dan Kamis itu, keduanya bertemu.

Di Kanyuara.

Pangdivif datang mencari medan latihan.

Tetapi yang ditemukan justru sebuah daerah yang, dalam istilah paling sederhana, ternyata tidak gampang dikalahkan oleh El Nino. (*)

Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)