Namun jika berbicara tentang identitas ekonomi Wajo, maka tenun sutra Sengkang tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tersebut. Selama puluhan tahun, Sengkang dikenal sebagai Kota Sutra. Kain sutra hasil tenunan masyarakat Wajo telah menembus pasar nasional bahkan internasional. Industri ini tidak hanya menjaga warisan budaya Bugis, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi ribuan pelaku usaha mikro dan perajin lokal.
Di banyak rumah warga, alat tenun bukan mesin masih digunakan untuk menghasilkan kain berkualitas tinggi dengan motif khas Bugis. Aktivitas ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat dan menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang terus bertahan di tengah perkembangan industri modern.
Potensi lain yang mulai berkembang adalah sektor pariwisata. Danau Tempe menawarkan panorama alam yang unik, terutama tradisi rumah terapung dan aktivitas nelayan yang menjadi daya tarik wisata budaya. Selain itu, berbagai potensi wisata sejarah dan budaya Bugis juga membuka peluang bagi pengembangan ekonomi berbasis pariwisata.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah juga terus mendorong peningkatan investasi di sektor perdagangan, UMKM, pertanian modern, hingga pengolahan hasil perikanan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal sehingga tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Dengan kombinasi sumber daya alam yang melimpah, tradisi kewirausahaan masyarakat Bugis, serta potensi industri kreatif dan pariwisata yang terus berkembang, Kabupaten Wajo memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Selatan.
Di balik julukan Kota Sutra dan pesona Danau Tempe, Wajo sesungguhnya menyimpan kekuatan ekonomi yang lahir dari perpaduan antara tradisi, kerja keras, dan kemampuan masyarakatnya beradaptasi dengan perubahan zaman. (*)
