Surabaya, Katasulsel.com β Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat diplomasi keagamaan melalui penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Komitmen tersebut mengemuka dalam rangkaian Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang digelar di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8), sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring kepemimpinan imam, membangun harmoni, dan menghadirkan pesan perdamaian Indonesia di tingkat global.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 20.000 jamaah dalam Istighatsah dan Tabligh Akbar serta 500 peserta Seminar Nasional bertema Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace. Forum ini mempertemukan ulama, imam masjid, akademisi, pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan organisasi keagamaan untuk memperkuat kolaborasi menuju penyelenggaraan IGIC 2026 di Jakarta.
Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan Jawa Timur merupakan representasi kuat Islam Indonesia yang berhasil memadukan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Menurutnya, kekuatan ulama, pesantren, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi modal sosial yang mampu memperkuat kerukunan sekaligus menjadi contoh bagi dunia.
“Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat melalui ulama, pesantren, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat yang dapat menjadi kekuatan kerukunan nasional. Dari Jawa Timur kita ingin menunjukkan bahwa Islam yang kuat dapat berjalan bersama nasionalisme yang kuat dan kerukunan yang kuat,” ujar Nasaruddin Umar.
Menag menekankan bahwa masjid harus terus mengembangkan perannya sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan umat, pembinaan karakter, dan ruang lahirnya gagasan perdamaian. Karena itu, imam masjid dituntut memiliki kapasitas kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat persaudaraan lintas bangsa.
“Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia,” tegasnya.
Ketua Steering Committee IGIC 2026, Irjen Pol. Dr. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si., mengatakan rangkaian Road to IGIC yang telah digelar di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Banten, dan Jawa Timur merupakan proses konsolidasi nasional untuk memperkuat sinergi antara imam, ulama, akademisi, pemerintah, dan masyarakat sebelum forum internasional tersebut digelar di Jakarta.
Menurutnya, IGIC tidak hanya disiapkan sebagai forum pertemuan para imam besar dunia, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia melalui nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, dan kemanusiaan.
“Bridging to IGIC 2026 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum menyatukan kekuatan imam, ulama, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem perdamaian yang dapat menjadi inspirasi dunia,” ujar Sabilul Alif.
Ia menambahkan, panitia terus membangun komunikasi dengan imam besar, lembaga keagamaan, dan organisasi Islam dari sekitar 50 negara sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan IGIC 2026. Menurutnya, forum tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
Ketua Panitia IGIC 2026, H. Faried F. Saenong, Ph.D., mengatakan Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam merawat harmoni di tengah masyarakat yang majemuk. Pengalaman tersebut menjadi modal penting yang akan dibawa ke forum internasional sebagai kontribusi Indonesia dalam membangun perdamaian global.
“Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam membangun harmoni di tengah kemajemukan. Pengalaman inilah yang akan kita hadirkan sebagai kontribusi nyata bagi perdamaian global melalui IGIC 2026.”
Sementara itu, Koordinator Pelaksana IGIC 2026, H. Mas’ud Halimin, M.Ag., mengapresiasi antusiasme puluhan ribu jamaah yang memadati Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan semangat ukhuwah, persatuan, dan cinta damai tetap menjadi kekuatan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
“Kehadiran puluhan ribu jamaah dan ratusan peserta seminar menunjukkan bahwa semangat ukhuwah, persatuan, dan cinta damai hidup di tengah masyarakat. Ini menjadi energi besar menuju penyelenggaraan IGIC 2026 yang akan mempertemukan para imam dunia.”
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Istighatsah dan Tabligh Akbar yang dipimpin langsung Menteri Agama. Dari Surabaya, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada ajakan memakmurkan masjid. Forum ini menjadi penegasan bahwa masjid memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan umat, penguatan persatuan, dan diplomasi perdamaian. Melalui IGIC 2026, Indonesia berupaya menghadirkan pengalaman Islam yang moderat, inklusif, dan berakar pada semangat kebangsaan sebagai kontribusi nyata bagi terciptanya harmoni di tingkat global.
Kegiatan ini dihadiri Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Gubernur Jawa Timur Hj. Dr. (H.C.) Khofifah Indar Parawansa, M.Si., Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., Ketua Steering Committee IGIC 2026 Irjen Pol. Dr. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si., Ketua Panitia IGIC 2026 H. Faried F. Saenong, Ph.D., Koordinator Pelaksana H. Mas’ud Halimin, M.Ag., jajaran Kementerian Agama, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Jawa Timur, pimpinan organisasi keagamaan, rektor PTKIN se-Jawa Timur, imam masjid, ulama, akademisi, dan masyarakat dari berbagai daerah.
